Friday, December 4, 2015

Kisah Sri Dan Batara



Sri, aku masihlah lelaki yang sama. Lelaki yang akan mencintaimu sampai entah. Aku tak pernah tahu berapa sanggup aku bertahan sendirian. Yang aku yakini, kau juga tidak sedang bahagia. Meski, ini hanya kemungkinan dalam kepalaku saja. Namun, Sri. Hidup telah mempertemukan kita dalam hal-hal terdalam. Kamulah orang pertama yang mengenalkan aku hal-hal manis, sekaligus menggetirkan Sri. Teramat getir.

Aku sudah memperjuangkanmu sepenuh hatiku. Melakukan hal-hal yang bahkan aku sendiri tak pernah memikirkan mampu melakukan itu sebelumnya. Namun, Sri, kau kini menjelma perempuan penakut. Kau gamang, Sri. Terlalu takut akan kehidupan. Kini kau memilih mencampakkan aku begitu saja Sri. Kau katakan kepadaku, segeralah lupakan dirimu.

Andai kau tahu Sri. Bagiku, tak pernah mudah melepaskanmu. Untuk apa kau datang ke dalam hidupku, jika akhirnya kau sendiri yang membuat remuk jantungku. Untuk apa kau ajak aku berkelana terlalu jauh ke dalam dadamu, jika nyatanya kini kau membuatku tenggelam dan tak bisa mengenali diriku sendiri.

Aku paham siapa diriku Sri. Itulah mengapa dari Awal kukatakan kepadamu. Aku takut ditinggalkan. Kau katakan kepadaku, kau akan selalu bersama denganku. Namun kini kenyataannya kepergianmu yang kuterima. Apakah cintamu sedangkal itu Sri? Apakah kau tidak pernah menerima dirimu yang sudah menyatu bersama diriku. Setiap luka di tubuhmu Sri, adalag ulahku. Lelaki yang tak pernah mampu melepaskanmu. Jika nanti kau rasanya bagaimana rasanya tidak bahagia, harusnya kau tahu, aku teramat sangat tidak bahagia melepaskanmu.

Sri, hidup bagiku kini hanyalah usaha menerima kenyataan. Bahkan perempuan sepertimu ternyata datang untuk meninggalkan sebuah kekejaman. Kau teramat melukaiku Sri. Meski, aku tetap saja tak mampu untuk tidak mencintaimu.

Batara

Boy Candra | 3/12/2015

Saturday, November 28, 2015

Perjalanan Buku ‘Surat Kecil Untuk Ayah’





Sekitar dua tahun lalu, saya mengajak beberapa teman bercerita perihal ayah mereka. Bagi saya sendiri, ayah adalah satu sosok terpenting dalam hidup saya. Saya mendengarkan belasan teman menjabarkan bagaimana ayah mereka, atau bagaimana rasa sayang mereka kepada lelaki yang mereka panggil ayah itu.

Dari obrolan ringan itu, saya mulai menulis perihal-perihal yang mereka jabarkan. Tentu, sebelum bercerita, saya memang mengatakan kepada mereka, saya ingin menulis buku untuk ayah. Beberapa orang hanya ingin bercerita, tidak ingin kisahnya ditulis. Beberapa lagi malah tidak ingin nama mereka disebut. Tidak ada masalah dengan hal itu. Setiap orang punya rahasianya sendiri. Namun, saya senang, beberapa orang lainnya mengijinkan saya menulis kisah mereka.

Draf naskah buku ini sempat saya biarkan terpendam dua tahun lamanya. Saya tiba-tiba tidak yakin ingin menjadikannya buku. Entah takdir atau ini memang bagian rencana dari semesta. Tiba-tiba hari itu, salah satu editor penerbit bukune mengontak saya via WA, namanya bang Edo. Saya pernah mengajukan satu naskah novel fiksi kepada beliau, namun ditolak setelah berbulan menanti. Bang Edo meminta saya memperbaiki lagi naskah novel fiksi itu. Tapi belum saya selesaikan. Hari itu dia (bang Edo) meminta saya mengirimkan naskah buku tentang ayah yang saya tulis. Saya memang pernah menceritakan perihal naskah ini sebelumnya.

Saya akhirnya mengirimkan juga, berharap naskah ini memiliki nasib yang lebih beruntung dari novel fiksi yang pernah saya ajukan sebelumnya. Semesta berpihak kepada kami. Naskah buku tentang ayah ini diterima. Dengan syarat direvisi ulang. Saya pikir hanya sedikit yang direvisi. Nyatanya, Ya Tuhaaaan.... saya menghabiskan hampir dua bulan merevisi (Kalau diceritakan bagian ini, singkatnya: sejauh ini, ini buku yang paling banyak revisinya). Kini, berkat bantuan Bang Edo dan teman-teman di penerbit bukune, saya yakin untuk menghidangkan buku ini kepada teman-teman.

Ini tidak sepenuhnya kisah nyata memang. Sebagian saya ubah demi kepentingan tulisan. Saya hanya ingin mengatakan, cerita-cerita yang saya tulis di buku yang diberi judul 'Surat Kecil Untuk Ayah' ini sebagian besar berangkat dari kisah teman-teman saya, -atau beberapa dari kisah saya sendiri.

Satu hal yang pasti. Saya percaya, bagi seorang anak, ayah tetaplah hal yang penting. Meski beberapa orang mungkin saja memiliki kisah yang tidak menyenangkan. Namun saya percaya, ada ikatan yang tak pernah bisa dilepaskan dari diri manusia dengan ayahnya. Ikatan itu disebut rindu. Itulah alasan yang membuat saya menulis buku ini. Saya selalu merindukan ayah saya, di mana pun saya berada, meski tak selalu saya sampaikan secara langsung.

Buku "Surat Kecil Untuk Ayah" direncanakan terbit dan edar sekitar bulan Desember 2015. Diterbitkan oleh penerbit Bukune. Sekaligus menjadi buku ketujuh saya. Ini adalah buku pertama yang lepas kendali dari rasa patah hati dan perihal jatuh cinta lainnya. Ini jatuh cinta dan patah hati yang berbeda.  

Selamat menanti Surat Kecil Untuk Ayah.



Salam,



Boy Candra





Friday, November 27, 2015

Hal-hal yang Membuatku Gagal Pergi dari Kota Ini





Kamu dan hal-hal yang pernah kita lalui adalah alasan bagiku untuk menetap di kota ini. Meski beberapa rencana seakan terancam sebagai kenangan belaka. Namun, hatiku tak pernah bisa kupungkiri. Aku tak pernah benar-benar bisa beranjak dari segala sesuatu perihal kamu. Segala hal yang pernah dengan kesungguhan kuimpikan. Sesuatu yang sampai saat ini masih kupertahankan. Masih kuperjuangkan.

Bagaimana mungkin aku bisa pergi, jika saja kamu masih menjadi seseorang yang tinggal di hati. Orang yang dengan segala kecemasan kubiarkan menetap di sana. Harapku pun masih sama. Bisa menatap matamu berlama-lama. Bisa menjagamu sepenuh jiwa. Dan tak ingin ke mana-mana saat kau lelah berkelana. Aku akan menemanimu bahkan dalam hal terburuk yang kau punya.

Jangan sedih jika semesta sedang mencoba membuat hatiku semakin patah. Aku mungkin tidak terlalu kuat untuk berdiri sendiri. Namun, percayalah, perasaan yang ada di hati akan menjagamu sampai nanti. Kamu akan tetap menjadi seseorang yang istimewa di sana. Yang akan kudekap dengan sedih dan bahagia. Sebab jatuh telah membuatku menjadi cinta. Sebab utuh pada hakikatnya bukan hanya mampu berpelukan semata. Jauh lebih dalam dari itu, saat kita tetap mampu menyatukan doa, meski tak tahu bagaimana akhirnya kisah kita.

Aku masih bertahan di kota ini. Menantimu untuk meneruskan rencana-rencana. Untuk melanjutkan segala hal yang dengan cinta pernah membuat kita bahagia. Jika pun suatu hari nanti aku akhirnya pergi, bukan berarti aku telah meninggalkanmu di sini. Kamu dan segala hal yang pernah menyatu bersama rinduku, akan tetap kubawa. Sejauh apa pun mengembara. Sebab. aku percaya, kau juga akan terus memperjuangkan kita. Bagaimana pun caranya.


Boy Candra | 27/11/2015



Tuesday, November 17, 2015

Masa Penjualan Khusus Edisi bertdd buku Satu Hari Di 2018




Halo teman-teman pembaca, kali ini saya mau mengabari info perihal pemesan buku kumcer romance terbaru saya, ‘Satu Hari Di 2018’ terbitan Media Kita.

“Sebab Akhirnya Aku Yang Harus Membuatmu Patah Hati.”



Perasaan itu tetap saja ada. Meski berkali-kali aku melupakannya. Berkali-kali lipat pula ia tumbuh. Apakah kau tidak pernah merasakan hal yang sama? Sementara dulu, seringkali kita tanpa disengaja sama-sama ingin menelepon, sama-sama ingin mengucapkan rindu yang sama. Apakah semudah itu bagi lelaki untuk melupakan? Apa kau tidak pernah tahu bahwa perempuan seringkali begitu sulit lepas dari kenangan. Lalu, sudah matikah hatimu pada janji-janji yang kau katakan padaku?
Buku “Satu Hari Di 2018” edisi khusus –bertanda tangan penulis- ini hanya tersedia 400 buku se Indonesia. Pastikan kamu menjadi pemilik salah satu di antaranya. Karena itu, usahakan menjadi pemesan pertama –sampai pada pemesan ke 400. Setelah itu, kamu akan mendapat buku edisi non ttd. Pemesanan buku ini dimulai tanggal 20 november 2015, pukul 00:00 Wib –hingga 30 november 2015. Dan hanya bisa dipesan di toko buku berikut:
1: @bukubukularis website: www.bukubukularis.com
2: @buku_plus website : www.buku-plus.com
3. @republikfiksi website: www.republikfiksi.com
4. @bukabuku website: www.bukabuku.com
5. @bukukita website: www.bukukita.com
Ingat, pastikan kamu menjadi pemesan pertama –hingga pemesan ke 400, untuk mendapatkan edisi khusus bertanda tangan penulis.

Selamat rebutan, semoga kebagian!

Catatan: buku ‘Satu Hari 2018’ diperkirakan edar di toko buku sekitar bulan desember 2015.

Salam,

Boy Candra