Showing posts with label flashfiction. Show all posts
Showing posts with label flashfiction. Show all posts

Saturday, October 25, 2014

Di balik rencana.


Malam ini hujan turun dengan angkuhnya. Sedari pukul lima sore. Padahal kita sudah membuat janji untuk menikmati malam Minggu berdua. Bahkan untuk menentukan kemana kita malam ini, kau dan aku sempat berdebat. Kau ingin ke toko buku.  Sedangkan aku ingin mengajakmu datang ke acara malam puisi (aku sebenarnya telah menyiapkan puisi untuk kubacakan di depan semua orang –untuk kamu). Namun akhirnya, kita sepakat: setelah ke toko buku, barulah kita datang ke acara malam puisi. Katamu, ke toko bukunya hanya sebentar, kau hanya ingin membeli buku baru penulis idolamu.

Kau tahu? Jauh sebelum malam ini, dua minggu yang lalu. Aku sudah menyiapkan semuanya untukmu. Juga, sebenarnya acara malam puisi ini adalah salah satu hal yang aku tunggu. Dan semuanya seperti kebetulan, malam ini kau ulang tahun. Dan aku pikir, sebuah puisi untuk menikmati malam berdua denganmu adalah cara berdoa paling rindu.

Pukul tujuh empat puluh lima malam. Hujan belum juga reda. Malah semakin lebat. Seperti enggan menyediakan waktu untuk merasakan hangatnya malam Minggu. Kita terus berkabar. Berharap hujan segera berhenti. Agar kita bisa keluar rumah, dan bertemu di toko buku, lalu berangkat berdua ke acara malam puisi.

Satu jam kemudian, kau melunak. Katamu, kita tidak usah ke toko buku. Kita segera ke malam puisi saja. Lalu berharap hujan segera reda. Kau terdengar sedikit mengeluh, kau tidak suka hujan saat ingin berpergian seperti ini. Aku hanya bisa mengamini doamu, berharap yang sama. Agar setelah hujan reda kita bisa segera bertemu.

Dua jam kemudian hujan tidak juga berhenti. Semua rencana yang telah kita susun sedemikian rupa batal begitu saja. Padahal kita sempat berdebat menentukan kemana kita akan pergi. Sekarang tidak ada toko buku dan malam puisi. Tidak juga ada pelukan saat malam ulang tahunmu. Namun kita tetap bisa bersama. Berdua di balik ponsel, di rumah masing-masing. Berharap yang sama. Meski kita tidak berada pada ruang yang sama, kita selalu bisa menikmati cinta. Walau tidak sesuai rencana.

Memang benar, terkadang apa yang kita rencanakan sebaik mungkinpun belum tentu bisa terlaksana dengan baik. Namun di balik semua yang gagal ada hal manis yang tertinggal. Kita selalu kemana-mana berdua, menikmati apa saja berdua. Bahkan setiap ulang tahun kita selalu merayakannya berdua. Namun malam ini Tuhan berkehendak lain, Tuhan hanya ingin kita menikmati cara yang lain. Menikmati hujan dan belajar memanjatkan doa berdua tanpa perlu kemana-mana.

Boy Candra | 25/10/2014


Thursday, October 16, 2014

Jangan terlalu lemah.



Suatu hari saat duduk santai di tempat yang biasa aku datangi untuk menulis. Aku didatangi seorang perempuan. Aku menatap ke arahnya, dia masih cantik seperti dulu. Hanya saja ada sedikit yang berbeda dari dirinya, matanya terlihat agak sendu. Ada kesedihan yang tak mampu disamarkan oleh senyumannya yang dipaksakan.

Setelah basa-basi, akhirnya dia lepas kendali juga. “apa yang kau lakukan jika kau seorang perempuan namun kau dibohongi kekasihmu berkali-kali?”

Aku berhenti manatap laptopku. Lalu berusaha tersenyum, “aku tidak ingin menjadi perempuan!” jawabku sekenanya.

“kenapa?”

“karena perempuan bukan untuk dibohongi. Jika pun aku menjadi perempuan, aku tidak akan membiarkan lelaki membohongiku berkali-kali.”

“lalu, jika kenyataannya kau dibohongi apa yang akan kau lakukan?”

“aku akan pergi meninggalkannya,”

Kami terdiam. Dia menatap mataku.

“sama seperti kau meninggalkan aku dulu, padahal dulu aku tidak membohongimu. Kau lebih percaya kepada dia. Dan kini kau dibohonginya berkali-kali. Kau tetap saja bertahan dengannya. Aku tidak mengerti cara berpikirmu.” Aku menggelengkan kepala. Entah kenapa perasaan dulu yang pernah ada tiba-tiba sesak kembali. Timbul seperti dendam. Padahal aku sudah berusaha menganggap dia sebagai teman. Sebagai teman biasa, tidak lebih. 

“aku datang meminta pendapatmu, bukan menjadi orang yang harus kau salahkan,”

“aku tidak menyalahkanmu,” Aku menurunkan nada suara, “aku hanya merasa sedih. Kenapa kau masih saja bertanya apa yang harus kau lakukan kepadaku. Sedangkan kau tahu, dia sudah membohongimu berkali-kali. Harusnya kau tahu apa yang akan kau pilih!”

Kami diam lagi. Lebih lama.

Dia memang seperti itu, terlalu lemah menjadi perempuan. Padahal dia tahu, dia sudah dibohongi dari awal. Namun, aku tidak bisa menyalahkannya. Aku yang mencintainya, juga tak pernah mampu mengalahkan perasaanku sendiri. Aku masih berbohong kalau aku tidak lagi mencintainya.

Ada hal yang tidak dia pahami dari cinta. Dia lupa, dia tidak bisa merubah sikap seseorang, tapi dia bisa memilih hidup yang lebih baik. Dengan tidak membiarkan dirinya tersakiti lagi. Karena memang ada saatnya kita harus melepaskan seseorang, bukan karena tidak mencintainya, namun demi menjaga hati kita sendiri agar tidak terluka lagi oleh sikap yang sama –orang  yang sama.    



Boy Candra | 16/10/2014

Tuesday, October 14, 2014

Kenapa jadi membosankan (?)


Saat jatuh hati kita selalu merasa senang dengan seseorang. Tentu dia yang menjadi tempat kita merasakan perasaan itu. Seperti yang aku rasakan kepadamu. Aku senang bertemu denganmu. Senang saat melihat kamu tertawa. Aku bahkan lupa kalau kita sedang membicarakan hal terkonyol yang kita punya. Rahasia yang kadang tidak mungkin kita ceritakan kepada sembarang orang. Begitu menyenangkan.
Aku merasa nyaman dengan dirimu yang seperti itu. Kamu yang apa adanya. Kamu yang menurutku adalah orang paling tepat untuk aku ajak berdiskusi banyak hal. Kamu juga pasti sepakat denganku, bahwa apalagi yang paling menyenangkan selain orang yang kita ajak bicara seimbang? Tidak ada. Saat melakukan pendekatan kita memang hanya butuh teman bertukar pikiran yang nyaman. Walau tidak bisa sempurna, aku bisa menerima kamu. Mungkin kamu merasakan hal yang sama. Aku yang terkadang juga tidak begitu konek dengan apa yang kamu katakan. Tapi kita tetap mencoba menjadikan semua itu menyenangkan. Bahkan hal yang membuat kita kebingungan kita jadikan hal konyol, lalu tertawa bersama.
Kita saling belajar memahami, saling memberi perhatian. Bagiku kata ‘jadian’ hanya menunggu waktu yang tepat. Sebab bagi beberapa orang tanggal jadian itu penting. Aku hanya menunggu momen yang aku pikir pas. Lalu apa yang membuat nyaman selama ini akan kunyatakan sebagai perasaan sesungguhnya. Walau sebenarnya, tanpa menyatakan kau sudah bisa menerka apa yang ada di hatiku.
Namun belakangan ini kau mulai berubah. Dan menurutku itu bukan perubahan yang membuat aku nyaman. Aku juga tidak mengerti, apakah kenyamanan yang kau berikan selama ini hanyalah kepalsuan? Atau kau sedang berusaha menjadi orang lain? Entahlah. Namun sikapmu sekarang memang tidak membuatku merasa seimbang lagi. Kau sekarang berlebihan. Memberi perhatian berlebihan. Padahal, kita baru saja tahap pendekatan. Kalau begini lebih baik aku mundur saja. Menjauh pelan-pelan. Bukan karena aku jahat. Bukan maksud mempermainkanmu. Apalagi memberi harapan palsu. Namun lebih kepada sikapmu yang terasa asing bagiku. Kau tahu? Aku tidak bisa mencintai orang asing.
Apa selama ini sikap yang kau tunjukan adalah sikap orang lain?


Boy Candra | 14/10/2014

Saturday, October 4, 2014

Belajar menikmati.


Kemarin. Saat matahari ingin beristirahat. Aku menemui dia. Perempuan yang dulu pernah menjadi kami. Sekarang hanya aku dan dia. Tanpa ada kata kami seperti dulu lagi. Dia memintaku datang menemuinya. Di pantai Purus. Pukul enam kurang tiga belas menit. Katanya, dia butuh teman bicara.
Tadinya aku sempat ingin menolak. Tapi dari caranya berbicara di telepon. Aku tidak sanggup mengatakan tidak. Aku mengerti bagaimana rasanya mendapatkan penolakan saat aku butuh seseorang. Sangat tidak menyenangkan.
Aku sampai tepat waktu sesuai janji. Pukul lima lewat tiga puluh menit. Dia mentraktirku gulai Lengkitang. Makanan khas pantai Purus Padang. Aku dan dia duduk beberapa meter dari jembatan yang baru selesai setahun lalu. Di  bangku plastik yang menghadap laut. Di depan kami –di pinggir laut-  ada perahu kayu milik nelayan berbaris cukup rapi.
Lima belas menit pertama dia masih berusaha asyik. Membahas pekerjaan. Basa-basi. Ia juga mengajukan pertanyaan: dengan siapa aku sekarang menjalin hubungan?
Beberapa menit kemudian pembicaraanya mulai mengarah pada hal yang lebih serius. Katanya, dia baru saja putus. Dengan kekasihnya setelah aku. Dulu kami putus baik-baik. Meski saat itu aku merasa hatiku tidak lagi baik. Aku masih mencintainya. Sedangkan dia sudah tidak lagi mencintaiku. Karena itulah kami harus putus. Begitulah katanya.
Sore itu dia menangis, meski suaranya tidak terdengar. Namun ada air yang mengalir di pipinya. Dia sangat mencintai lelaki itu. Mungkin sama seperti aku mencintai dia dulu. Atau mungkin lebih. Namun orang yang dia cintai mengatakan tidak lagi memiliki perasaan yang sama. Lalu mengakhiri hubungan mereka.
“Bagaimana caramu melupakan aku dulu? Aku ingin melakukan itu untuk menenangkan hatiku. Untuk membuat hidupku bahagia lagi.”
Aku tidak tahu cara yang tepat untuk menjawab pertanyaan itu. Bagaimana caramu melupakan aku dulu?
Ah, ternyata aku dan dia sudah selama itu mengakhiri hubungan kekasih.
Aku hanya diam. Mencoba mencari kalimat yang tepat. Kalimat paling kuat yang aku punya saat ini.
“Di dunia ini kita akan ditemukan dengan orang-orang yang membuat kita bahagia. Juga sebaliknya. Namun satu yang pasti, mereka dikirim kepada kita selalu dengan satu alasan; agar kita belajar.” Aku mencoba memberi senyuman. Lagi-lagi senyum yang kubuat agar aku terlihat kuat, “Agar kita belajar berkasih sayang. Agar kita belajar melupakan. Agar kita belajar membiasakan. Meski kadang, kita tak selalu berhasil pada pelajaran pertama. Namun, kita bisa mencoba untuk mengulangi pelajaran itu lagi kan?” Aku kembali menatap perahu nelayan. Sore sudah berganti senja. Lengkitang yang tadi terasa sedap pun, menjadi hambar. Namun aku belajar untuk tetap menikmatinya.


Boy Candra | 04/10/2014

Wednesday, September 24, 2014

Bulan-bulan pertama.


Aku menemukanmu yang sedang patah hati. Sebenarnya pada saat itu aku juga sedang patah hati. Lalu kita sepakat –dengan perasaan senasib- memilih untuk bersama. Pacaran, istilah yang orang-orang sebut. Meski aku lebih suka menyebutnya dengan kekasih. Sepasang kekasih.
Kita bahagia? Tentu! Setidaknya pada bulan-bulan pertama.
Saat itu aku percaya. Bahwa cinta memang datang pada dua orang yang memiliki kesamaan. Banyak hal yang kita rasa sama. Kita sama-sama mencari sosok penyembuh. Kita sama-sama mencari orang yang lelah merasakan patah hati. Dan terlebih yang membuat kita semakin yakin, kita merasa memiliki nasib yang sama. Dua orang yang patah hati. Terdengar menyedihkan memang. Tapi saat itu kita bahagia. Kita merasa saling membutuhkan.
Namun waktu terus berlalu. Luka di dadamu perlahan sembuh. Aku pun merasa kembali utuh. Aku masih bahagia bisa menjadi kekasihmu. Bertukar kasih berbagi rindu. Namun beberapa hari terakhir aku merasa ada yang lain. Kau ternyata tak seperti dulu lagi. Kita sekarang tak senasib lagi, katamu.
“Ternyata, aku tidak mencintaimu. Aku hanya butuh seseorang saat aku rapuh.” Kau mengatakan dengan raut wajah seolah merasa bersalah.
Sejak saat itu aku sadar. Kesamaan memang tidak selalu bisa menyatukan. Kau ternyata tidak butuh teman senasib. Kau hanya butuh penyembuh agar kau kembali utuh. Kau hanya butuh pelarian agar kau kembali bisa berlari mengejar impian.
Boy Candra | 24/09/2014


Saturday, September 20, 2014

Tak terpikirkan sebelumnya.




Aku tidak pernah berpikir akan menjadi kekasihnya. Tidak pernah juga berharap akan menjadi seseorang yang menemaninya makan sebagai sepasang kekasih. Aku dan dia hanya berteman, sebelumnya. Sebelum akhirnya kami saling menyadari. Ada hal yang mengikat kami. Perasaan yang tumbuh melalui proses panjang. Perasaan yang berawal dari perkenalan biasa. Kemudian kami memilih berteman. Hingga akhirnya kami sepakat menyebutnya dengan sahabat. Setelah sekian lama. Tanpa kami sadari. Hari ini aku dan dia sudah menjadi begini saja.

Tiba-tiba saja aku cemburu saat ada orang lain menginginkannya. Tiba-tiba saja aku merasa risih saat ada teman lain yang lebih mesra dengannya. Entah sajak kapan. Yang aku tahu, perasaan itu mulai mendatangiku setiap kali ia membagi senyum kepada orang lain. Jika aku tahu, orang itu juga menaruh perasaan kepadanya. Perasaan itu semakin tumbuh. Dan aku semakin tidak bisa mengendalikannya. Aku tidak bisa memungkirinya.

Hingga pada suatu ketika. Dia juga merasakan hal yang sama. Dia mengatakan, dia tidak suka kalau aku terlalu dekat dengan orang lain. Meski tak mengatakan cemburu. Tapi ia memperlihatkan kalau dia cemburu. Aku? tentu merasa senang. Aku mulai berpikir ini adalah jatuh cinta. Aku mulai berharap kami merasakan perasaan yang sama.

Dan cinta memang jatuh di hatiku dan dia. Melalui proses panjang. Aku dan dia tidak bisa menutupi lagi. Bahwa kami memang tidak bisa saling memungkiri. Kami saling jatuh hati. Aku ingin dia lebih dari sekedar sahabat. Dia pun ingin aku menjadi lebih kuat dari sekedar sahabat. Kami sepakat, sekarang hubungan kami bertambah. Sebagai kenalan. Teman. Sahabat. Dan hubungan baru. Sebagai kekasih.


Boy Candra | 20/09/2014

Sunday, August 31, 2014

Suatu hari surat ini akan kuberi judul di sebuah petang yang kau sebut kenangan.


Suatu hari kau akan mengerti, dik. Betapa cinta harus diperjuangkan. Agar hidup tak hampa dan hilang dari kebahagiaan. Aku mencintai perempuan itu dik. Bagiku, dia adalah alasan kenapa hidup harus diperjuangkan. Juga kenapa harapan harus diwujudkan. Dengannya aku merasa tenang, dia membuat kepalaku terasa seimbang. Sebab, hidup selama ini adalah layang-layang, aku terombang-ambing, ditarik-ulur oleh keinginan-keinginan yang tidak pasti. Hingga kau pun tak tahu, betapa seringkali lelaki yang lebih tua darimu ini merasa sepi.
Petang hari ini, aku hanya bermaksud meminta pengertianmu, bahwa kau adalah perempuan yang ingin kupinta pendapat bagaimana membuat lelaki ini menjadi kuat. Bukan dilemahkan yang kuharapkan, bukan ditolak pandangan yang kuinginkan. Kelak kau pun akan mengerti betapa pedihnya cinta yang tak bisa kau miliki. Kau juga akan tahu, bahwa memiliki tak perlu menunggu. Lelaki ini hanya ingin, kau memberi harapan, merasa menjadi seseorang yang juga kau inginkan untuk bahagia. Bukan lelaki yang ingin kau tolak bahagianya.
Dik, apakah kau ingin aku memakan hatiku sendiri? Lalu mengubur semua impian yang kutata sepenuh hati. Itukah yang kau mau, hingga kau menolak untuk mengiyakan keinginanku. Aku ingin kau tahu, dik, bagiku dia adalah perempuan yang ingin kutemani sampai tua. Perempuan yang ingin kuhadiahi dengan pelukan-pelukan di kala senja, juga dia yang ingin kutemani berbagi renta. Saat tubuhku tak lagi bisa banyak bergerak, hanya matanya yang akan membuatku tetap berdiri tegak. Dialah kekasih yang akan menemiku kelak. Denganyalah aku ingin melalui apa pun, bagaimana pun hidup kami.
Aku berharap, dik. Jangan menghalangi langkahku. Bukankah kau tahu, betapa pedihnya patah hati di masa lalu. Apa kau tetap ingin aku merasakan hal yang sama? Menikmati luka-luka, sementara kau tahu dia pun mencintaiku sepenuh dada. Dia juga menginginkanku untuk menjadi lelaki yang mengimaminya. Dalam setiap detak jantungku, dalam setiap bait doanya.
Kelak kau pun akan paham, bahwa hidup adalah perihal meninggalkan keluarga. Meski sejauh apa pun pergi, keluarga tak akan pernah tanggal dari dada. Aku paham ketakutanmu, namun kau juga harus belajar memahami. Bahwa hidup adalah perihal berjalan, melangkah, dan menemukan. Aku menemukan dia untuk menemani sesisa usiaku. Bukan berarti aku ingin melupakan rumah tempat kita merasa bahagia.
Pada saatnya, kita harus menjalani hidup sendiri, dik. Bukan berarti aku berhenti mencintaimu, bukan berarti dengan jauh membuatku melupakan rumah kita. Aku hanya ingin membangun rumah kecil di dalam dadanya, perempuan yang kupilih untuk kucinta. Perempuan yang juga akan menjadi bagian dari kau dan aku. Dari apa yang kita punya selama ini. Pahamilah dik, hidupku adalah layang-layang, jangan kau putuskan dan akhirnya aku terbang tak tentu arah. Kau tak akan menemukan aku lagi.
Aku akan terbang jauh, membiarkan diriku dibawa angin. Terbang sejauh mungkin untuk membuat diriku tenang. Hingga waktu memintaku berhenti, dalam dada yang semakin retak, dalam tulang-belulang yang kelak hanya bisa kau kenal sebagai kenangan. Apa cerita seperti itu yang kau mau dik?!

Boy Candra | 31/08/2014


Thursday, May 8, 2014

Surat kepada Adik.



Apa yang kau kejar, dik? Mencintai tanpa dicintai itu terasa sakit. Dan terlebih lagi, kau mencintai dia tapi dia hanya berpura-pura mencintaimu. Kau merasakan perihal itu, namun kau tak tega melepaskannya. Sungguh malang nasibmu dik, kau tahu kau tak bahagia. Tapi kau tetap saja memaksakan semuanya. Jika kini kau terluka, siapa yang salah?

Dik, kau harus ingat kata ibu kita; kebahagiaan tak perlu kau tumpangkan kepada siapa pun. Tidak juga pada ibu! Lalu kenapa kau malah menaruh harap kepada orang yang jelas-jelas kau tahu dia hanya memberikan hal semu.

Ayolah dik. Coba berpikir jernih. Kau telah dibutakan oleh hal yang sama sekali bukan bahagiamu. Orang yang hanya akan kau sesali suatu hari nanti. Bahwa kamu telah menyia-nyiakan waktumu untuk membuat ia mengerti. Padahal kau tahu pasti, dia tak akan pernah berubah. Ia hanya berpura-pura. Dan kau juga paham betul, kebahagiaan bukanlah sebuah kepura-puraan.

Aku hanya kakak yang tak tega melihatmu terluka. Tapi, aku juga tak bisa memaksamu untuk melepaskannya. Karena seperti yang ku katakan kepadamu tadi, kebahagiaan tak pernah bisa ditumpangkan. Termasuk kepadaku, kakakmu sendiri. Bahagiakanlah dirimu, dik, dengan melepaskan yang kau tahu dia hanya berpura-pura membuatmu bahagia.





8/05/2014
Kakakmu, yang mungkin tak bisa membahagiakanmu.


Boy Candra. 

Sunday, May 4, 2014

Kematian.



Aku turut berduka atas kematian kenangan kita. Tenangkanlah hatimu, percayalah: semua akan baik-baik saja. Tak usah kau pikirkan lagi. Kenangan yang telah mati akan kembali ke asalnya. Ia tak akan lagi mengikat kita. Tak akan lagi membangunkan kita di tengah malam di antara derasnya rintih hujan. Tidak akan juga datang pada tempat-tempat di mana kita pernah memanjatkan harapan. Ia kini telah mati. Perihal kematian, tak ada yang bisa kembali. Karena Tuhan tak pernah bercanda untuk sebuah nama. Kenangan kita sudah tua, selayaknya ia melipat dada. Biarlah ia pergi. Pelan-pelan kita akan kembali, berjalan menyusuri ruang-ruang sepi, melintas di antara raung-raung nyeri.

Aku tahu, kematian selalu mendatangkan sedih, juga pedih. Namun kau harus paham, semuanya akan kembali pulih seiring lelah diculik malam. Hari ini ku tanamkan kisah kita di batu nisan merah muda. Biarlah ia melapuk bersama tangis yang ditinggalkan. Lupakan segalanya. Jika tak bisa semudah kita bicara, belajarkan untuk percaya, bahkan  luka akan sembuh pada waktunya. Lepaskanlah kematian ini, karena kenangan hanya butuh ruang sunyi. Agar ia tak lagi datang menusuk relung hati.



04/05/ 2014
--boy candra.


Monday, April 14, 2014

Manusia lain.


Aku pernah menemuimu di perempat malam, juga di senja di sela larian anak bermain layang-layang. Semua hal yang kau minta, sebisanya aku perjuangkan. Segala hal yang ku lakukan tak lain untuk membuatmu menjadi tenang. Karena, jauh di dalam hati, aku tak ingin cinta yang tumbuh ini tiba-tiba mati. Karena kesepian akan datang memeluki. Dan aku tak mau semua itu terjadi, kepadamu, kepadaku, kepada kita.

Apa yang kurasa, selalu ku jaga. Agar cinta selalu bisa menghangatkan dada. Agar cinta tak pernah membiarkan air mata mendekat. Dan semua hal yang membuatmu tertawa selalu kuiringi dalam doa. Selalu ku jalankan dalam langkah-langkah lelah, meski tertatih, meski letih. Untuk keutuhan kita aku tak pernah menginginkan duka.

Hingga pada suatu hari, ada manusia lain yang kau sebut bagian dari hati. Dia yang diam-diam mencuri hatimu terdalam. Bagaimana bisa? Aku tak pernah lengah menjaga apa yang kita punya. Aku yang selalu menyerahkan segala asa hanya kepada kamu. Hanya ingin hidup denganmu. Tapi kenapa, nyatanya dia yang kau sebut cinta. Dan menusukan sebait kata bernama luka di sudut dada. Begitu dalam. Membuat lebam.

Harusnya aku tak sedih. Karena apa gunanya mempertahankan seseorang yang jelas-jelas tidak pantas dipertahankan. Namun, selain mendatangkan rindu dan bahagia, cinta juga bisa mendatangkan pedih yang tak terkira. Kau sukses memberikan itu kepadaku. Kesakitan ini yang akhirnya membuatku harus belajar berhenti mencintaimu. Harus berhenti merapal doa untuk hidup denganmu. Harus melupakan kenangan bersama anak-anak bermain layang-layang senja itu.

“Kadang, apa yang terlalu kau percaya tak jarang mendatangkan luka yang pedih tak terkira. Seperti dia yang begitu kucinta, dengan sengaja menjadikan manusia lain menjadi bahagianya. Ternyata cinta tak pernah cukup bagi manusia yang tak serius pada hati. Terima kasih pernah menemani, –juga pernah melukai.” 


 
  14.04.2014

--boy candra

Friday, April 11, 2014

Aku pernah.



Harusnya aku tak menaruh apa-apa di matamu. Karena kini begitu sakit rasanya saat menatap kembali. Ada rindu yang dari dulu belum sempat kusudahi, tapi kau segera membawanya pergi. Juga hati yang kau rebut paksa untuk menyudahi janji. Sebelum kita benar-benar menepati.

Harusnya aku tak jatuhkan rasa kepada bibirmu. Karena kini begitu pilu mendengarkan potongan kalimat selamat tinggal untukku. Dengan mudahnya kau lumatkan luka di dada. Tak ada lagi manis manja kata rindu. Yang kau katakan segeralah lupakan aku. Apa kau tak pernah berpikir, bibir manis itu pernah membuatku merasa semuanya tak akan pernah berakhir. Tapi nyatanya kini perpisahan  kau sebut takdir.

Aku tak bermaksud menyalahkan kau yang mengingkari janji. Juga tak mau mengatakan semua luka adalah ulahmu. Hanya saja, setumpuk perih masih saja tersisa. Hingga saat aku tak bisa lagi menemuimu, pedihnya belum juga mereda.

Namun pada akhirnya aku pun harus mengerti. Mencintaimu adalah keputusan yang tak perlu ku sesali. Bagaimana pun aku pernah merasa hangat pelukmu. Pernah mengecup lembut bibirmu. Juga lelaki yang menenangkan sedu sedanmu. Hanya saja, mungkin alam memang tak pernah sepakat untuk kita terus bersama. Biarlah luka ini tetap ku bawa, entah sampai di ujung jalan mana. Entah sampai malam keberapa. Jika kau bahagia, harusnya aku juga bisa bahagia.




-- boy candra

Thursday, April 3, 2014

Patah Hati




Entah kenapa saya selalu menjadi orang yang dicari setiap teman perempuan saya patah hati. Bukan untuk dijadikan kekasih. Tapi hanya sekedar teman berbagi sedih. Seperti hari ini, saat hujan begini saya duduk di teras kantor organisasi kampus saya. Tak ada yang ingin saya nikmati selain menatap rintih-rintih hujan yang turun.
“Kamu sedang sibuk?”
“Iya. Sibuk menatap tetesan hujan yang turun.”
Aku tahu betul, dia tak akan peduli aku sibuk atau tidak, ketika ia hendak bercerita ia akan melakukan itu. Bertanya hanyalah basa-basi saja.
“aku..”
“kamu patah hati, lagi. “
Dia mengangguk. Aku bisa menebak, karena dia tak akan datang saat aku sibuk sendirian, kalau tidak sedang patah hati. Dia paham betul, aku tidak suka diganggu kalau sedang sendiri. Apalagi saat sedang menulis, tapi saat patah hati dia tak akan peduli apa yang aku lakukan. Ya, begitulah orang yang sedang patah hati, yang ia pikirkan hanya bagaimana hatinya bisa kembali pulih.
“ternyata, dia tak seperti yang aku bayangkan. Aku pikir masih ada lelaki yang bisa mencintaiku dengan tulus.” Ia terlihat menghela napasnya. “ternyata lelaki sama saja,”
Hujan semakin deras. Kali ini aku tak menanggapi perkataannya. Aku tak mungkin mengiyakan kalau semua lelaki itu sama saja. Seperti apa yang ia katakan kepadaku. Tapi aku juga tak mungkin membantah apa yang ia katakan, karena perempuan yang patah hati hanya butuh satu hal; didengarkan!
“kenapa kamu diam saja?”
Dia seolah membaca pikiranku. Kali ini, untuk beberapa detik mataku dan matanya bertatapan. Tapi hujan tak berhenti seperti dikebanyakan drama korea yang pernah ku tonton. Mungkin karena kami bukan pasangan kekasih. Hujan mungkin berhenti saat dua orang saling jatuh cinta bertatapan seperti di drama korea.
“teruslah bercerita, aku masih mendengarkanmu.”
“aku harus bagaimana? Apa aku harus berhenti saja mencintai lelaki,”
“maksud kamu?” mataku melotot.
“nggak gitu juga. Emang kamu pikir aku akan jadi lesbian? Ya enggaklah! Hih!” seolah bisa membaca pikiranku.
Syukurlah. Ucapku dalam hati. Aku hanya khawatir kalau dia sempat menyimpang hanya kerena patah hati.  Biar bagaimana pun, ia adalah teman perempuanku yang paling sering curhat tentang hatinya yang patah kepadaku. Aku kenal dengannya sejak dua tahun lalu. Kami sama-sama menjadi anggota muda di organisasi kampus yang sama. Dan sejak dua tahun terakhir, sudah enam kali dia bercerita tentang lelaki yang menyakitinya. Entah karena aku penulis, atau karena aku masih belum punya pacar, banyak perempuan yang memercayakan membagi kisahnya kepadaku. Termasuk perempuan yang satu ini. Aku tak ingin menyebutkan namanya kepada kalian. Karena aku tak ingin tidak dipercaya lagi untuk menjadi teman cerita mereka.
Selama ini mereka mau bercerita kepadaku. Karena aku bisa menjaga rahasia mereka.
Tapi ada yang berbeda dari dia hari ini. Tak seperti biasanya, saat patah hati ia selalu memilih tempat khusus untuk bercerita kepadaku. Tapi tumben sekali ia berani bercerita di tempat umum seperti ini.
“Aku sudah capek disakiti.” Dia ikut menatap air hujan yang jatuh dari atap.
“kamu kenapa masih belum punya pacar sampai saat ini?”
Pertanyaan itu seolah menusukku, menyadarkan kalau dua tahun sudah aku memang tak pernah menggandeng seorang perempuan pun yang kukenalkan kepada anak-anak organisasi kampusku. Termasuk kepada dia.
“aku masih pengen fokus sama kuliah.”
Aku tahu itu jawaban terbasi yang pernah ada di dunia.
Dia hanya tertawa, tak memperpanjang perihal itu. Sepertinya dia paham, kesendirianku adalah hal yang memang tak penting untuk dibahas panjang lebar.
“Lalu apa rencanamu?”
“aku juga ingin seperti kamu. Pengen fokus kuliah saja.”
Untuk pertama kalinya aku merasa sangat ringan menanggapi curhat patah hatinya. Aku masih ingat beberapa kali ia bercerita, aku harus menyiapkan tisu, harus berusaha sekuat mungkin agar dia juga bisa ikut tenang. Tapi kali ini dia berbeda seratusdelapanpuluh derjat.
Entah apa yang ada di benaknya, tapi setidaknya itu menunjukan hal yang lebih baik dari sebelumnya. Jika sebelumnya dia selalu memintaku untuk mencarikan seorang lelaki untuk membuat hatinya sembuh, kali ini ia tak meminta hal itu.
“Tapi kenapa kamu jadi seperti ini?”
Sekarang aku yang mulai heran.
“Candra. Ada kalanya kita harus berhenti membuat orang lain bahagia dengan cara mencintainya. Tapi kita lupa mencintai diri sendiri. Selama ini, aku mencintai banyak lelaki, tapi aku tak pernah benar-benar mencintai diriku sendiri. Aku mencintai mereka agar hatiku bisa kembali pulih. Nyatanya, aku salah. Cinta sebenarnya tak begitu.”
Matanya terlihat tulus menatapku. Aku tahu dia sedang jujur.
“Aku pengen seperti kamu. Dua tahun tanpa kekasih, kamu tetap saja bahagia. Mungkin saatnya aku menyadari, tak selamanya kesendirian itu menyakitkan. Terimakasih ya, sudah memberiku banyak pelajaran tentang cinta. Terimakasih telah menjadi teman yang selalu menemaniku saat patah hati.” Dia menepuk bahuku.
Hujan terdengar semakin sendu. Untuk pertama kalinya, aku merasa gagal menjadi tempat berceritanya.
Dua tahun sudah kupendam rasa untuknya. Dua tahun sudah ku putuskan untuk mendengarkan ia bercerita tentang patah hatinya. Namun hari ini ia memutuskan untuk berhenti mengejar cinta. Dia sudah lepas dari ketakutannya akan kesendirian, sedangkan aku tak pernah lepas dari ketakukan untuk menyatakan perasaan kepadanya. 

***

--boy candra

Sunday, March 16, 2014

Tanpa kenangan.


Kita tak akan pernah ada tanpa kenangan. Jika kau mengharuskan ia habis, habis jualah kita. Bukan bersikeras, karena itu juga berarti menghabiskan aku. Tanpa kenangan aku pun hanya abu. Yang harus kau tahu, kenangan yang mengantarkanku untuk mencintaimu. Cintailah aku tanpa meminta melupakan masalalu. Karena aku juga akan mencintaimu, tanpa pernah peduli bagaimana silau silammu, aku tak peduli bagaimana dulu kau mengeja rasa, yang aku peduli kau dan aku ada untuk terus mengokohkan kita.
Barangkali memang susah kau pahami. Dan aku rasa juga tak perlu menjelaskan tentang dia yang pernah ada. Bagaimana pun juga, perempuan yang cemburu selalu mengesampingkan logika. Ia buta. Dan selalu menghujamkan kalimat; kenapa masih ada dia?  

Yang tak kau tahu, selain aku pernah mencintainya terlalu dalam, luka yang ia tinggalkan menghujam lebam. Menusuk dan membusuk. Yang kau lupa, saat kau membahasnya lagi, bukan bahagia yang datang, tapi lukanya kerap pulang. Pahamilah, pelan-pelan mari kita belajar untuk membiasakan diri berdua, tanpa perlu meminta lupa-lupa yang sudah ada. Pada waktunya semua akan menjadi milikmu selamanya.
Aku tak ingin memastikan apa-apa kepadamu. Jika kau yakin dadamu adalah rumahku. Tentu kau tak akan pernah enggan menyiapkan segalanya. Juga tak akan lelah menghujani doa-doa. Namun jika yang kau percayai aku memang tak pernah bisa hidup tanpa dia, kau akan berlalu begitu saja. Dan aku juga tak ingin tinggal di rumah seseorang yang tak kuat menjaga pintu hatinya sendiri.
Satu hal yang harus kau pahami; jika kau saja tak yakin aku adalah orang yang bisa menempati hatimu, lalu adakah alasanku untuk terus memperjuangkanmu?


-- Boy Candra

Thursday, March 13, 2014

Tamu dan pohon kecil


Perasaan bukanlah mobil-mobilan atau barbie  bagi anak kecil. Ia bukan benda mati yang bisa kau minta dengan menangis, lalu kau dapatkan untuk membuatmu tertawa. Bukan begitu etikanya, bukan begitu caranya. Rasa yang tumbuh itu bak pohon kecil, berkembang dan semakin besar bila kau terus merawatnya. Memupuk, dan memperhatikannya sepenuh hati. Jangan biarkan ia tumbuh kerdil karena kau tak mau merawatnya, tapi kau memaksa untuk memilikinya.
Tak ada yang bisa tumbuh dengan semena-mena. Yang hidup selalu membutuhkan nutrisi, baik berupa doa atau sentuhan rasa. Tak ada yang bisa hidup dengan hampa, meski selalu ada hidup yang penuh kehampaan. Begitu pula rasa cinta, ia akan tumbuh bila kau memberinya apa yang ia butuh. Selain berdoa, kau bisa merawat rindu dengan temu agar tak berbuah sendu.
Cinta bisa datang pada siapa saja, kapan saja, dimana, juga dengan cara apa saja. Tapi pahamilah, ia hanya bisa datang dengan cara begitu, tapi ia tak akan tumbuh, jika saat ia datang kau tak menyambutnya dengan baik. Ia akan segera berbalik lalu pergi meninggalkanmu. Karena cinta adalah tamu, ia akan betah bila kau menjamu dengan rasa suka, jika ia merasa kau memperlakukannya dengan baik, tak akan sungkan ia akan merumah di hidupmu. Namun jika ia tak kau perlakukan dengan baik, ia akan pergi lagi. Mungkin tak akan pernah kembali.
Tamu akan pergi bila tak ada ramah tamah pemilik rumah, pohon kecil pun begitu.

-- Boy Candra