Monday, May 26, 2014

Tetaplah merokok, dan biarkan kami hidup lebih lama.

  
Saya tidak bermaksud melarang orang-orang untuk merokok. Karena saya tahu, saya termasuk orang yang tidak suka dilarang. Saya paham, bagi mereka yang candu rokok, itu adalah satu kesenangan. Dan tak ada orang yang suka kesenangannya diusik. Tapi melakukan kesenangan di atas ketidaknyamanan orang lain bukankah sesuatu yang kurang baik?

Saya menuliskan ini, karena saya resah. Saya ingin mengajak bertukar pikiran. Sekali lagi saya katakan; saya tidak ingin melarang orang merokok, karena ayah saya juga salah satu di antaranya, saya menghormati perokok, saya menghormati ayah saya. Tapi ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan, semoga bisa kita renungkan.  


Saya tidak percaya; berhenti merokok membuatmu kaya. Tapi saya percaya tidak merokok di tempat umum kamu membuat orang lain tetap bahagia.

Jika kamu perokok, kamu tak usah berhenti merokok. Cukup berhenti merokok di dekat orang yang tidak merokok.

Tak ada yang salah dengan merokok bagimu, tak ada salahnya juga kan untuk jeda merokok dan tetap menjaga hak orang lain agar tak terganggu?

Merokok adalah hak individu, tapi memberi udara yang nyaman pada orang yang tidak merokok juga hak mereka.

Merokok di tempat umum, yang ada orang tidak merokok di sana sama saja dengan merampas hak orang lain.

Salah satu cara menghargai teman yang tidak perokok, adalah dengan tidak merokok di dekatnya.

Yang membuat kita melakukan kesalahan berkali-kali adalah ketidakmauan kita untuk peduli. Kita menuntut untuk dihargai, namun sering kali kita lupa menghargai hak-hak kecil orang lain.

Tetaplah merokok! Dan biarkan kami tetap hidup lebih lama.


Boy candra

26/05/2014

Thursday, May 22, 2014

Menyembuhkan.

dear adik-adik yang curhat di email. 

Menyembuhkan luka itu memang tak semudah makan sate Padang, dik. Apalagi kalau lapar, sebentar juga beres. Abis. 

Menyembuhkan luka butuh proses yang agak panjang, sekarang tergantung kamu. Mau berlama-lama dalam kesedihan, atau bersyukur karena kamu tahu siapa dia sebenarnya. 

Nggak kebayang kan kalau kamu tahunya setelah kalian menikah, atau setelah kalian punya anak? pasti akan lebih sakit. 

Sekarang, kamu jalani saja hidup yang baru, buka hati lagi, selalu ada cinta baru yang mampu menyembuhkan. Meski kemungkinan terluka selalu ada. Tak usah takut! itulah hidup.


--boy candra

Wednesday, May 21, 2014

Ayah dan apa yang saya pikirkan.




Saya sangat menghormati ayah saya. Saya tidak pernah merasa lebih pintar dari beliau. Meski tak jarang kami berbeda pandangan. Namun bagi saya, tidak sepantasnya saya membantah apa yang beliau pikirkan. Tidak pantas anak menyalahkan ayah. Meski kadang, apa yang saya pikirkan sudah tidak sesuai dengan apa yang ayah saya pikirkan. Di satu hal saya sadar; ayah adalah akar untuk anaknya. Tidak akan pernah pohon kuat, kalau akarnya tidak kuat. Saya tidak akan pernah menjadi lebih kuat untuk berdiri kalau ayah saya tidak punya pikiran seperti itu. Karena itu, saya harus belajar memahami kenapa dia berpikir seperti itu.

Sering kali saya memiliki keresahan hati; ini tidak seperti yang ayah pikirkan. Tapi, saya tidak akan membantah apa yang ayah saya katakan. Bagaimana pun, sebisanya saya tidak ingin membuat ayah saya sedih. Dia telah membesarkan saya, membuat saya mampu berpikir tentang banyak hal. Jika nanti saya membantah apa yang ia katakan dengan apa yang saya dapatkan di luar; secara tegas, tentu ayah akan sedih. Dan kesedihan ayah adalah salah satu kegagalan anak paling parah.

Jika ayah berbeda pandangan, saya akan mencari jalan pikirannya. Lalu mencerna kembali, jika ada kesempatan, saya akan bertukar pikiran dengannya. Tanpa membantah pikiran beliau. Tanpa membuat beliau merasa saya lebih pintar. Karena saya memang tak akan lebih pintar dari ayah saya. Tapi saya bisa belajar berpikir tentang apa yang ayah saya belum sempat pikirkan. Mungkin karena dia selalu memikirkan hidup saya; bagaimana anaknya bisa sampai seperti saat ini, lebih baik dari hari ini. Dia mengabaikan hal-hal yang akhirnya akan didebat oleh anaknya.

Semoga saya tidak melakukan hal itu. Saya tetap ingin menjadi anak yang membuat ayah saya mengerti, saya adalah anak yang tidak ingin membantah apa yang ia pikirkan. Biarlah kepala saya beradu argumen sendiri. Biarlah isi kepala saya saling berontak. Asal ayah saya tetap percaya; dia adalah ayah yang saya hargai sepenuh jiwa saya. Dia adalah ayah yang membuat saya tetap tenang menjadi anaknya. Dia adalah ayah yang tidak akan pernah saya tandingi, dan memang tak ingin saya kalahkan pandangan hidupnya.

Saya hanya ingin; ayah saya tetap menjadi dirinya. Ayah yang selalu berpikir agar anaknya terus belajar menjadi hebat. Sebab dengan begitu, ia akan selalu mendoakan, memikirkan, bagaimana  anaknya agar jadi lebih hebat lagi. Karena itu, saya tidak pernah ingin terlihat hebat di mata ayah saya. Agar dia tidak berhanti mencintai saya.




12:57 wib
21 mei 2014


---Boy candra

Thursday, May 8, 2014

Surat kepada Adik.



Apa yang kau kejar, dik? Mencintai tanpa dicintai itu terasa sakit. Dan terlebih lagi, kau mencintai dia tapi dia hanya berpura-pura mencintaimu. Kau merasakan perihal itu, namun kau tak tega melepaskannya. Sungguh malang nasibmu dik, kau tahu kau tak bahagia. Tapi kau tetap saja memaksakan semuanya. Jika kini kau terluka, siapa yang salah?

Dik, kau harus ingat kata ibu kita; kebahagiaan tak perlu kau tumpangkan kepada siapa pun. Tidak juga pada ibu! Lalu kenapa kau malah menaruh harap kepada orang yang jelas-jelas kau tahu dia hanya memberikan hal semu.

Ayolah dik. Coba berpikir jernih. Kau telah dibutakan oleh hal yang sama sekali bukan bahagiamu. Orang yang hanya akan kau sesali suatu hari nanti. Bahwa kamu telah menyia-nyiakan waktumu untuk membuat ia mengerti. Padahal kau tahu pasti, dia tak akan pernah berubah. Ia hanya berpura-pura. Dan kau juga paham betul, kebahagiaan bukanlah sebuah kepura-puraan.

Aku hanya kakak yang tak tega melihatmu terluka. Tapi, aku juga tak bisa memaksamu untuk melepaskannya. Karena seperti yang ku katakan kepadamu tadi, kebahagiaan tak pernah bisa ditumpangkan. Termasuk kepadaku, kakakmu sendiri. Bahagiakanlah dirimu, dik, dengan melepaskan yang kau tahu dia hanya berpura-pura membuatmu bahagia.





8/05/2014
Kakakmu, yang mungkin tak bisa membahagiakanmu.


Boy Candra. 

Sunday, May 4, 2014

Kematian.



Aku turut berduka atas kematian kenangan kita. Tenangkanlah hatimu, percayalah: semua akan baik-baik saja. Tak usah kau pikirkan lagi. Kenangan yang telah mati akan kembali ke asalnya. Ia tak akan lagi mengikat kita. Tak akan lagi membangunkan kita di tengah malam di antara derasnya rintih hujan. Tidak akan juga datang pada tempat-tempat di mana kita pernah memanjatkan harapan. Ia kini telah mati. Perihal kematian, tak ada yang bisa kembali. Karena Tuhan tak pernah bercanda untuk sebuah nama. Kenangan kita sudah tua, selayaknya ia melipat dada. Biarlah ia pergi. Pelan-pelan kita akan kembali, berjalan menyusuri ruang-ruang sepi, melintas di antara raung-raung nyeri.

Aku tahu, kematian selalu mendatangkan sedih, juga pedih. Namun kau harus paham, semuanya akan kembali pulih seiring lelah diculik malam. Hari ini ku tanamkan kisah kita di batu nisan merah muda. Biarlah ia melapuk bersama tangis yang ditinggalkan. Lupakan segalanya. Jika tak bisa semudah kita bicara, belajarkan untuk percaya, bahkan  luka akan sembuh pada waktunya. Lepaskanlah kematian ini, karena kenangan hanya butuh ruang sunyi. Agar ia tak lagi datang menusuk relung hati.



04/05/ 2014
--boy candra.


Monday, April 14, 2014

Manusia lain.


Aku pernah menemuimu di perempat malam, juga di senja di sela larian anak bermain layang-layang. Semua hal yang kau minta, sebisanya aku perjuangkan. Segala hal yang ku lakukan tak lain untuk membuatmu menjadi tenang. Karena, jauh di dalam hati, aku tak ingin cinta yang tumbuh ini tiba-tiba mati. Karena kesepian akan datang memeluki. Dan aku tak mau semua itu terjadi, kepadamu, kepadaku, kepada kita.

Apa yang kurasa, selalu ku jaga. Agar cinta selalu bisa menghangatkan dada. Agar cinta tak pernah membiarkan air mata mendekat. Dan semua hal yang membuatmu tertawa selalu kuiringi dalam doa. Selalu ku jalankan dalam langkah-langkah lelah, meski tertatih, meski letih. Untuk keutuhan kita aku tak pernah menginginkan duka.

Hingga pada suatu hari, ada manusia lain yang kau sebut bagian dari hati. Dia yang diam-diam mencuri hatimu terdalam. Bagaimana bisa? Aku tak pernah lengah menjaga apa yang kita punya. Aku yang selalu menyerahkan segala asa hanya kepada kamu. Hanya ingin hidup denganmu. Tapi kenapa, nyatanya dia yang kau sebut cinta. Dan menusukan sebait kata bernama luka di sudut dada. Begitu dalam. Membuat lebam.

Harusnya aku tak sedih. Karena apa gunanya mempertahankan seseorang yang jelas-jelas tidak pantas dipertahankan. Namun, selain mendatangkan rindu dan bahagia, cinta juga bisa mendatangkan pedih yang tak terkira. Kau sukses memberikan itu kepadaku. Kesakitan ini yang akhirnya membuatku harus belajar berhenti mencintaimu. Harus berhenti merapal doa untuk hidup denganmu. Harus melupakan kenangan bersama anak-anak bermain layang-layang senja itu.

“Kadang, apa yang terlalu kau percaya tak jarang mendatangkan luka yang pedih tak terkira. Seperti dia yang begitu kucinta, dengan sengaja menjadikan manusia lain menjadi bahagianya. Ternyata cinta tak pernah cukup bagi manusia yang tak serius pada hati. Terima kasih pernah menemani, –juga pernah melukai.” 


 
  14.04.2014

--boy candra

Friday, April 11, 2014

Aku pernah.



Harusnya aku tak menaruh apa-apa di matamu. Karena kini begitu sakit rasanya saat menatap kembali. Ada rindu yang dari dulu belum sempat kusudahi, tapi kau segera membawanya pergi. Juga hati yang kau rebut paksa untuk menyudahi janji. Sebelum kita benar-benar menepati.

Harusnya aku tak jatuhkan rasa kepada bibirmu. Karena kini begitu pilu mendengarkan potongan kalimat selamat tinggal untukku. Dengan mudahnya kau lumatkan luka di dada. Tak ada lagi manis manja kata rindu. Yang kau katakan segeralah lupakan aku. Apa kau tak pernah berpikir, bibir manis itu pernah membuatku merasa semuanya tak akan pernah berakhir. Tapi nyatanya kini perpisahan  kau sebut takdir.

Aku tak bermaksud menyalahkan kau yang mengingkari janji. Juga tak mau mengatakan semua luka adalah ulahmu. Hanya saja, setumpuk perih masih saja tersisa. Hingga saat aku tak bisa lagi menemuimu, pedihnya belum juga mereda.

Namun pada akhirnya aku pun harus mengerti. Mencintaimu adalah keputusan yang tak perlu ku sesali. Bagaimana pun aku pernah merasa hangat pelukmu. Pernah mengecup lembut bibirmu. Juga lelaki yang menenangkan sedu sedanmu. Hanya saja, mungkin alam memang tak pernah sepakat untuk kita terus bersama. Biarlah luka ini tetap ku bawa, entah sampai di ujung jalan mana. Entah sampai malam keberapa. Jika kau bahagia, harusnya aku juga bisa bahagia.




-- boy candra