Sunday, March 20, 2016

Pertanyaan Seseorang Perihal Masalalunya



Seseorang bertanya kepada saya, perihal menikah, masalah dalam pernikahannya. Sejujurnya, saya selalu menghindari topik ini, karena saya belum menikah. Namun, kali ini saya ingin berpendapat, bukan tentang pernikahan namun tetap sebuah keputusan.

Singkat cerita, teman saya menikah dengan seseorang yang bukan kekasihnya, dia pernah punya kekasih empat tahun, lalu ditinggalkan dengan sebuah pengkhianatan, kekasihnya itu selingkuh dan lebih memilih lelaki lain. Kemudian, dia dijodohkan dan menikah dengan perempuan pilihan ibunya -sebab ibunya melihat anak lelakinya sudah seperti orang gila.

Pernikahan itu berlangsung baik, teman saya sesungguhnya senang memiliki istri pilihan ibunya, dia perempuan yang taat kepada suami, meski jika bicara secara fisik mantan kekasih teman saya memiliki kelebihan, dan masalahnya adalah teman saya susah melupakan mantannya.  Dia harus bersikap bagaimana?

Begini, dalam hidup kita akan ditemukan dengan hal-hal yang mungkin tidak pernah kita rencanakan. Namun, kita harus memilih menjalaninya. Jika hari ini kamu menjalani hidup dengan seseorang -meski awalnya tidak kamu cintai, meski awalnya hanyalah sebuah perjodohan, tapi pernikahan adalah hal yang sakral, urusan dengan Tuhan. Tidak ada tawar menawar dalam hal ini.

Artinya, saat kamu telah berada pada titik sebuah keputusan yang kamu pilih. Hal yang perlu kamu lakukan hanyalah menerima hari ini. Mungkin tidak melupakan masalalu dengan cara memaksa. Namun, yang harus disadari adalah kita hidup di hari ini, yang akan bertahan dengan kita adalah orang yang ada di samping kita hari ini. Seseorang yang telah menjadi masalalu sesungguhnya hanyalah kenangan yang telah berlalu.

Tak ada istimewanya seseorang di masalalu selain sebagai pembelajaran hidup.  Apalagi seseorang yang jelas-jelas mencampakanmu. Kamu hanya perlu bersyukur, akhirnya kamu menemukan seseorang yang bersyukur kamu miliki. Dia yang mungkin saja punya masa lalu lebih indah dengan seseorang, sebab berada di sampingmu, dia melupakan semuanya, karena dia tahu, kini kau adalah seseorang yang dititipkan Tuhan, dan dia percaya kau didatangkan dengan alasan yang baik, alasan yang membuatnya menyanyangimu. Harusnya kau juga seperti dia. Menerima dirimu hari ini, menerima bahwa masa lalu ternyata hanyalah bagian dari perjalanan hidup yang harus kau lalui.

Boy Candra | 20/03/2016

Thursday, February 4, 2016

Kita Adalah Orang-orang yang Tabah Merawat Impian



–kepada Icank, sahabatku. 

Akhirnya aku menulis surat ini untukmu. Beberapa pertemuan terus saja gagal. Terakhir kita bertemu -seingatku, sebelum kau pulang ke Subang. Tiga tahun lalu. Kemudian kita jarang sekali berkomunikasi. Hanya beberapa kali, melalui pesan pesbuk, dan BBM. Beberapa bulan lalu aku sedih tidak bisa hadir di acara pernikahanmu. Ah, untuk urusan ini kau memang luar biasa. Kau lelaki tangguh. Aku masih bisa mengingat dengan jelas, beberapa tahun sebelum kau menikah. Kau mengatakan kepadaku, bahwa dia (istrimu sekarang) adalah orang yang kau nikahi. Namun, kau harus sukses dulu. Dan kau merawat impian itu, ternyata.

Bahkan akhir tahun lalu saat kau mengabarkan hendak melamar dia, aku masih terkagum akan kegilaanmu. Kau benar-benar gila. Andai diijinkan, suatu hari nanti aku ingin menulis kisah cintamu. Tapi au tidak berjanji untuk hal ini. Karena banyak hal yang ternyata tak bisa kupenuhi kepadamu.

Darimu aku belajar banyak hal. Tentang bertahan hidup. Tentang kerja keras. Tentang impian, dan tentu yang lebih penting tentang menjaga dan mewujudkan impian itu. Aku mengaku kalah darimu untuk beberapa hal. Terutama untuk kegigihanmu memperjuangkan orang yang kau cintai. Kau benar-benar gila urusan jatuh cinta. Dan yang lebih mengagumkan, kau mampu menyembunyikan impian bertahun-tahun, lalu dengan tiba-tiba, mengejutkan banyak orang. 

O iya, aku ingin mengabarkan padamu. Kini, dari kabar yang aku dapat, teman satu kost kita yang lain sudah melalui fase hidup masing-masing. Deni sudah bekerja di salah satu bank, sesuai impiannya waktu itu. Nanda, juga sudah wisuda. Dan beberapa orang lagi sepertinya masih betah disebut mahasiswa. Semoga suatu hari nanti, kita punya kesempatan bercerita dan berbagi tawa lagi. Tentu, dengan bahasan yang berbeda. 

Sekarang, aku jadi penulis (kurasa begitu). Masih sama dengan apa yang kukatakan kepadamu empat tahun lalu. Hari ini aku rindu suasana-suasana seperti hari itu. Obrolan-obrolan penuh mimpi dan kemudian seolah berlalu. Tapi aku percaya, kita adalah orang-orang yang dengan tabah merawat segala hal yang kita cinta. Semoga saja, semesta selalu menjaga kamu dan keluarga kecilmu di sana. Kapan-kapan kalau aku punya kesempatan ke Subang, kau harus berbagi banyak cerita kepadaku.

Salam, sahabatmu.

Boy Candra | 04/02/2016



Tuesday, February 2, 2016

Kita Akan Tetap Tumbuh dengan Kesibukan Masing-masing




-kepada Ilfa Marta, sahabatku.

Barangkali kamu juga mengingat beberapa hal yang terlalu manis untuk dilupakan. Kurang dari tiga tahun lalu, misalnya. Kita masih menjadi dua orang anak lelaki yang sibuk dengan draf skripsi. Tak ada bahasan yang menarik selain perkara mengejar wisuda.

Waktu ternyata memiliki hal yang abadi untuk menghantarkan kita pada hidup masing-masing. Kini, Jakarta –kota yang dulu kujadikan tempat menyimpan mimpiku, justru menjadi 'rumahmu'. Sementara aku masih betah di kota kecil yang mulai tumbuh ini, atau memang tak begitu baik untuk tumbuh, barangkali.

Entahkan, dulu, di mataku, Jakarta adalah kota yang seksi untuk didatangi. Menetap dan menatap berbagai mimpi. Namun, nyatanya, aku tak seberani apa yang kukatakan tiga tahun lalu kepadamu. Aku masih betah di kota kecil yang jauh ini. Namun, tetap dengan banyak impian besar yang selalu kujaga. 

Bagiku, kamu tak hanya sekadar sahabat. Lebih dari itu, sebab aku tak punya saudara lelaki, kamu sudah kuanggap sebagai adik lelakiku. Itulah sebabnya, aku terkadang suka menasihati/juga mengadu, kepadamu, seperti mengadu kepada saudara lelakiku sendiri.

Ada beberapa hal yang tak pernah berubah di kota ini. Organisasi kampus kita misalnya, masih menjadi ruang yang menyenangkan untuk didatangi. Kamu tahu, dulu aku pernah patah hati oleh seseorang, yang pada akhirnya menjadi buku pertama yang kuterbitkan. (masih ingat patah hati terparah, dan kalau dikenang, betapa menyedihkannya aku waktu itu) haha! Akhirnya, barangkali benar, setelah patah hati, setelah semuanya terasa pulih lagi, kita akan bisa menertawakan diri sendiri. 

Kapan pulang ke Padang, IL? ah, aku tahu pertanyaan ini akan kau alihkan dengan kalimat lain. Namun, sebagai abang, aku tetaplah abang yang merindukanmu. Banyak hal yang ingin kudiskusikan denganmu. Seperti tiga tahun lalu, tetaplah menjadi sahabat, adik, yang penuh impian. Kita tahu, ternyata hidup tak semanis mimpi memang. Tapi, kita akan tetap boleh memiliki impian mencapai banyak hal. Pelan-pelan saja, tetaplah kejar semua impian yang pernah kamu punya.

Aku, mungkin tak sesemangat dulu untuk bekerja di Jakarta. Aku tak setangguh dirimu, menaklukan kemacetan ibukota. Namun, kamu sungguh tahu, aku masihlah sahabat yang sama, punya banyak impian besar, meski rentan merasa kalah dan kecil kemudian. Tetaplah menjadi sahabat yang mengingatkan, jika aku lupa, sebab, aku juga akan mengingatkan jika kamu lupa. Kita, akan tetap tumbuh dengan kesibukan masing-masing. Mari menikmati masa muda dengan bekerja dan jangan lupa jatuh cinta.

Omong-omong, bagaimana rasanya ldr-an Jakarta-Padang? nanti, kalau pulang, kamu harus mengenalkan perempuan beruntung itu kepadaku. :)

Boy Candra | 02/02/2016

Friday, December 4, 2015

Kisah Sri Dan Batara



Sri, aku masihlah lelaki yang sama. Lelaki yang akan mencintaimu sampai entah. Aku tak pernah tahu berapa sanggup aku bertahan sendirian. Yang aku yakini, kau juga tidak sedang bahagia. Meski, ini hanya kemungkinan dalam kepalaku saja. Namun, Sri. Hidup telah mempertemukan kita dalam hal-hal terdalam. Kamulah orang pertama yang mengenalkan aku hal-hal manis, sekaligus menggetirkan Sri. Teramat getir.

Aku sudah memperjuangkanmu sepenuh hatiku. Melakukan hal-hal yang bahkan aku sendiri tak pernah memikirkan mampu melakukan itu sebelumnya. Namun, Sri, kau kini menjelma perempuan penakut. Kau gamang, Sri. Terlalu takut akan kehidupan. Kini kau memilih mencampakkan aku begitu saja Sri. Kau katakan kepadaku, segeralah lupakan dirimu.

Andai kau tahu Sri. Bagiku, tak pernah mudah melepaskanmu. Untuk apa kau datang ke dalam hidupku, jika akhirnya kau sendiri yang membuat remuk jantungku. Untuk apa kau ajak aku berkelana terlalu jauh ke dalam dadamu, jika nyatanya kini kau membuatku tenggelam dan tak bisa mengenali diriku sendiri.

Aku paham siapa diriku Sri. Itulah mengapa dari Awal kukatakan kepadamu. Aku takut ditinggalkan. Kau katakan kepadaku, kau akan selalu bersama denganku. Namun kini kenyataannya kepergianmu yang kuterima. Apakah cintamu sedangkal itu Sri? Apakah kau tidak pernah menerima dirimu yang sudah menyatu bersama diriku. Setiap luka di tubuhmu Sri, adalag ulahku. Lelaki yang tak pernah mampu melepaskanmu. Jika nanti kau rasanya bagaimana rasanya tidak bahagia, harusnya kau tahu, aku teramat sangat tidak bahagia melepaskanmu.

Sri, hidup bagiku kini hanyalah usaha menerima kenyataan. Bahkan perempuan sepertimu ternyata datang untuk meninggalkan sebuah kekejaman. Kau teramat melukaiku Sri. Meski, aku tetap saja tak mampu untuk tidak mencintaimu.

Batara

Boy Candra | 3/12/2015

Saturday, November 28, 2015

Perjalanan Buku ‘Surat Kecil Untuk Ayah’





Sekitar dua tahun lalu, saya mengajak beberapa teman bercerita perihal ayah mereka. Bagi saya sendiri, ayah adalah satu sosok terpenting dalam hidup saya. Saya mendengarkan belasan teman menjabarkan bagaimana ayah mereka, atau bagaimana rasa sayang mereka kepada lelaki yang mereka panggil ayah itu.

Dari obrolan ringan itu, saya mulai menulis perihal-perihal yang mereka jabarkan. Tentu, sebelum bercerita, saya memang mengatakan kepada mereka, saya ingin menulis buku untuk ayah. Beberapa orang hanya ingin bercerita, tidak ingin kisahnya ditulis. Beberapa lagi malah tidak ingin nama mereka disebut. Tidak ada masalah dengan hal itu. Setiap orang punya rahasianya sendiri. Namun, saya senang, beberapa orang lainnya mengijinkan saya menulis kisah mereka.

Draf naskah buku ini sempat saya biarkan terpendam dua tahun lamanya. Saya tiba-tiba tidak yakin ingin menjadikannya buku. Entah takdir atau ini memang bagian rencana dari semesta. Tiba-tiba hari itu, salah satu editor penerbit bukune mengontak saya via WA, namanya bang Edo. Saya pernah mengajukan satu naskah novel fiksi kepada beliau, namun ditolak setelah berbulan menanti. Bang Edo meminta saya memperbaiki lagi naskah novel fiksi itu. Tapi belum saya selesaikan. Hari itu dia (bang Edo) meminta saya mengirimkan naskah buku tentang ayah yang saya tulis. Saya memang pernah menceritakan perihal naskah ini sebelumnya.

Saya akhirnya mengirimkan juga, berharap naskah ini memiliki nasib yang lebih beruntung dari novel fiksi yang pernah saya ajukan sebelumnya. Semesta berpihak kepada kami. Naskah buku tentang ayah ini diterima. Dengan syarat direvisi ulang. Saya pikir hanya sedikit yang direvisi. Nyatanya, Ya Tuhaaaan.... saya menghabiskan hampir dua bulan merevisi (Kalau diceritakan bagian ini, singkatnya: sejauh ini, ini buku yang paling banyak revisinya). Kini, berkat bantuan Bang Edo dan teman-teman di penerbit bukune, saya yakin untuk menghidangkan buku ini kepada teman-teman.

Ini tidak sepenuhnya kisah nyata memang. Sebagian saya ubah demi kepentingan tulisan. Saya hanya ingin mengatakan, cerita-cerita yang saya tulis di buku yang diberi judul 'Surat Kecil Untuk Ayah' ini sebagian besar berangkat dari kisah teman-teman saya, -atau beberapa dari kisah saya sendiri.

Satu hal yang pasti. Saya percaya, bagi seorang anak, ayah tetaplah hal yang penting. Meski beberapa orang mungkin saja memiliki kisah yang tidak menyenangkan. Namun saya percaya, ada ikatan yang tak pernah bisa dilepaskan dari diri manusia dengan ayahnya. Ikatan itu disebut rindu. Itulah alasan yang membuat saya menulis buku ini. Saya selalu merindukan ayah saya, di mana pun saya berada, meski tak selalu saya sampaikan secara langsung.

Buku "Surat Kecil Untuk Ayah" direncanakan terbit dan edar sekitar bulan Desember 2015. Diterbitkan oleh penerbit Bukune. Sekaligus menjadi buku ketujuh saya. Ini adalah buku pertama yang lepas kendali dari rasa patah hati dan perihal jatuh cinta lainnya. Ini jatuh cinta dan patah hati yang berbeda.  

Selamat menanti Surat Kecil Untuk Ayah.



Salam,



Boy Candra