Showing posts with label fiksi. Show all posts
Showing posts with label fiksi. Show all posts

Thursday, November 20, 2014

Obrolan dan hal sederhana denganmu.



Hari ini tidak begitu buruk. Meski aku ketiduran hampir sepanjang hari. Dan hari berjalan kaki beberapa kilo meter. Karena supir angkutan umum di kota ini pada demo mogok kerja. Aku harus pergi ke sebuah toko, membeli sesuatu yang aku butuhkan. Alhasil aku memilih menikmati apa saja yang bisa aku lakukan. Selama ini aku selalu berusaha untuk tidak mengeluh. Dan hari ini aku juga tidak akan mengeluh. Karena saat tertimpa hal yang kurang menyenangkan, jika dibuat mengeluh, hanya akan menambah beban batin. Karena itu, aku berusaha menikmatinya saja.

Entah angin apa yang membawamu. Kau datang beberapa saat ketika aku hendak berangkat. Dan, aku juga tidak mengerti. Mengapa akhirnya kau memilih ikut berjalan kaki. Padahal, aku tahu betul. Begitu banyak perempuan yang tidak akan bersedia berjalan kaki –jarak yang cukup jauh- di kota ini. Apalagi perempuan zaman sekarang. Setidaknya, itulah yang sering terjadi selama ini. Aku melihat pacar teman-temanku. Yang mengeluh dan harus membuat kekasihnya mengalah.

Sepanjang jalan kita membahas banyak hal. Obrolan-obrolan ringan. Tentang lelaki dan perempuan. Tentang anak lelaki dan anak perempuan. Tentang bagaimana mencintai seseorang saat kita sudah tumbuh dewasa. Sampai kita pada pembahasan, kalau mencintai seseorang, kau juga harus belajar meluluhkan hati orang tuanya. Ah, itu bagian terserius yang kita bicarakan hari ini. Di tengah panas matahari yang jatuh di kota ini.  

Hingga akhirnya, kita berhenti di pinggir muara. Dekat jembatan di sebuah mal besar kota ini. Sungguh, ini bukan perjalanan sepasang kekasih yang biasa kau baca di novel romantis. Bukan juga kencan sepasang kekasih yang menghabiskan kopi puluhan ribu di kafe. Kita hanya duduk di pinggir muara. Melepas letih. Menatap nelayan yang tak sempat ikut demo. Melihat orang-orang memancing. Berbicara banyak hal. Sambil terus menunggu senja. Sesekali kau tersenyum dan bersorak. Matamu melihat burung-burung yang terbang menangkap ikan. Hari ini kota kita tidak seperti biasa. Tidak ada angkutan kota yang mau memuat penumpang. Namun kita masih bisa merasakan bahagia. Meski harus berjalan kaki. Meski hanya menatap kapal-kapal nelayan tanpa ada pelangi.


Boy Candra | 20/11/2014

Wednesday, November 19, 2014

Tak perlu tergesa-gesa.



Belakangan aku hanya ingin sendiri. Menikmati hari-hari sendiri. Tanpa siapa pun. Tidak ada alasan yang perlu dijelaskan untuk itu. Aku hanya ingin sendiri. Dan itu cukup untuk menjadi alasan yang kuat. Bukankah semua yang kita jalani berawal dari keinginan? Meski tanpa kita sadari, meski tidak atas keinginan kita sendiri. Semisal, kamu harus kuliah di jurusan A, itu ingin orang tuamu. Walau pun kau tak ingin, kau tetap menjalaninya. Apalagi yang sudah menjadi keinginan sendiri, tentu tidak butuh penjelasan. Sebab, apa yang diinginkan diri sendiri memang tidak semuanya harus dijelaskan kepada orang lain. Jika itu berkaitan dengan hal yang bisa dilakukan sendiri. Seperti aku sedang ingin sendiri. 

Tidak kupungkiri, sejak berakhir luka denganmu. Rasanya untuk jatuh cinta kembali cukup sulit. Perasaan yang ada di dadaku semakin rumit. Padahal aku bukan orang yang menutup hati kepada orang lain. Sama sekali tidak. Aku selalu dengan senang hati mengenali orang baru. Namun entah kenapa sejak hari di mana kau dan aku tidak lagi menjadi kita. Aku merasa lebih baik sendiri saja. Sampai waktu yang tidak pernah bisa kuperkirakan. Aku hanya menikmati apa yang aku jalani. Merasa bahagia, meski bukan dengan cara bahagia kebanyakan orang. Berkekasih.

Namun beberapa hari belakangan. Aku merasa nyaman dengan seseorang. Entahlah, perasaan nyaman seperti apa yang aku rasakan. Kami hanya berbalas pesan singkat. Dan terkadang butuh waktu yang lama untuk menerima balasan darinya. Atau aku kadang juga butuh waktu yang lama untuk membalas pesan singkatnya. Bukan karena apa-apa. Aku memang sedang sibuk dengan pekerjaanku. Menulis buku baru. Hingga saat pesan masuk ke ponsel. Aku sering kali mengabaikan. Maklum saja, selama ini hanya operator selular yang iseng. Atau promo tidak jelas yang mengirimiku pesan singkat. Bukan ngenes, aku memang lebih suka berteleponan kalau sedang ada urusan mendesak.

Entahlah, aku juga tidak mengerti. Beberapa kali menerima pesan singkat darinya. Terasa agak berbeda. Aku seolah menantikan dia membalas pesanku. Meski tetap sibuk dengan pekerjaanku. Tidak ada perasaan menggebu-gebu seperti jatuh cintanya remaja. Semua berjalan dengan semestinya. Aku senang, dia sekarang ada di kepalaku lebih sering dari kesepian tanpamu. Aku senang, jika hari ini aku mulai merasa, aku tidak sedang ingin sendiri. Setidaknya, aku senang membalas pesan singkat darinya. Meski sering membalasnya telat. Ya, tak banyak memang yang bisa kuharapkan, hanya saja, kalau ini jatuh cinta. Jatuhlah dengan semestinya. Tak perlu tergesa-gesa.

Boy Candra | 19/11/2014


Saturday, November 15, 2014

Aku dan puisi.


Sebenarnya aku adalah orang yang suka dengan puisi tanpa disadari. Waktu kecil, aku sama sekali tidak pernah dibelikan oleh ayahku buku puisi. Tidak pernah dibacakan puisi juga. Mungkin karena ayahku bukan orang yang suka buku. Dia hanyalah penjual bubuk kopi keliling. Usaha keluarga kami sekitar lima belas tahun yang lalu. Setiap pekan, aku selalu menyusul ayah ke pasar –sepulang sekolah. Meminta rp.1000,- untuk membeli komik Petruk. Kadang ayah memberi uang lebih. Aku bisa membeli lebih banyak komik petruk. Dulu harganya masih rp.500,- per komik. Sama sekali tidak ada puisi di dalamnya. Hanya ada cerita lucu. Meski tak jarang malah cerita tentang kuntilanak.

Pengaruh dari membaca komik bertahun-tahun. Sejak kelas 4 SD, aku mulai suka menggambar. Hampir semua buku tulisku, kubikinkan gambar. Tidak komik. Hanya sketsa tidak jelas. Aku membuat adegan dan percakapan. Dulu, kupikir aku sudah lumayan bagus menggambar. Tapi kini, kalau ingin menggambar lagi, sepertinya butuh latihan bertahun-tahun. Sampai tingkat SD, aku sama sekali belum menyukai puisi. Meski sudah mulai suka lirik lagu Malaysia. Salah satu lirik lagu yang tak terlupakan adalah lagu Sultan, “cinta di manakah kini? Cinta kini aku sendiri.”

Entahlah, sedari kecil (kalau dipikir ulang) aku sudah dirasuki aroma kegalauan. Sewaktu melanjutkan sekolah ke tingkat SMP, sepertinya itulah awalnya aku mulai mengenal puisi. Ya, aku mulai menulis (sejenis lirik lagu, meski lebih kepada curhat) di buku-buku pelajaranku. Aku menulis tentang seseorang yang kukenal dari SD. Teman perempuan yang mulai kusenangi, lebih dari sekedar teman. Namun itu tak berlangsung lama. Setahun kemudian aku harus pindah sekolah. Ada hal yang memaksaku meninggalkannya. Kisah kami berakhir tanpa pernah aku akhiri, pun dia akhiri.

Di sekolah baru, aku mengenal beberapa perempuan baru. Ah, pada masa itu masa paling mudah untukku jatuh cinta. Berlembar-lembar buku kutulisi puisi. Aku bertemu dengan perempuan baru. Jatuh cinta kepadanya. Mungkin ini pertama kalinya aku menyatakan perasaan kepada perempuan dengan tiga buku yang kutulisi puisi. Tentu, dia menerimaku. Meski akhirnya aku dan dia memilih untuk menjadi teman saja. Setelah berpacaran beberapa hari, aku paham dia hanya butuh puisi, bukan hati.

Namun hari ini, sejak dua tahun yang lalu. Aku tidak ditemani oleh perempuan. Ya, ini pilihan. Aku memilih untuk menikmati kesendirian. Menikmati apa saja yang bisa kulakukan. Aku ingin mencintai diriku sendiri lebih banyak lagi. Namun entah kenapa, justru sejak dua tahun belakang, aku menulis begitu banyak puisi. Entahlah, dulu saat bersamamu, aku sama sekali tidak bisa menuliskan puisi lebih banyak. Namun sejak hati kau patahkan. Menulis puisi terasa sebagai obat. Meski tak pernah membuat aku merasa lebih sehat.

Boy Candra | 15/11/2014


Tuesday, November 11, 2014

Bukan sepasang kekasih tapi seperti sepasang kekasih.

           
Kita adalah dua orang rumit. Kita memilih menjalani hubungan yang sulit. Namun itu tidak masalah bagiku. Sedangkan kau juga merasa begitu. Kita tidak memiliki status yang jelas. Kita hanya ditautkan rasa nyaman. Aku senang saat kau mampu membuat aku tertawa bahkan sampai harus memegangi perutku. Katamu, kau suka setiap kali aku tersenyum. Ah, kau memang suka menggoda. Dan aku selalu rindu caramu saat kita beberapa hari tidak bertemu. 

Pernah suatu kali, aku bertanya kepadamu perihal apa tujuan kita. Kau menjawab dengan santai. Bahkan seolah tidak ada masalah sama sekali. “Kita jalani saja. Kalau kita bahagia, kenapa harus memikirkan hal yang aneh-aneh?” Aku berusaha menerima teorimu. Aku pikir, benar juga, kalau kita bahagia kenapa harus memikirkan hal yang lain. Ucapan teman-temanku saja yang kadang masih terngiang di telingaku. Tapi ya sudahlah, kalau memang kita saling nyaman. Toh, buat apa mendengarkan orang lain yang hanya bisa komentar? Yang menjalani, kan, kita.  

Aku mengabaikan apa saja pendapat orang lain. Sudahlah. Memang tak ada gunanya terlalu memusingkan padangan orang lain. Hidup akan terlalu rumit jika hanya mendengarkan pilihan orang lain untuk hidup kita. Dan memang benar kata orang-orang. Terkadang kita perlu bodoamat untuk beberapa hal. Agar kita tidak mati muda. Aku memilih menikmati apa saja yang kita rasakan. Menjalani hari-hari denganmu. Semakin hari kita semakin dekat. Semakin terasa lebih dari sekedar teman. Hubungan kita makin dalam. Namun aku tidak punya status yang jelas untuk menyimpulkannya.

Namun semakin hari. Semakin aku mencoba menenangkan pikiranku. Semakin aku mencoba untuk tidak memedulikan ucapan orang-orang. Aku merasa semakin terombang ambing. Perasaanku kian tumbuh. Kita melakukan hal-hal yang dilakukan orang berpacaran pada umumnya. Namun aku tidak berhak menyebutmu pacarku. Aku tidak pantas mengakuimu pacarku kepada orang-orang. Semakin aku mengabaikan pikiran itu. Aku semakin dihantui oleh pertanyaan: sebenarnya hatiku ini apa, kenapa seolah aku yang sengaja mempermainkannya?

Perasaan itu terus tumbuh. Pada akhirnya aku semakin terjebak pada kita yang tak jelas. Pada kita yang hanya teman, tapi melebihi teman. Pada kita yang bukan kekasih, tapi seperti sepasang kekasih. Hingga akhirnya aku harus mengakui. Aku tidak bisa lagi begini. Sebab, setiap dua orang yang sudah nyaman, memang selayaknya memperjelas apa yang sedang mereka jalani. Agar tidak ada lagi sesak atas ketidakjelasan ini.


Boy Candra | 11/11/2014

Wednesday, November 5, 2014

Tak pernah mau belajar.


Kita selalu berharap dicintai. Selalu ingin mendapatkan terbaik. Tidak salah memang. Sebab sewajarnya manusia menyukai yang indah. Menyenangi hal-hal yang membuat senang. Tak ada manusia yang ingin menderita. Apalagi menderita akibat orang yang dia cinta. Pada dasarnya semua orang ingin bahagia. Ingin dibahagiakan. Selalu merasa sempurna saat ada orang lain menjadikannya  istimewa.

Namun terkadang, sebab ingin dicintai. Sebab ingin dibahagiakan. Seringkali membuat seseorang menjadi penuntut. Seringkali membuat seseorang menjadi ingin selalu dinomorsatukan. Ingin selalu menjadi orang yang diperhatikan. Menjadi terlalu banyak meminta, hingga lupa cara mencinta. Terlalu banyak berharap, kerap lupa menjaga sikap. Ingin disegalakan.  

Kamu lupa, yang kamu cintai adalah manusia biasa. Sama seperti kamu. Butuh juga dikasihsayangi, diperhatikan, dipedulikan. Tidak hanya mengasihi, memerhatikan, memedulikan. Sebab, asmara sebenarnya adalah hubungan timbal balik dua hati yang harus saling membakar, agar tetap membara dan tak mati.

Kalau tiba-tiba aku meninggalkanmu tanpa alasan, mungkin aku lelah dengan kamu yang terlalu banyak alasan. Kamu yang selalu ingin menang sendiri. Kamu yang tidak mau berdiskusi dengan dirimu sendiri. Yang lupa cara mencinta, yang tak peduli bahwa hati orang yang mencintaimu kerap tersiksa. Jika pada akhirnya aku menyerah, bukan karena cintaku lemah. Barangkali kau yang tak pernah mau belajar dan enggan mengakui bahwa sikapmu memang salah.

Boy Candra | 05/11/2014


Saturday, October 25, 2014

Di balik rencana.


Malam ini hujan turun dengan angkuhnya. Sedari pukul lima sore. Padahal kita sudah membuat janji untuk menikmati malam Minggu berdua. Bahkan untuk menentukan kemana kita malam ini, kau dan aku sempat berdebat. Kau ingin ke toko buku.  Sedangkan aku ingin mengajakmu datang ke acara malam puisi (aku sebenarnya telah menyiapkan puisi untuk kubacakan di depan semua orang –untuk kamu). Namun akhirnya, kita sepakat: setelah ke toko buku, barulah kita datang ke acara malam puisi. Katamu, ke toko bukunya hanya sebentar, kau hanya ingin membeli buku baru penulis idolamu.

Kau tahu? Jauh sebelum malam ini, dua minggu yang lalu. Aku sudah menyiapkan semuanya untukmu. Juga, sebenarnya acara malam puisi ini adalah salah satu hal yang aku tunggu. Dan semuanya seperti kebetulan, malam ini kau ulang tahun. Dan aku pikir, sebuah puisi untuk menikmati malam berdua denganmu adalah cara berdoa paling rindu.

Pukul tujuh empat puluh lima malam. Hujan belum juga reda. Malah semakin lebat. Seperti enggan menyediakan waktu untuk merasakan hangatnya malam Minggu. Kita terus berkabar. Berharap hujan segera berhenti. Agar kita bisa keluar rumah, dan bertemu di toko buku, lalu berangkat berdua ke acara malam puisi.

Satu jam kemudian, kau melunak. Katamu, kita tidak usah ke toko buku. Kita segera ke malam puisi saja. Lalu berharap hujan segera reda. Kau terdengar sedikit mengeluh, kau tidak suka hujan saat ingin berpergian seperti ini. Aku hanya bisa mengamini doamu, berharap yang sama. Agar setelah hujan reda kita bisa segera bertemu.

Dua jam kemudian hujan tidak juga berhenti. Semua rencana yang telah kita susun sedemikian rupa batal begitu saja. Padahal kita sempat berdebat menentukan kemana kita akan pergi. Sekarang tidak ada toko buku dan malam puisi. Tidak juga ada pelukan saat malam ulang tahunmu. Namun kita tetap bisa bersama. Berdua di balik ponsel, di rumah masing-masing. Berharap yang sama. Meski kita tidak berada pada ruang yang sama, kita selalu bisa menikmati cinta. Walau tidak sesuai rencana.

Memang benar, terkadang apa yang kita rencanakan sebaik mungkinpun belum tentu bisa terlaksana dengan baik. Namun di balik semua yang gagal ada hal manis yang tertinggal. Kita selalu kemana-mana berdua, menikmati apa saja berdua. Bahkan setiap ulang tahun kita selalu merayakannya berdua. Namun malam ini Tuhan berkehendak lain, Tuhan hanya ingin kita menikmati cara yang lain. Menikmati hujan dan belajar memanjatkan doa berdua tanpa perlu kemana-mana.

Boy Candra | 25/10/2014


Friday, October 24, 2014

Menangislah jika rasanya melegakanmu walaupun itu tak berarti lagi.


Suatu hari kita pernah berada pada titik ini:

Kamu yang baru saja patah hati. Sangat merasa tersakiti oleh lelaki yang kamu cintai. Dan tidak ada hal yang ingin kamu inginkan selain tetap bersamanya. Membuat dia kembali mencintaimu. Sedangkan dia sudah memilih perempuan lain sebagai orang yang dia cintai. Bukan hanya sebagai pacar, tapi lelaki yang kau sebut kekasihmu itu telah memilih menikahi perempuan lain. Yang sebenarnya tidak lebih cantik dari dirimu.

Kau menangis sejadi-jadinya, membayangkan banyak hal yang tidak akan bisa kau lewati sendiri. Aku hanya membiarkan kamu yang menangis seperti orang kehilangan separuh hidupnya itu. Meski belum pernah ditinggal menikah oleh orang yang aku cintai, tapi setidaknya aku tahu rasanya. Aku pernah ditinggal mati oleh nenekku. Perempuan yang dari kecil merawatku, semenjak ibu memilih lebih dulu ke surga. Jadi, aku paham rasanya kehilangan.

Setelah kau kehabisan suara, barangkali air matamu juga lelah berproduksi. Kau memilih menyerah. Meski tidak mampu tersenyum. Kau bertanya kepadaku. Bagaimana cara melupakan. Bagaimana cara agar kau hidup dengan bahagia tanpa dia. Namun beberapa saat kemudian air matamu malah keluar lagi. Kau menangis sejadi-jadinya lagi. Padahal aku baru saja ingin mengatakan sesuatu.

Kau harusnya paham. Bahwa menangis tidak pernah mampu mengembalikan sesuatu (kecuali kau anak kecil yang sedang dengan ayahmu, atau ibumu, di toko mainan, atau mainanmu diambil temanmu). Namun jika kau menangis untuk sebuah perasaan, untuk seseorang yang memilih hilang, tangisanmu sungguh tidak akan mengembalikan apapun. Jangankan seseorang yang memilih hilang. Kucing betina kesayanganmu yang memilih mati sebelum memiliki anak pun, tidak akan pernah hidup lagi walau kau menangis seminggu tanpa henti. Apalagi kekasih yang memilih pergi dan memilih melupakanmu.

Hari itu, aku hanya membiarkanmu menangis, kau berhak menangis sejadi-jadinya. Meski kau tahu tangisanmu sudah tak berarti baginya. Lagi pula, apa yang bisa kulakukan untuk membuat kekasihmu yang menikah itu kembali kepadamu?


Boy Candra | 24/10/2014

Thursday, October 16, 2014

Jangan terlalu lemah.



Suatu hari saat duduk santai di tempat yang biasa aku datangi untuk menulis. Aku didatangi seorang perempuan. Aku menatap ke arahnya, dia masih cantik seperti dulu. Hanya saja ada sedikit yang berbeda dari dirinya, matanya terlihat agak sendu. Ada kesedihan yang tak mampu disamarkan oleh senyumannya yang dipaksakan.

Setelah basa-basi, akhirnya dia lepas kendali juga. “apa yang kau lakukan jika kau seorang perempuan namun kau dibohongi kekasihmu berkali-kali?”

Aku berhenti manatap laptopku. Lalu berusaha tersenyum, “aku tidak ingin menjadi perempuan!” jawabku sekenanya.

“kenapa?”

“karena perempuan bukan untuk dibohongi. Jika pun aku menjadi perempuan, aku tidak akan membiarkan lelaki membohongiku berkali-kali.”

“lalu, jika kenyataannya kau dibohongi apa yang akan kau lakukan?”

“aku akan pergi meninggalkannya,”

Kami terdiam. Dia menatap mataku.

“sama seperti kau meninggalkan aku dulu, padahal dulu aku tidak membohongimu. Kau lebih percaya kepada dia. Dan kini kau dibohonginya berkali-kali. Kau tetap saja bertahan dengannya. Aku tidak mengerti cara berpikirmu.” Aku menggelengkan kepala. Entah kenapa perasaan dulu yang pernah ada tiba-tiba sesak kembali. Timbul seperti dendam. Padahal aku sudah berusaha menganggap dia sebagai teman. Sebagai teman biasa, tidak lebih. 

“aku datang meminta pendapatmu, bukan menjadi orang yang harus kau salahkan,”

“aku tidak menyalahkanmu,” Aku menurunkan nada suara, “aku hanya merasa sedih. Kenapa kau masih saja bertanya apa yang harus kau lakukan kepadaku. Sedangkan kau tahu, dia sudah membohongimu berkali-kali. Harusnya kau tahu apa yang akan kau pilih!”

Kami diam lagi. Lebih lama.

Dia memang seperti itu, terlalu lemah menjadi perempuan. Padahal dia tahu, dia sudah dibohongi dari awal. Namun, aku tidak bisa menyalahkannya. Aku yang mencintainya, juga tak pernah mampu mengalahkan perasaanku sendiri. Aku masih berbohong kalau aku tidak lagi mencintainya.

Ada hal yang tidak dia pahami dari cinta. Dia lupa, dia tidak bisa merubah sikap seseorang, tapi dia bisa memilih hidup yang lebih baik. Dengan tidak membiarkan dirinya tersakiti lagi. Karena memang ada saatnya kita harus melepaskan seseorang, bukan karena tidak mencintainya, namun demi menjaga hati kita sendiri agar tidak terluka lagi oleh sikap yang sama –orang  yang sama.    



Boy Candra | 16/10/2014

Saturday, October 4, 2014

Belajar menikmati.


Kemarin. Saat matahari ingin beristirahat. Aku menemui dia. Perempuan yang dulu pernah menjadi kami. Sekarang hanya aku dan dia. Tanpa ada kata kami seperti dulu lagi. Dia memintaku datang menemuinya. Di pantai Purus. Pukul enam kurang tiga belas menit. Katanya, dia butuh teman bicara.
Tadinya aku sempat ingin menolak. Tapi dari caranya berbicara di telepon. Aku tidak sanggup mengatakan tidak. Aku mengerti bagaimana rasanya mendapatkan penolakan saat aku butuh seseorang. Sangat tidak menyenangkan.
Aku sampai tepat waktu sesuai janji. Pukul lima lewat tiga puluh menit. Dia mentraktirku gulai Lengkitang. Makanan khas pantai Purus Padang. Aku dan dia duduk beberapa meter dari jembatan yang baru selesai setahun lalu. Di  bangku plastik yang menghadap laut. Di depan kami –di pinggir laut-  ada perahu kayu milik nelayan berbaris cukup rapi.
Lima belas menit pertama dia masih berusaha asyik. Membahas pekerjaan. Basa-basi. Ia juga mengajukan pertanyaan: dengan siapa aku sekarang menjalin hubungan?
Beberapa menit kemudian pembicaraanya mulai mengarah pada hal yang lebih serius. Katanya, dia baru saja putus. Dengan kekasihnya setelah aku. Dulu kami putus baik-baik. Meski saat itu aku merasa hatiku tidak lagi baik. Aku masih mencintainya. Sedangkan dia sudah tidak lagi mencintaiku. Karena itulah kami harus putus. Begitulah katanya.
Sore itu dia menangis, meski suaranya tidak terdengar. Namun ada air yang mengalir di pipinya. Dia sangat mencintai lelaki itu. Mungkin sama seperti aku mencintai dia dulu. Atau mungkin lebih. Namun orang yang dia cintai mengatakan tidak lagi memiliki perasaan yang sama. Lalu mengakhiri hubungan mereka.
“Bagaimana caramu melupakan aku dulu? Aku ingin melakukan itu untuk menenangkan hatiku. Untuk membuat hidupku bahagia lagi.”
Aku tidak tahu cara yang tepat untuk menjawab pertanyaan itu. Bagaimana caramu melupakan aku dulu?
Ah, ternyata aku dan dia sudah selama itu mengakhiri hubungan kekasih.
Aku hanya diam. Mencoba mencari kalimat yang tepat. Kalimat paling kuat yang aku punya saat ini.
“Di dunia ini kita akan ditemukan dengan orang-orang yang membuat kita bahagia. Juga sebaliknya. Namun satu yang pasti, mereka dikirim kepada kita selalu dengan satu alasan; agar kita belajar.” Aku mencoba memberi senyuman. Lagi-lagi senyum yang kubuat agar aku terlihat kuat, “Agar kita belajar berkasih sayang. Agar kita belajar melupakan. Agar kita belajar membiasakan. Meski kadang, kita tak selalu berhasil pada pelajaran pertama. Namun, kita bisa mencoba untuk mengulangi pelajaran itu lagi kan?” Aku kembali menatap perahu nelayan. Sore sudah berganti senja. Lengkitang yang tadi terasa sedap pun, menjadi hambar. Namun aku belajar untuk tetap menikmatinya.


Boy Candra | 04/10/2014

Wednesday, September 24, 2014

Bulan-bulan pertama.


Aku menemukanmu yang sedang patah hati. Sebenarnya pada saat itu aku juga sedang patah hati. Lalu kita sepakat –dengan perasaan senasib- memilih untuk bersama. Pacaran, istilah yang orang-orang sebut. Meski aku lebih suka menyebutnya dengan kekasih. Sepasang kekasih.
Kita bahagia? Tentu! Setidaknya pada bulan-bulan pertama.
Saat itu aku percaya. Bahwa cinta memang datang pada dua orang yang memiliki kesamaan. Banyak hal yang kita rasa sama. Kita sama-sama mencari sosok penyembuh. Kita sama-sama mencari orang yang lelah merasakan patah hati. Dan terlebih yang membuat kita semakin yakin, kita merasa memiliki nasib yang sama. Dua orang yang patah hati. Terdengar menyedihkan memang. Tapi saat itu kita bahagia. Kita merasa saling membutuhkan.
Namun waktu terus berlalu. Luka di dadamu perlahan sembuh. Aku pun merasa kembali utuh. Aku masih bahagia bisa menjadi kekasihmu. Bertukar kasih berbagi rindu. Namun beberapa hari terakhir aku merasa ada yang lain. Kau ternyata tak seperti dulu lagi. Kita sekarang tak senasib lagi, katamu.
“Ternyata, aku tidak mencintaimu. Aku hanya butuh seseorang saat aku rapuh.” Kau mengatakan dengan raut wajah seolah merasa bersalah.
Sejak saat itu aku sadar. Kesamaan memang tidak selalu bisa menyatukan. Kau ternyata tidak butuh teman senasib. Kau hanya butuh penyembuh agar kau kembali utuh. Kau hanya butuh pelarian agar kau kembali bisa berlari mengejar impian.
Boy Candra | 24/09/2014


Saturday, September 20, 2014

Tak terpikirkan sebelumnya.




Aku tidak pernah berpikir akan menjadi kekasihnya. Tidak pernah juga berharap akan menjadi seseorang yang menemaninya makan sebagai sepasang kekasih. Aku dan dia hanya berteman, sebelumnya. Sebelum akhirnya kami saling menyadari. Ada hal yang mengikat kami. Perasaan yang tumbuh melalui proses panjang. Perasaan yang berawal dari perkenalan biasa. Kemudian kami memilih berteman. Hingga akhirnya kami sepakat menyebutnya dengan sahabat. Setelah sekian lama. Tanpa kami sadari. Hari ini aku dan dia sudah menjadi begini saja.

Tiba-tiba saja aku cemburu saat ada orang lain menginginkannya. Tiba-tiba saja aku merasa risih saat ada teman lain yang lebih mesra dengannya. Entah sajak kapan. Yang aku tahu, perasaan itu mulai mendatangiku setiap kali ia membagi senyum kepada orang lain. Jika aku tahu, orang itu juga menaruh perasaan kepadanya. Perasaan itu semakin tumbuh. Dan aku semakin tidak bisa mengendalikannya. Aku tidak bisa memungkirinya.

Hingga pada suatu ketika. Dia juga merasakan hal yang sama. Dia mengatakan, dia tidak suka kalau aku terlalu dekat dengan orang lain. Meski tak mengatakan cemburu. Tapi ia memperlihatkan kalau dia cemburu. Aku? tentu merasa senang. Aku mulai berpikir ini adalah jatuh cinta. Aku mulai berharap kami merasakan perasaan yang sama.

Dan cinta memang jatuh di hatiku dan dia. Melalui proses panjang. Aku dan dia tidak bisa menutupi lagi. Bahwa kami memang tidak bisa saling memungkiri. Kami saling jatuh hati. Aku ingin dia lebih dari sekedar sahabat. Dia pun ingin aku menjadi lebih kuat dari sekedar sahabat. Kami sepakat, sekarang hubungan kami bertambah. Sebagai kenalan. Teman. Sahabat. Dan hubungan baru. Sebagai kekasih.


Boy Candra | 20/09/2014

Thursday, April 3, 2014

Patah Hati




Entah kenapa saya selalu menjadi orang yang dicari setiap teman perempuan saya patah hati. Bukan untuk dijadikan kekasih. Tapi hanya sekedar teman berbagi sedih. Seperti hari ini, saat hujan begini saya duduk di teras kantor organisasi kampus saya. Tak ada yang ingin saya nikmati selain menatap rintih-rintih hujan yang turun.
“Kamu sedang sibuk?”
“Iya. Sibuk menatap tetesan hujan yang turun.”
Aku tahu betul, dia tak akan peduli aku sibuk atau tidak, ketika ia hendak bercerita ia akan melakukan itu. Bertanya hanyalah basa-basi saja.
“aku..”
“kamu patah hati, lagi. “
Dia mengangguk. Aku bisa menebak, karena dia tak akan datang saat aku sibuk sendirian, kalau tidak sedang patah hati. Dia paham betul, aku tidak suka diganggu kalau sedang sendiri. Apalagi saat sedang menulis, tapi saat patah hati dia tak akan peduli apa yang aku lakukan. Ya, begitulah orang yang sedang patah hati, yang ia pikirkan hanya bagaimana hatinya bisa kembali pulih.
“ternyata, dia tak seperti yang aku bayangkan. Aku pikir masih ada lelaki yang bisa mencintaiku dengan tulus.” Ia terlihat menghela napasnya. “ternyata lelaki sama saja,”
Hujan semakin deras. Kali ini aku tak menanggapi perkataannya. Aku tak mungkin mengiyakan kalau semua lelaki itu sama saja. Seperti apa yang ia katakan kepadaku. Tapi aku juga tak mungkin membantah apa yang ia katakan, karena perempuan yang patah hati hanya butuh satu hal; didengarkan!
“kenapa kamu diam saja?”
Dia seolah membaca pikiranku. Kali ini, untuk beberapa detik mataku dan matanya bertatapan. Tapi hujan tak berhenti seperti dikebanyakan drama korea yang pernah ku tonton. Mungkin karena kami bukan pasangan kekasih. Hujan mungkin berhenti saat dua orang saling jatuh cinta bertatapan seperti di drama korea.
“teruslah bercerita, aku masih mendengarkanmu.”
“aku harus bagaimana? Apa aku harus berhenti saja mencintai lelaki,”
“maksud kamu?” mataku melotot.
“nggak gitu juga. Emang kamu pikir aku akan jadi lesbian? Ya enggaklah! Hih!” seolah bisa membaca pikiranku.
Syukurlah. Ucapku dalam hati. Aku hanya khawatir kalau dia sempat menyimpang hanya kerena patah hati.  Biar bagaimana pun, ia adalah teman perempuanku yang paling sering curhat tentang hatinya yang patah kepadaku. Aku kenal dengannya sejak dua tahun lalu. Kami sama-sama menjadi anggota muda di organisasi kampus yang sama. Dan sejak dua tahun terakhir, sudah enam kali dia bercerita tentang lelaki yang menyakitinya. Entah karena aku penulis, atau karena aku masih belum punya pacar, banyak perempuan yang memercayakan membagi kisahnya kepadaku. Termasuk perempuan yang satu ini. Aku tak ingin menyebutkan namanya kepada kalian. Karena aku tak ingin tidak dipercaya lagi untuk menjadi teman cerita mereka.
Selama ini mereka mau bercerita kepadaku. Karena aku bisa menjaga rahasia mereka.
Tapi ada yang berbeda dari dia hari ini. Tak seperti biasanya, saat patah hati ia selalu memilih tempat khusus untuk bercerita kepadaku. Tapi tumben sekali ia berani bercerita di tempat umum seperti ini.
“Aku sudah capek disakiti.” Dia ikut menatap air hujan yang jatuh dari atap.
“kamu kenapa masih belum punya pacar sampai saat ini?”
Pertanyaan itu seolah menusukku, menyadarkan kalau dua tahun sudah aku memang tak pernah menggandeng seorang perempuan pun yang kukenalkan kepada anak-anak organisasi kampusku. Termasuk kepada dia.
“aku masih pengen fokus sama kuliah.”
Aku tahu itu jawaban terbasi yang pernah ada di dunia.
Dia hanya tertawa, tak memperpanjang perihal itu. Sepertinya dia paham, kesendirianku adalah hal yang memang tak penting untuk dibahas panjang lebar.
“Lalu apa rencanamu?”
“aku juga ingin seperti kamu. Pengen fokus kuliah saja.”
Untuk pertama kalinya aku merasa sangat ringan menanggapi curhat patah hatinya. Aku masih ingat beberapa kali ia bercerita, aku harus menyiapkan tisu, harus berusaha sekuat mungkin agar dia juga bisa ikut tenang. Tapi kali ini dia berbeda seratusdelapanpuluh derjat.
Entah apa yang ada di benaknya, tapi setidaknya itu menunjukan hal yang lebih baik dari sebelumnya. Jika sebelumnya dia selalu memintaku untuk mencarikan seorang lelaki untuk membuat hatinya sembuh, kali ini ia tak meminta hal itu.
“Tapi kenapa kamu jadi seperti ini?”
Sekarang aku yang mulai heran.
“Candra. Ada kalanya kita harus berhenti membuat orang lain bahagia dengan cara mencintainya. Tapi kita lupa mencintai diri sendiri. Selama ini, aku mencintai banyak lelaki, tapi aku tak pernah benar-benar mencintai diriku sendiri. Aku mencintai mereka agar hatiku bisa kembali pulih. Nyatanya, aku salah. Cinta sebenarnya tak begitu.”
Matanya terlihat tulus menatapku. Aku tahu dia sedang jujur.
“Aku pengen seperti kamu. Dua tahun tanpa kekasih, kamu tetap saja bahagia. Mungkin saatnya aku menyadari, tak selamanya kesendirian itu menyakitkan. Terimakasih ya, sudah memberiku banyak pelajaran tentang cinta. Terimakasih telah menjadi teman yang selalu menemaniku saat patah hati.” Dia menepuk bahuku.
Hujan terdengar semakin sendu. Untuk pertama kalinya, aku merasa gagal menjadi tempat berceritanya.
Dua tahun sudah kupendam rasa untuknya. Dua tahun sudah ku putuskan untuk mendengarkan ia bercerita tentang patah hatinya. Namun hari ini ia memutuskan untuk berhenti mengejar cinta. Dia sudah lepas dari ketakutannya akan kesendirian, sedangkan aku tak pernah lepas dari ketakukan untuk menyatakan perasaan kepadanya. 

***

--boy candra

Saturday, November 23, 2013

mendua


Jika cinta datang pada hati yang sudah termiliki apakah salah?

Aku tahu ini adalah salah. Saat hatiku masih terikat kuat oleh hatimu, di saat yang sama aku terikut hati dengan orang lain. Dia yang membuatku nyaman lebih dari apa yang kau hadirkan. Sedangkan hubungan kita hanya diary yang membosankan. Kau terlalu menjenuhkan saat dia bisa membuatku merasa lebih bergairah. Kau terlalu menjemukan saat dia bisa membuat duniaku penuh bunga. Lalu kenapa kita masih saja bertahan? Kenapa aku masih saja bertahan? Aku ingin mengatakan padamu, aku masih cinta kamu. Dan harusnya kau tahu, cinta saja tak cukup untuk membuat hubungan bahagia. Aku butuh kamu di sampingku, dan saat ini hanya dia yang bisa melakukan hal itu.

Aku paham, mendua adalah dosa dari hati-hati kesepian. Mendua adalah kutukan untuk hubungan yang membosankan.  Meski kadang mendua terasa begitu lebih hidup dari apa yang kita punya. Aku punya kamu, aku punya semua yang kau katakan, tapi apa artinya jika saja aku tak pernah memiliki waktumu. Cinta juga juga butuh bersama, cinta juga butuh saat di mana sepanjang senja hanyalah kita. Cinta juga butuh waktu di mana matahari terbit adalah kita yang menikmatinya. Kita, sayang. Bukan aku dan dia. Tapi kenapa saat aku butuh seseorang di sampingku, kamu malah tak pernah ada. Yang ada hanya dia.  Seseorang yang harus kuakui, membuatku berdosa kepadamu, tapi dari sisi lain harus kukatakan padamu, berdosa dengannya ternyata lebih indah dari pada membusuk dalam kesepian darimu.

Sekali lagi aku katakan kepadamu, aku hanya cinta kamu!

Tapi harus kau sadari sayang, aku juga butuh kamu di sampingku. Memenuhi tanggung jawabmu yang selama ini diembannya. Jangan salahkan cinta jika saja kau tak cukup sanggup untuk menjalaninya, jangan salahkan aku jika saja kau tak pernah ada waktu untuk berada di sampingku. Jika ini adalah cinta yang jalang, mungkin sudah sebaiknya kita saling membuang.

Aku memilih menduakanmu bukan karena aku tak sayang kepadamu. Tapi karena kamu terlihat tak sayang dengan apa yang kau miliki. Kau yang mengabaikan aku, kau yang membuat aku telah membuat dosa padamu. Mungkin ini salahmu, mungkin juga ini dosaku, aku yang tak begitu baik untuk cinta yang tak punya waktu sepertimu. Satu hal yang harus kau tahu saat aku bersamanya, tetap saja kau yang ada di ingatanku. Meski aku ragu, kita masih bisa disebut cinta.  








Note: Dari curhat teman. 

“--waktu yang disia-siakan adalah dosa yang tak dapat dielakkan. [baca: mendua]”

Wednesday, September 25, 2013

Kekasih Orang.




Mungkin ini salah. Aku yang jatuh cinta padamu yang telah berpunya. Aku yang jatuh hati kepada kamu yang telah memiliki.

~*~

Kadang, cinta datang dengan hal yang sebanarnya tak wajar; seperti halnya aku. Entah kanapa tiba-tiba hati itu jatuh di matamu. Entah kenapa tiba-tiba saja kau menjadi manusia yang mengusik benakku; setiap pagi, sepanjang malam. Padahal aku tau, kau telah dimiliki dia. Dia yang terlanjur beruntung bertemu denganmu lebih dulu. Dia yang terlanjur beruntung mendengar kau menyatakan cinta terlebih dahulu.

Dan aku...,

Aku adalah manusia yang harus menerima kenyataan, jatuh cinta pada kekasih orang. Manusia yang harus mengakui, bahwa aku benar-benar cinta kekasih orang. Dan kekasih orang itu, kamu. Aku jatuh cinta kepada kamu.

Kini dunia menyalahkanku, seakan aku manusia paling jahat, seakan aku manusia berhati iblis yang ingin merebut kekasih orang. Seakan akulah manusia yang harus disalahkan, hanya karena aku mengakui; aku jatuh cinta padamu. Dan aku ingin memilikimu.

Hanya karena aku mengakui;  Aku jatuh cinta, dan aku ingin memilikimu, meski aku tau bahwa kau kekasih orang. Haruskah aku yang dibenci?

Apakah kau sadar dengan kalimat ini? cinta datang dari Tuhan.  Jika kini ia datang padaku, haruskah dunia yang menyalahkanku?!