Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Sunday, September 14, 2014

Pada waktunya.


Ada banyak hal yang harus kita pahami di dunia ini. Salah satunya perihal perubahan. Ya, semua pasti akan berubah pada waktunya. Begitu banyak yang awalnya teramat cinta kemudian berubah biasa saja. Atau mungkin malah bertolak belakang, menjadi saling benci. Ada yang awalnya saling memahami kemudian berubah saling egois. Merasa lebih penting dan merasa selalu ingin menang sendiri. Padahal dulu mereka sepakat untuk belajar saling mengerti. Dan hari ini mereka berubah.
Namun harus kita pahami, perubahan tidak terjadi begitu saja. Ada proses yang membawanya ke arah itu. Semisal, nasi tidak akan pernah menjadi nasi jika saja beras tidak pernah ditanak. Proses tanak inilah yang akan menentukan kualitas nasi. Jika tidak tepat takaran, nasi bisa saja menjadi bubur. Atau malah menjadi arang. Gosong.
Begitulah kita. Proses yang membuat kita mengalami perubahan. Jika kita melaluinya dengan baik. Maka kita akan berubah ke arah yang lebih baik. Cinta akan semakin utuh bila dibangun dengan hati yang penuh. Namun bila kau dan aku hanya setengah hati, perlahan-lahan kita akan kehilangan kendali. Lalu sampai pada tahap hanya ingin menang sendiri. Kita akan lupa bahwa kita punya tujuan yang indah di awal rencana. Kita akan menjadi bubur, bukan hanya bubur yang hancur, bisa jadi bubur yang basi. Hubungan yang kita lalui tidak lagi pakai hati namun lebih banyak emosi.


Boy Candra | 14/09/2014

Sunday, August 31, 2014

Suatu hari surat ini akan kuberi judul di sebuah petang yang kau sebut kenangan.


Suatu hari kau akan mengerti, dik. Betapa cinta harus diperjuangkan. Agar hidup tak hampa dan hilang dari kebahagiaan. Aku mencintai perempuan itu dik. Bagiku, dia adalah alasan kenapa hidup harus diperjuangkan. Juga kenapa harapan harus diwujudkan. Dengannya aku merasa tenang, dia membuat kepalaku terasa seimbang. Sebab, hidup selama ini adalah layang-layang, aku terombang-ambing, ditarik-ulur oleh keinginan-keinginan yang tidak pasti. Hingga kau pun tak tahu, betapa seringkali lelaki yang lebih tua darimu ini merasa sepi.
Petang hari ini, aku hanya bermaksud meminta pengertianmu, bahwa kau adalah perempuan yang ingin kupinta pendapat bagaimana membuat lelaki ini menjadi kuat. Bukan dilemahkan yang kuharapkan, bukan ditolak pandangan yang kuinginkan. Kelak kau pun akan mengerti betapa pedihnya cinta yang tak bisa kau miliki. Kau juga akan tahu, bahwa memiliki tak perlu menunggu. Lelaki ini hanya ingin, kau memberi harapan, merasa menjadi seseorang yang juga kau inginkan untuk bahagia. Bukan lelaki yang ingin kau tolak bahagianya.
Dik, apakah kau ingin aku memakan hatiku sendiri? Lalu mengubur semua impian yang kutata sepenuh hati. Itukah yang kau mau, hingga kau menolak untuk mengiyakan keinginanku. Aku ingin kau tahu, dik, bagiku dia adalah perempuan yang ingin kutemani sampai tua. Perempuan yang ingin kuhadiahi dengan pelukan-pelukan di kala senja, juga dia yang ingin kutemani berbagi renta. Saat tubuhku tak lagi bisa banyak bergerak, hanya matanya yang akan membuatku tetap berdiri tegak. Dialah kekasih yang akan menemiku kelak. Denganyalah aku ingin melalui apa pun, bagaimana pun hidup kami.
Aku berharap, dik. Jangan menghalangi langkahku. Bukankah kau tahu, betapa pedihnya patah hati di masa lalu. Apa kau tetap ingin aku merasakan hal yang sama? Menikmati luka-luka, sementara kau tahu dia pun mencintaiku sepenuh dada. Dia juga menginginkanku untuk menjadi lelaki yang mengimaminya. Dalam setiap detak jantungku, dalam setiap bait doanya.
Kelak kau pun akan paham, bahwa hidup adalah perihal meninggalkan keluarga. Meski sejauh apa pun pergi, keluarga tak akan pernah tanggal dari dada. Aku paham ketakutanmu, namun kau juga harus belajar memahami. Bahwa hidup adalah perihal berjalan, melangkah, dan menemukan. Aku menemukan dia untuk menemani sesisa usiaku. Bukan berarti aku ingin melupakan rumah tempat kita merasa bahagia.
Pada saatnya, kita harus menjalani hidup sendiri, dik. Bukan berarti aku berhenti mencintaimu, bukan berarti dengan jauh membuatku melupakan rumah kita. Aku hanya ingin membangun rumah kecil di dalam dadanya, perempuan yang kupilih untuk kucinta. Perempuan yang juga akan menjadi bagian dari kau dan aku. Dari apa yang kita punya selama ini. Pahamilah dik, hidupku adalah layang-layang, jangan kau putuskan dan akhirnya aku terbang tak tentu arah. Kau tak akan menemukan aku lagi.
Aku akan terbang jauh, membiarkan diriku dibawa angin. Terbang sejauh mungkin untuk membuat diriku tenang. Hingga waktu memintaku berhenti, dalam dada yang semakin retak, dalam tulang-belulang yang kelak hanya bisa kau kenal sebagai kenangan. Apa cerita seperti itu yang kau mau dik?!

Boy Candra | 31/08/2014


Monday, August 18, 2014

Bukan denganmu saja aku bisa bahagia.



Di senja yang membawamu pergi; aku pernah menitipkan doa pada angin, agar kau tak pernah tahu jalan pulang. Genggamlah dia yang kau anggap pemenang. Biar kubasuh luka agar tak kau buat berulang. Bagiku pilihanmu adalah hal terberat. Meski aku tidak bisa melarang apa pun. Dia yang kau puja memang sudah sebaiknya kau jaga. Biarlah aku yang memilih melupa, menghapusmu bersama luka-luka.

Pada saat itu kau adalah orang yang kucintai sepenuh hati. Namun pada sesuatu yang bernama pergi kau menyerahkan takdirku. Kau lupakan, kau lukakan aku. Hingga aku harus menyadari kau tak sepenuhnya pantas dicintai. Barangkali kau memang bukan takdir yang kucari.

Ada saatnya kau harus tahu. Bukan denganmu saja hidup bisa bahagia. Kelak akan ada angin-angin mesra yang memelukku dengan tubuh lain. Yang membuatku lupa, kau pernah kucintai sedalam ini. Percayalah, lukamu tak sepedih itu. Percayalah masih ada pelukan yang melupakan kesakitan yang kau derakan. Karena Tuhan tak pernah sia-sia dalam menciptakan rasa pada dada manusia.

Kita pernah sama-sama ingin berpetualang dalam rindu. Namun kehilangan merebutmu dariku. Dalam sisa-sisa sendu. Aku menaruh harap. Bukan untuk memintamu kembali. Tak lain agar kau tidak mengingatkan luka. Karena sungguh, aku pun ingin mencintai manusia lain. Melebihi cinta yang pernah kuberi kepadamu. Agar apa yang pernah kau buat luka segera dapat kubuat lupa.


Boy Candra | 18/08/2014

Monday, August 11, 2014

Kita harus percaya.



Aku hanya ingin memercayaimu sepenuhnya, karena menjalani cinta meragu itu memilukan. Aku tidak ingin kita begitu. Untuk apa kita tetap bersikeras bersama kalau nyatanya kita masih saling meragukan apa yang kita rasakan. Sebab itu, aku memilih percaya kepadamu sepenuhnya, karena hatiku pun sudah memilih menetap hanya di kamu seutuhnya.

Kita adalah sepasang sayap yang berusaha terbang tinggi. Mengalahkan angin-angin yang bisa saja menjauhkan kita kapan pun dari semua yang kita ingin. Dan kita harus tetap saling menguatkan untuk melewati semua itu. Saat kau lemah, akulah yang akan selalu memapahmu. Saat aku kelelahan, percayamulah yang akan selalu menguatkanku. Kita harus tetap percaya, ada kebahagiaan yang sama-sama kita inginkan. Karena itu kita akan tetap terbang bersama, menghadapi apa saja yang akan menghadang kita.

Bukankah kita tahu; bahwa cinta-cinta dijatuhkan Tuhan di dada kita hanya untuk membuat kita saling setia dan menjaga. Karena itulah percaya sepenuhnya itu memang selayaknya kita pegang. Agar rindu-rindu tak hilang, agar resah-resah tidak membuat kita merasa bimbang. Agar dua hati yang ada di dadamu dan dadaku tetap merasa tenang.

Apa pun itu akan bisa kita lewati. Saat kita tidak mengingkari apa yang telah kita sepakati. Mungkin akan ada batu-batu terjal yang akan kita harus langkahi. Namun tanganku diciptakan untuk menggenggam tanganmu. Matamu diciptakan untuk melihat betapa aku mencintaimu, pun sebaliknya. Bahkan saat batu-batu terjal melukai kaki kita, kita harus tetap melangkah. Karena kita akan selalu percaya; kita diciptakan untuk selalu bersama. Bukan untuk dikalahkan oleh ragu, tapi untuk memperjuangkan apa yang membuat kita merindu.

Kau percaya aku milikmu, aku percaya kau untukku.



Boy Candra | 11/08/2014

Tuesday, July 29, 2014

Pacaran Jarak Jauh.


Ini tak sesulit yang dibayangkan orang-orang. Meski tak semudah air yang jatuh dari daun lalu menyerap ke tanah dan menyuburkan tumbuhan di sekitarnya. Pacaran jarak jauh memang tak semudah air yang jatuh, tapi pacaran jarak jauh mampu menumbuhkan rindu yang utuh.
Cinta tak hanya soal peluk memeluk, juga tak hanya soal kecup mengecup. Bukan maksud menafik hal yang begitu. Namun ada yang lebih luas dari itu, nama perasaan. Hal yang sama sekali tak akan bisa kamu beli di toko mana pun. Juga tak akan pernah kau dapatkan di toko mainan mana pun. Karena perasaan bukan untuk dimainkan. Dan begitu pun dalam hal pacaran jarak jauh, bukan sebuah permainan.
Jika kau sedang menjalani pacaran jarak jauh dan hanya ingin sekedar beranggapan hanya untuk main-main. Segeralah akhiri, karena kau akan membuat hati seseorang yang menjalani serius denganmu sebagai sebuah permainan. Dan itu sama sekali tidak menyenangkan.
Ada banyak hal yang dipertaruhkan orang-orang yang sedang menjalani pacaran jarak jauh. Meski tak ada jaminan atas sebuah kebahagiaan di masa depan. Namun inilah proses panjang yang harus dijalani. Bukankah cinta adalah proses menuju pulang? –berjalan menuju seseorang yang kelak kau sebut rumah dan menetap di sana hingga waktu menutup usia.
Percayalah, kamu tidak sendirian menjalani hubungan seperti ini. Ada banyak orang yang sedang dan telah melewati masa-sama bagaimana sulitnya bertahan setia dan tetap menjaga apa yang mereka sepakati. Pada saat yang sama begitu banyak orang-orang yang akan melemahkanmu. Mungkin bagi sebagian orang pacaran jarak jauh hanyalah cara untuk membuang waktu, bertahan pada ketidakpastian.
Tak salah memang pandangan seperti itu, namun satu hal yang harus diyakini, nama lain dari cinta adalah ketidakpastian. Orang yang pacaran bersebelahan rumah pun belum pasti akan berakhir indah.
Pacaran jarak jauh bukan hanya tentang bagaimana cara memeluk jarak, tapi tentang bagaimana kau memeluk dirimu sendiri. Agar tak ada peluk lain yang melekati tubuhmu saat seseorang yang kau tunggu jauh dari sisi. Dan terus menjadikan diri sebagai orang yang pantas dipercaya karena kau yakin dia akan menjaga hatimu di sana.
Ada hal yang harus kau yakini saat menjalani pacaran jarak jauh. Bahwa ada cinta yang terlalu panjang, yang sayang jika dikalahkan oleh jarak yang membentang. Jarak yang tak lebih panjang dari cintamu.


Boy Candra | 29/07/2014

Sunday, June 22, 2014

Mana cinta yang tulus, mana cinta yang rakus.


Seorang teman mengatakan kepada saya, “Nyatakanlah sampai dia menerimamu. Ya, minimal tiga kali!” lama saya berfikir. Jujur saja, seumur hidup, sampai saat menulis ini, saya hanya pernah meminta perempuan sampai dua kali. Apa benar begitu? Namun satu hal yang saya pahami, perempuan memang butuh diyakinkan. Meski tak semua lelaki mampu meyakinkan dengan cara yang bebal seperti itu. Beberapa lelaki sebenarnya, lebih susah mengumpulkan keberanian untuk menyatakan satu kali saja.  Dan akan mundur saat perjuangan pertama itu ternyata dihempaskan.

Kata teman saya yang lain, “jangan terlalu lancar dalam mengatakan perasaan, bikin kesan grogi, agar dia nggak ngira kamu sudah jago gombal,” Kalau untuk urusan yang ini sebenarnya saya malah kesusahan. Bukan apa-apa. Untuk berbicara hati dengan perempuan yang saya sukai, sebenarnya saya nyaman saja, nggak grogi, meski beberapa kali masih grogi. Bukan karena saya jago gombal, tapi karena saya sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari. Mengumpulkan keberanian. Barangkali, itu yang membuat saya lancar mengutarakannya.

Dua hal tersebut, barangkali benar, barangkali salah. Tergantung dari segi apa kamu melihatnya. Yang jelas, dua hal tersebut adalah pendapat teman saya.

Namun, ada hal yang harus saya sampaikan kepadamu perihal seseorang menyatakan rasa. Tak semua orang yang sangat cinta padamu mampu menyatakanya berulang-ulang. Kenapa? Karena saat kamu menolak ia pada perjuangan pertama, bisa jadi dia sudah hancur. Dan akan memilih memendam saja pada tahap selanjutnya, meski cinta padamu tak pernah hilang. Ada juga orang yang hanya main-main denganmu, lalu memintamu berkali-kali, karena kamu menolaknya, bisa jadi itu karena ia memang cinta, bisa jadi itu hanya karena dia penasaran kenapa kamu menolaknya.

Perihal kegigihan menyatakan rasa ada dua orang yang berbeda tapi melakukan hal yang sama. Orang yang serius meminta, dan orang yang rakus akan cinta. Dia yang serius akan meminta hatimu berkali-kali, tanpa memaksamu, dan mungkin saja akhirnya akan memilih berlalu jika kau tak juga menerimanya tanpa pernah membencimu, dan mungkin melupakanmu sepenuh hatinya. Sedangkan, orang yang rakus akan cinta, akan memintamu terus-terusan dengan kesan memaksa; kau harus menerima cintanya. Jika berkali-kali kau tak juga menerimanya, cintanya akan berubah jadi benci kepadamu. Begitulah kira-kira.

Cinta yang tulus akan tetap tulus, dan pelan-pelan ia akan menghapus diri tanpa perlu membenci jika kau mengelakan darinya. Cinta yang rakus, seringkali memaksa, dan akan merencanakan kau terluka bila kau menolaknya. Gunakanlah hatimu untuk berbicara dengan matanya. Karena hati dan mata terlalu sulit untuk berdusta. Agar kau tahu mana cinta yang tulus, mana cinta yang rakus.



--Boy Candra

Monday, June 2, 2014

Bumi, pohon, dan api-api.



Aku masih melakukan hal yang sama.
merindukanmu tanpa perkara
mencukupimu sebagai hamba
memelukmu dalam doa-doa
mengecupmu berselimutkan asa
untuk menjadi cinta yang utuh,
bersama menerjang apa saja yang membuat kau rapuh

dalam hujan yang jatuh kau ku titipkan
agar sampai ke bumi untuk menghidupi
kepada angin kau kirim pergi
agar sampai dimana tempat menjaga hati

pada pagi, siang, malam, dan dinihari.
ku jaga rindu yang berapi-api
agar kau tetap hangat
agar aku tak terbakar

meski kita saling tak berkabar, percayalah
padamu pohon ini berakar.





Puisi: Boy Candra  | 02/06/2014

Thursday, May 8, 2014

Surat kepada Adik.



Apa yang kau kejar, dik? Mencintai tanpa dicintai itu terasa sakit. Dan terlebih lagi, kau mencintai dia tapi dia hanya berpura-pura mencintaimu. Kau merasakan perihal itu, namun kau tak tega melepaskannya. Sungguh malang nasibmu dik, kau tahu kau tak bahagia. Tapi kau tetap saja memaksakan semuanya. Jika kini kau terluka, siapa yang salah?

Dik, kau harus ingat kata ibu kita; kebahagiaan tak perlu kau tumpangkan kepada siapa pun. Tidak juga pada ibu! Lalu kenapa kau malah menaruh harap kepada orang yang jelas-jelas kau tahu dia hanya memberikan hal semu.

Ayolah dik. Coba berpikir jernih. Kau telah dibutakan oleh hal yang sama sekali bukan bahagiamu. Orang yang hanya akan kau sesali suatu hari nanti. Bahwa kamu telah menyia-nyiakan waktumu untuk membuat ia mengerti. Padahal kau tahu pasti, dia tak akan pernah berubah. Ia hanya berpura-pura. Dan kau juga paham betul, kebahagiaan bukanlah sebuah kepura-puraan.

Aku hanya kakak yang tak tega melihatmu terluka. Tapi, aku juga tak bisa memaksamu untuk melepaskannya. Karena seperti yang ku katakan kepadamu tadi, kebahagiaan tak pernah bisa ditumpangkan. Termasuk kepadaku, kakakmu sendiri. Bahagiakanlah dirimu, dik, dengan melepaskan yang kau tahu dia hanya berpura-pura membuatmu bahagia.





8/05/2014
Kakakmu, yang mungkin tak bisa membahagiakanmu.


Boy Candra. 

Sunday, May 4, 2014

Kematian.



Aku turut berduka atas kematian kenangan kita. Tenangkanlah hatimu, percayalah: semua akan baik-baik saja. Tak usah kau pikirkan lagi. Kenangan yang telah mati akan kembali ke asalnya. Ia tak akan lagi mengikat kita. Tak akan lagi membangunkan kita di tengah malam di antara derasnya rintih hujan. Tidak akan juga datang pada tempat-tempat di mana kita pernah memanjatkan harapan. Ia kini telah mati. Perihal kematian, tak ada yang bisa kembali. Karena Tuhan tak pernah bercanda untuk sebuah nama. Kenangan kita sudah tua, selayaknya ia melipat dada. Biarlah ia pergi. Pelan-pelan kita akan kembali, berjalan menyusuri ruang-ruang sepi, melintas di antara raung-raung nyeri.

Aku tahu, kematian selalu mendatangkan sedih, juga pedih. Namun kau harus paham, semuanya akan kembali pulih seiring lelah diculik malam. Hari ini ku tanamkan kisah kita di batu nisan merah muda. Biarlah ia melapuk bersama tangis yang ditinggalkan. Lupakan segalanya. Jika tak bisa semudah kita bicara, belajarkan untuk percaya, bahkan  luka akan sembuh pada waktunya. Lepaskanlah kematian ini, karena kenangan hanya butuh ruang sunyi. Agar ia tak lagi datang menusuk relung hati.



04/05/ 2014
--boy candra.


Monday, April 14, 2014

Manusia lain.


Aku pernah menemuimu di perempat malam, juga di senja di sela larian anak bermain layang-layang. Semua hal yang kau minta, sebisanya aku perjuangkan. Segala hal yang ku lakukan tak lain untuk membuatmu menjadi tenang. Karena, jauh di dalam hati, aku tak ingin cinta yang tumbuh ini tiba-tiba mati. Karena kesepian akan datang memeluki. Dan aku tak mau semua itu terjadi, kepadamu, kepadaku, kepada kita.

Apa yang kurasa, selalu ku jaga. Agar cinta selalu bisa menghangatkan dada. Agar cinta tak pernah membiarkan air mata mendekat. Dan semua hal yang membuatmu tertawa selalu kuiringi dalam doa. Selalu ku jalankan dalam langkah-langkah lelah, meski tertatih, meski letih. Untuk keutuhan kita aku tak pernah menginginkan duka.

Hingga pada suatu hari, ada manusia lain yang kau sebut bagian dari hati. Dia yang diam-diam mencuri hatimu terdalam. Bagaimana bisa? Aku tak pernah lengah menjaga apa yang kita punya. Aku yang selalu menyerahkan segala asa hanya kepada kamu. Hanya ingin hidup denganmu. Tapi kenapa, nyatanya dia yang kau sebut cinta. Dan menusukan sebait kata bernama luka di sudut dada. Begitu dalam. Membuat lebam.

Harusnya aku tak sedih. Karena apa gunanya mempertahankan seseorang yang jelas-jelas tidak pantas dipertahankan. Namun, selain mendatangkan rindu dan bahagia, cinta juga bisa mendatangkan pedih yang tak terkira. Kau sukses memberikan itu kepadaku. Kesakitan ini yang akhirnya membuatku harus belajar berhenti mencintaimu. Harus berhenti merapal doa untuk hidup denganmu. Harus melupakan kenangan bersama anak-anak bermain layang-layang senja itu.

“Kadang, apa yang terlalu kau percaya tak jarang mendatangkan luka yang pedih tak terkira. Seperti dia yang begitu kucinta, dengan sengaja menjadikan manusia lain menjadi bahagianya. Ternyata cinta tak pernah cukup bagi manusia yang tak serius pada hati. Terima kasih pernah menemani, –juga pernah melukai.” 


 
  14.04.2014

--boy candra

Friday, April 11, 2014

Aku pernah.



Harusnya aku tak menaruh apa-apa di matamu. Karena kini begitu sakit rasanya saat menatap kembali. Ada rindu yang dari dulu belum sempat kusudahi, tapi kau segera membawanya pergi. Juga hati yang kau rebut paksa untuk menyudahi janji. Sebelum kita benar-benar menepati.

Harusnya aku tak jatuhkan rasa kepada bibirmu. Karena kini begitu pilu mendengarkan potongan kalimat selamat tinggal untukku. Dengan mudahnya kau lumatkan luka di dada. Tak ada lagi manis manja kata rindu. Yang kau katakan segeralah lupakan aku. Apa kau tak pernah berpikir, bibir manis itu pernah membuatku merasa semuanya tak akan pernah berakhir. Tapi nyatanya kini perpisahan  kau sebut takdir.

Aku tak bermaksud menyalahkan kau yang mengingkari janji. Juga tak mau mengatakan semua luka adalah ulahmu. Hanya saja, setumpuk perih masih saja tersisa. Hingga saat aku tak bisa lagi menemuimu, pedihnya belum juga mereda.

Namun pada akhirnya aku pun harus mengerti. Mencintaimu adalah keputusan yang tak perlu ku sesali. Bagaimana pun aku pernah merasa hangat pelukmu. Pernah mengecup lembut bibirmu. Juga lelaki yang menenangkan sedu sedanmu. Hanya saja, mungkin alam memang tak pernah sepakat untuk kita terus bersama. Biarlah luka ini tetap ku bawa, entah sampai di ujung jalan mana. Entah sampai malam keberapa. Jika kau bahagia, harusnya aku juga bisa bahagia.




-- boy candra

Sunday, March 16, 2014

Tanpa kenangan.


Kita tak akan pernah ada tanpa kenangan. Jika kau mengharuskan ia habis, habis jualah kita. Bukan bersikeras, karena itu juga berarti menghabiskan aku. Tanpa kenangan aku pun hanya abu. Yang harus kau tahu, kenangan yang mengantarkanku untuk mencintaimu. Cintailah aku tanpa meminta melupakan masalalu. Karena aku juga akan mencintaimu, tanpa pernah peduli bagaimana silau silammu, aku tak peduli bagaimana dulu kau mengeja rasa, yang aku peduli kau dan aku ada untuk terus mengokohkan kita.
Barangkali memang susah kau pahami. Dan aku rasa juga tak perlu menjelaskan tentang dia yang pernah ada. Bagaimana pun juga, perempuan yang cemburu selalu mengesampingkan logika. Ia buta. Dan selalu menghujamkan kalimat; kenapa masih ada dia?  

Yang tak kau tahu, selain aku pernah mencintainya terlalu dalam, luka yang ia tinggalkan menghujam lebam. Menusuk dan membusuk. Yang kau lupa, saat kau membahasnya lagi, bukan bahagia yang datang, tapi lukanya kerap pulang. Pahamilah, pelan-pelan mari kita belajar untuk membiasakan diri berdua, tanpa perlu meminta lupa-lupa yang sudah ada. Pada waktunya semua akan menjadi milikmu selamanya.
Aku tak ingin memastikan apa-apa kepadamu. Jika kau yakin dadamu adalah rumahku. Tentu kau tak akan pernah enggan menyiapkan segalanya. Juga tak akan lelah menghujani doa-doa. Namun jika yang kau percayai aku memang tak pernah bisa hidup tanpa dia, kau akan berlalu begitu saja. Dan aku juga tak ingin tinggal di rumah seseorang yang tak kuat menjaga pintu hatinya sendiri.
Satu hal yang harus kau pahami; jika kau saja tak yakin aku adalah orang yang bisa menempati hatimu, lalu adakah alasanku untuk terus memperjuangkanmu?


-- Boy Candra

Thursday, March 13, 2014

Tamu dan pohon kecil


Perasaan bukanlah mobil-mobilan atau barbie  bagi anak kecil. Ia bukan benda mati yang bisa kau minta dengan menangis, lalu kau dapatkan untuk membuatmu tertawa. Bukan begitu etikanya, bukan begitu caranya. Rasa yang tumbuh itu bak pohon kecil, berkembang dan semakin besar bila kau terus merawatnya. Memupuk, dan memperhatikannya sepenuh hati. Jangan biarkan ia tumbuh kerdil karena kau tak mau merawatnya, tapi kau memaksa untuk memilikinya.
Tak ada yang bisa tumbuh dengan semena-mena. Yang hidup selalu membutuhkan nutrisi, baik berupa doa atau sentuhan rasa. Tak ada yang bisa hidup dengan hampa, meski selalu ada hidup yang penuh kehampaan. Begitu pula rasa cinta, ia akan tumbuh bila kau memberinya apa yang ia butuh. Selain berdoa, kau bisa merawat rindu dengan temu agar tak berbuah sendu.
Cinta bisa datang pada siapa saja, kapan saja, dimana, juga dengan cara apa saja. Tapi pahamilah, ia hanya bisa datang dengan cara begitu, tapi ia tak akan tumbuh, jika saat ia datang kau tak menyambutnya dengan baik. Ia akan segera berbalik lalu pergi meninggalkanmu. Karena cinta adalah tamu, ia akan betah bila kau menjamu dengan rasa suka, jika ia merasa kau memperlakukannya dengan baik, tak akan sungkan ia akan merumah di hidupmu. Namun jika ia tak kau perlakukan dengan baik, ia akan pergi lagi. Mungkin tak akan pernah kembali.
Tamu akan pergi bila tak ada ramah tamah pemilik rumah, pohon kecil pun begitu.

-- Boy Candra


Tuesday, March 4, 2014

Yang orang-orang sebut.


Entah bagaimana caranya, yang aku ingat tanpa sengaja mataku menatap matamu sore itu. Semalaman aku berpikir apa aku jatuh cinta kepadamu. Apa semudah itu hati dijatuhi. Satu pandangan saja dan dadaku berdetak tak tertata. Dua hari kemudian kita bertemu lagi, tapi aku sengaja diam. Bukan karena tidak merasa rindu. Jika saja bisa ingin kupeluk dan ku kecup mesra keningmu saat bertemu. Namun kita belum apa-apa. Kita bahkan tak begitu banyak tegur sapa. 

Mungkin benar begini; apa yang terasa di hati adalah hal-hal yang ditatap mata, dan ia merekamnya hingga terserap di dada. Lalu orang-orang menyebutnya cinta. Hal yang sama seperti yang kita rasa. 

Tak bermaksud terlalu cepat menyimpulkan. Namun keyakinan seolah sudah terkumpulkan. Yang datang ini dia yang orang sebut cinta. Yang merekat ini sesuatu yang mereka sebut rindu. Di dadaku kini ia tumbuh merimbun dan semakin menimbun embun-embun yang mendinginkan. Berserta doa-doa yang menginginkan. Dan aku mulai percaya, bahwa kau yang hadir bukan rasa yang sia-sia. Biarlah ku jaga bersama malam-malam yang sunyi, juga dalam siang-siang bernyanyi. 

Tak ada yang bisa menerka kapan cinta memilih untuk memulih, tapi bukankah saat ia terasa kita selalu punya alasan untuk menjaga. Aku mengerti diammu pun selalu menyimpan arti. Aku juga pahami bila tiba saatnya aku tak akan gentar menyatakan hati. Kepadamu ku serahkan percaya. Meski ku tahu berisiko luka. Seperti yang orang-orang sebut. 


--Boy Candra

Monday, February 24, 2014

Orang yang sama, waktu yang berbeda.





Apa pun yang kau lakukan harusnya kau pikir berkali-kali. Juga begitu perihal hati. Saat memutuskan pergi, kau pikir dua-sepuluh-kali; ada hati yang kau sakiti. Jangan mudah berlari jika saja ada niat kembali, jangan mudah meninggalkan jika kau tahu sakitnya ditinggalkan. Mungkin kau lupa, yang kau tinggalkan ini bukan benda mati. Tapi hati manusia yang setiap detiknya bisa saja semakin terluka, juga bisa dicuri oleh manusia lainnya. 

Berapa kali ku katakan kepadamu bahwa kita bukan main-main. Kita tak lagi sedang mencoba-coba. Jangan menjadikan hubungan ini sebagai ajang melepas lelahmu. Ini bukan sekedar tempat bersandar dari penat pelarian. Ini bukan tempat menitipkan barang dagangan. Kelak ada penjual kau akan melepaskan dan menjadikan kita kenangan. Bukan begitu, sayang!

Sering kali kau jatuh dan aku selalu berusaha membuatmu kembali utuh. Entah kali keberapa kau lelah, aku selalu menjadi orang yang mencoba menenangkan kau yang gundah. Tapi nyatanya yang aku dapat adalah pergimu tanpa arah. Kau mengembarai hati-hati tanpa hati-hati. Kau bersenang-senang sebelum akhirnya kau dibuang.

Dan kini kau katakan kau ingin pulang. Katamu akulah rumah yang ingin kau tempati. Sebelum semuanya berlanjut, sebelum kau semakin bersikukuh untuk menyatakan rasa. Baiknya ku katakan kepadamu, dan tolong kau cerna baik-baik. Agar hatiku dan hatimu masih bisa menjadi baik. Kau tahu? Orang yang sama, kisah yang sama, tak akan pernah ada dalam waktu yang berbeda. Jadi, pulanglah! Hatiku tak lagi rumahmu. 




-- Boy Candra