Wednesday, August 20, 2014

Buku Setelah Hujan Reda

Saya deg-degan! Seperti buku sebelumnya,  Origami Hati.  Bagi saya, menerbitkan buku baru  rasanya seperti ciuman pertama. Ini adalah buku kedua, sekaligus kumpulan cerita pertama saya. Ada banyak cinta yang saya tanam di buku ini. Begitu pun rasa sakit yang seolah tak bisa lepas dari apa yang saya tulis. Tak banyak yang ingin saya sampaikan, selain saya ingin buku setelah hujan reda ini sampai segera ke tangan kalian. Agar cinta terasa teduh, agar hati kembali utuh. 
Sinopsis:
Hujan pernah merebut seseorang dariku. Ia merampas kebahagiaan yang tumbuh di dadaku. Ia memaksa aku menjadi sendiri.
Hujan juga pernah membuat janji kepadaku. Ia tak akan jatuh lagi di mataku. Tapi ia berdusta, ia meninggalkan aku tanpa permisi.
Saat aku merasa hujan hanya datang untuk menyakiti, kamu hadir. Mengajarkan aku bahwa Tuhan tak menciptakan hujan untuk bersedih, tapi Ia menyiapkan hujan untuk merasa kita pulih.
Aku sadar, terkadang orang yang kita cintai diciptakan Tuhan bukan untuk dimiliki, tapi aku ingin Tuhan menciptakanmu untuk memilikiku.



Judul      : Setelah Hujan Reda
Penulis   : Boy Candra
Penerbit  : Penerbit mediakita 
Terbit      : 8 September 2014

 Selamat berburu hujan!

Salam, 

Boy Candra. 

Monday, August 18, 2014

Bukan denganmu saja aku bisa bahagia.



Di senja yang membawamu pergi; aku pernah menitipkan doa pada angin, agar kau tak pernah tahu jalan pulang. Genggamlah dia yang kau anggap pemenang. Biar kubasuh luka agar tak kau buat berulang. Bagiku pilihanmu adalah hal terberat. Meski aku tidak bisa melarang apa pun. Dia yang kau puja memang sudah sebaiknya kau jaga. Biarlah aku yang memilih melupa, menghapusmu bersama luka-luka.

Pada saat itu kau adalah orang yang kucintai sepenuh hati. Namun pada sesuatu yang bernama pergi kau menyerahkan takdirku. Kau lupakan, kau lukakan aku. Hingga aku harus menyadari kau tak sepenuhnya pantas dicintai. Barangkali kau memang bukan takdir yang kucari.

Ada saatnya kau harus tahu. Bukan denganmu saja hidup bisa bahagia. Kelak akan ada angin-angin mesra yang memelukku dengan tubuh lain. Yang membuatku lupa, kau pernah kucintai sedalam ini. Percayalah, lukamu tak sepedih itu. Percayalah masih ada pelukan yang melupakan kesakitan yang kau derakan. Karena Tuhan tak pernah sia-sia dalam menciptakan rasa pada dada manusia.

Kita pernah sama-sama ingin berpetualang dalam rindu. Namun kehilangan merebutmu dariku. Dalam sisa-sisa sendu. Aku menaruh harap. Bukan untuk memintamu kembali. Tak lain agar kau tidak mengingatkan luka. Karena sungguh, aku pun ingin mencintai manusia lain. Melebihi cinta yang pernah kuberi kepadamu. Agar apa yang pernah kau buat luka segera dapat kubuat lupa.


Boy Candra | 18/08/2014

Monday, August 11, 2014

Kita harus percaya.



Aku hanya ingin memercayaimu sepenuhnya, karena menjalani cinta meragu itu memilukan. Aku tidak ingin kita begitu. Untuk apa kita tetap bersikeras bersama kalau nyatanya kita masih saling meragukan apa yang kita rasakan. Sebab itu, aku memilih percaya kepadamu sepenuhnya, karena hatiku pun sudah memilih menetap hanya di kamu seutuhnya.

Kita adalah sepasang sayap yang berusaha terbang tinggi. Mengalahkan angin-angin yang bisa saja menjauhkan kita kapan pun dari semua yang kita ingin. Dan kita harus tetap saling menguatkan untuk melewati semua itu. Saat kau lemah, akulah yang akan selalu memapahmu. Saat aku kelelahan, percayamulah yang akan selalu menguatkanku. Kita harus tetap percaya, ada kebahagiaan yang sama-sama kita inginkan. Karena itu kita akan tetap terbang bersama, menghadapi apa saja yang akan menghadang kita.

Bukankah kita tahu; bahwa cinta-cinta dijatuhkan Tuhan di dada kita hanya untuk membuat kita saling setia dan menjaga. Karena itulah percaya sepenuhnya itu memang selayaknya kita pegang. Agar rindu-rindu tak hilang, agar resah-resah tidak membuat kita merasa bimbang. Agar dua hati yang ada di dadamu dan dadaku tetap merasa tenang.

Apa pun itu akan bisa kita lewati. Saat kita tidak mengingkari apa yang telah kita sepakati. Mungkin akan ada batu-batu terjal yang akan kita harus langkahi. Namun tanganku diciptakan untuk menggenggam tanganmu. Matamu diciptakan untuk melihat betapa aku mencintaimu, pun sebaliknya. Bahkan saat batu-batu terjal melukai kaki kita, kita harus tetap melangkah. Karena kita akan selalu percaya; kita diciptakan untuk selalu bersama. Bukan untuk dikalahkan oleh ragu, tapi untuk memperjuangkan apa yang membuat kita merindu.

Kau percaya aku milikmu, aku percaya kau untukku.



Boy Candra | 11/08/2014

Thursday, August 7, 2014

Cinta adalah kesempatan



Barangkali memang benar begitu. Kita hanyalah luka-luka di masa silam yang tengah mencoba mencari cara untuk lupa dalam diam. Kau yang pernah memuja dan memuji rindu kini tak lebih hanya kenangan yang larut dan ku biarkan berlalu. Bukan karena cinta dilukai lantas benci merajai, tapi karena memang sudah semestinya yang pergi dilepaskan sepenuh hati. Bagiku, kau hanyalah kenangan yang tak lagi ku harapkan pulang.

Sudah semestinya kita berkemas. Meninggalkan taman-taman yang selalu datang saat senja, bersama kenangan dia memeluk manja. Semua yang indah dulu, hanyalah kisah yang pernah ada. Hari ini dia sudah tak bernyawa. Aku tidak ingin menyalahkanmu perihal ini. Mungkin akulah yang salah kenapa semuanya berakhir patah. Namun, sudahlah. Jangan kau ungkit lagi rasa-rasa yang tak mungkin bangkit kembali.

Carilah rindu-rindu yang lain. Jika pun katamu akulah yang kau butuhkan. Namun pada nyatanya saat aku selalu ada, kau selalu merapuhkan. Inginmu yang selalu tinggi, pintamu yang selalu harus kupenuhi. Kau bahkan lupa bahwa cinta adalah sepakat, bukan hanya kau saja yang harus ku dengar. Belajarlah untuk mengerti mencintai itu menggunakan hati bukan sekedar bersikeras emosi.

Mungkin ada satu hal yang harus kau ingat; cinta adalah kesempatan. Mencintai adalah merawat ingatan, agar tak luka, agar tak lupa. Pada hati kau akan tetap setia. Belajar mencari kata seiya. Belajar mengerti bahwa ingin kita tak selalu sama, dan selalu belajar bagaimana kita mencari keputusan berdua. Namun, semua itu sudah kau sia-siakan. Kau diberi kesempatan namun kau seperti orang yang tak butuh aku. Lantas, apakah kini aku harus memberimu kesempatan lagi? Di saat yang sama ada seseorang yang sudah membangun rumah di hatiku setelah kau pergi.

Maaf, aku hanya ingin mencintai dia. Orang yang paham, bahwa cinta itu berdua.



Boy Candra | 07/08/2014

Tuesday, July 29, 2014

Pacaran Jarak Jauh.


Ini tak sesulit yang dibayangkan orang-orang. Meski tak semudah air yang jatuh dari daun lalu menyerap ke tanah dan menyuburkan tumbuhan di sekitarnya. Pacaran jarak jauh memang tak semudah air yang jatuh, tapi pacaran jarak jauh mampu menumbuhkan rindu yang utuh.
Cinta tak hanya soal peluk memeluk, juga tak hanya soal kecup mengecup. Bukan maksud menafik hal yang begitu. Namun ada yang lebih luas dari itu, nama perasaan. Hal yang sama sekali tak akan bisa kamu beli di toko mana pun. Juga tak akan pernah kau dapatkan di toko mainan mana pun. Karena perasaan bukan untuk dimainkan. Dan begitu pun dalam hal pacaran jarak jauh, bukan sebuah permainan.
Jika kau sedang menjalani pacaran jarak jauh dan hanya ingin sekedar beranggapan hanya untuk main-main. Segeralah akhiri, karena kau akan membuat hati seseorang yang menjalani serius denganmu sebagai sebuah permainan. Dan itu sama sekali tidak menyenangkan.
Ada banyak hal yang dipertaruhkan orang-orang yang sedang menjalani pacaran jarak jauh. Meski tak ada jaminan atas sebuah kebahagiaan di masa depan. Namun inilah proses panjang yang harus dijalani. Bukankah cinta adalah proses menuju pulang? –berjalan menuju seseorang yang kelak kau sebut rumah dan menetap di sana hingga waktu menutup usia.
Percayalah, kamu tidak sendirian menjalani hubungan seperti ini. Ada banyak orang yang sedang dan telah melewati masa-sama bagaimana sulitnya bertahan setia dan tetap menjaga apa yang mereka sepakati. Pada saat yang sama begitu banyak orang-orang yang akan melemahkanmu. Mungkin bagi sebagian orang pacaran jarak jauh hanyalah cara untuk membuang waktu, bertahan pada ketidakpastian.
Tak salah memang pandangan seperti itu, namun satu hal yang harus diyakini, nama lain dari cinta adalah ketidakpastian. Orang yang pacaran bersebelahan rumah pun belum pasti akan berakhir indah.
Pacaran jarak jauh bukan hanya tentang bagaimana cara memeluk jarak, tapi tentang bagaimana kau memeluk dirimu sendiri. Agar tak ada peluk lain yang melekati tubuhmu saat seseorang yang kau tunggu jauh dari sisi. Dan terus menjadikan diri sebagai orang yang pantas dipercaya karena kau yakin dia akan menjaga hatimu di sana.
Ada hal yang harus kau yakini saat menjalani pacaran jarak jauh. Bahwa ada cinta yang terlalu panjang, yang sayang jika dikalahkan oleh jarak yang membentang. Jarak yang tak lebih panjang dari cintamu.


Boy Candra | 29/07/2014

Saturday, July 19, 2014

Orang-orang belia.



Belia bukan hanya perkara umur, tapi tentang pola pikir, cara berpikir, cara memandang sesuatu. Beberapa orang tak memahami hal ini –atau mungkin mereka tak mau belajar untuk paham. Saya menyebutnya orang-orang belia, pada kesempatan ini. Beginilah, mereka memandang hubungan.

Orang-orang belia cenderung menginginkan pasangan yang selalu nurut kepadanya. Padahal pasangan itu, manusia, bukan peliharaan. Ketika berhubungan dengan manusia, ada hasil pemikiran dia yang juga harus ikut dipahami, bukan pikiran diri sendiri saja. Ada keinginan dia yang harus diseimbangi, bukan inginmu saja.

Orang-orang belia selalu ingin mendapatkan cinta yang sempurna. Ia lupa, bahwa hakikatnya kesempurnaan itu tak pernah ada di dunia ini. Kecuali, kesempurnaan versi manusia sendiri, kesempurnaan yang sesungguhnya bisa diciptakan. Dengan apa? Dengan bersyukur atas apa yang dimiliki.

Orang-orang belia akan selalu senang ketika dituruti semua keinginannya. Meski dia sadar, itu adalah keegoisan. Itu adalah ketidakseharusan dalam hubungan. Dan seringkali dia melakukan hal-hal yang tak sewajarnya, minta ini itu, suruh ke sana ke situ, yang tak sewajarnya lagi.

Orang semacam ini lupa, bahwa mencari pasangan bukanlah perkara menemukan orang yang selalu menurut apa pun yang ia inginkan. Namun mencari pasangan adalah menemukan orang yang bisa diajak bertukar pikiran, saling belajar menyeimbangi, saling belajar membuka logika, dan hati. Sejatinya, pasangan yang baik bukanlah pasangan yang selalu menuruti semua keinginanmu, karena yang penurut seperti itu hanya pembantu. Bukan pasangan hidup.


Boy Candra | 19/07/2014

Saturday, July 5, 2014

Untuk bangsa Indonesia.


Beberapa hari lagi pemilu presiden Indonesia. 9 Juli 2014. Sebagai anak bangsa, saya ingin menyampaikan pandangan saya. Saya tidak memaksa kalian memilih si A atau Si B. Saya hanya ingin menyampaikan pandangan saya. Beberapa hari yang lalu saya pulang ke rumah orang tua saya. Tentu bertemu dengan ayah yang saya cintai.

Berbeda pendapat perihal capres dengan ayah sendiri itu biasa. Tapi yang pasti, saya mencintai yang sederhana, seperti cinta ayah saya. Bagi saya, ayah saya memang tak terlalu gagah. Tapi dia akan memperjuangkan anaknya sepenuh hati. Ia mencintai dengan hati, bukan tampang.

Belajar dari apa yang dilakukan ayah saya; bahwa yang dibutuhkan orang-orang bukanlah kegagahan tapi ketulusan. Seperti ayah.

Karena yang gagah belum tentu berani memperjuangkan dengan tulus, tapi yang tulus akan berusaha sepenuh hati memperjuangkan dengan gagah!

Saya tak pernah memaksa ayah saya memilih satu capres, biarlah dia memilih sesuai hatinya. Ada dua capres, saya percaya ayah saya baik. Saya percayakan yang terbaik untuknya, yang terbaik untuk bangsa ini. Saya dan ayah saya adalah dua orang yang saling membutuhkan. Saya tak mau sendiri tanpa ayah saya, pun sebaliknya. Saya dan ayah saya akan menjadi dua yang saling menguatkan satu sama lain.

Untuk bangsa ini pilihlah sosok ayah, bukan sosok tukang pukul.

Ajaklah hatimu bicara demi bangsa ini. Pilihlah sesuai kata hatimu. Hati tak pernah mendusta, dik. Ia akan selalu memilih yang baik.




Boy candra | 05/07/2014