Thursday, October 16, 2014

Jangan terlalu lemah.



Suatu hari saat duduk santai di tempat yang biasa aku datangi untuk menulis. Aku didatangi seorang perempuan. Aku menatap ke arahnya, dia masih cantik seperti dulu. Hanya saja ada sedikit yang berbeda dari dirinya, matanya terlihat agak sendu. Ada kesedihan yang tak mampu disamarkan oleh senyumannya yang dipaksakan.

Setelah basa-basi, akhirnya dia lepas kendali juga. “apa yang kau lakukan jika kau seorang perempuan namun kau dibohongi kekasihmu berkali-kali?”

Aku berhenti manatap laptopku. Lalu berusaha tersenyum, “aku tidak ingin menjadi perempuan!” jawabku sekenanya.

“kenapa?”

“karena perempuan bukan untuk dibohongi. Jika pun aku menjadi perempuan, aku tidak akan membiarkan lelaki membohongiku berkali-kali.”

“lalu, jika kenyataannya kau dibohongi apa yang akan kau lakukan?”

“aku akan pergi meninggalkannya,”

Kami terdiam. Dia menatap mataku.

“sama seperti kau meninggalkan aku dulu, padahal dulu aku tidak membohongimu. Kau lebih percaya kepada dia. Dan kini kau dibohonginya berkali-kali. Kau tetap saja bertahan dengannya. Aku tidak mengerti cara berpikirmu.” Aku menggelengkan kepala. Entah kenapa perasaan dulu yang pernah ada tiba-tiba sesak kembali. Timbul seperti dendam. Padahal aku sudah berusaha menganggap dia sebagai teman. Sebagai teman biasa, tidak lebih. 

“aku datang meminta pendapatmu, bukan menjadi orang yang harus kau salahkan,”

“aku tidak menyalahkanmu,” Aku menurunkan nada suara, “aku hanya merasa sedih. Kenapa kau masih saja bertanya apa yang harus kau lakukan kepadaku. Sedangkan kau tahu, dia sudah membohongimu berkali-kali. Harusnya kau tahu apa yang akan kau pilih!”

Kami diam lagi. Lebih lama.

Dia memang seperti itu, terlalu lemah menjadi perempuan. Padahal dia tahu, dia sudah dibohongi dari awal. Namun, aku tidak bisa menyalahkannya. Aku yang mencintainya, juga tak pernah mampu mengalahkan perasaanku sendiri. Aku masih berbohong kalau aku tidak lagi mencintainya.

Ada hal yang tidak dia pahami dari cinta. Dia lupa, dia tidak bisa merubah sikap seseorang, tapi dia bisa memilih hidup yang lebih baik. Dengan tidak membiarkan dirinya tersakiti lagi. Karena memang ada saatnya kita harus melepaskan seseorang, bukan karena tidak mencintainya, namun demi menjaga hati kita sendiri agar tidak terluka lagi oleh sikap yang sama –orang  yang sama.    



Boy Candra | 16/10/2014

Tuesday, October 14, 2014

Kenapa jadi membosankan (?)


Saat jatuh hati kita selalu merasa senang dengan seseorang. Tentu dia yang menjadi tempat kita merasakan perasaan itu. Seperti yang aku rasakan kepadamu. Aku senang bertemu denganmu. Senang saat melihat kamu tertawa. Aku bahkan lupa kalau kita sedang membicarakan hal terkonyol yang kita punya. Rahasia yang kadang tidak mungkin kita ceritakan kepada sembarang orang. Begitu menyenangkan.
Aku merasa nyaman dengan dirimu yang seperti itu. Kamu yang apa adanya. Kamu yang menurutku adalah orang paling tepat untuk aku ajak berdiskusi banyak hal. Kamu juga pasti sepakat denganku, bahwa apalagi yang paling menyenangkan selain orang yang kita ajak bicara seimbang? Tidak ada. Saat melakukan pendekatan kita memang hanya butuh teman bertukar pikiran yang nyaman. Walau tidak bisa sempurna, aku bisa menerima kamu. Mungkin kamu merasakan hal yang sama. Aku yang terkadang juga tidak begitu konek dengan apa yang kamu katakan. Tapi kita tetap mencoba menjadikan semua itu menyenangkan. Bahkan hal yang membuat kita kebingungan kita jadikan hal konyol, lalu tertawa bersama.
Kita saling belajar memahami, saling memberi perhatian. Bagiku kata ‘jadian’ hanya menunggu waktu yang tepat. Sebab bagi beberapa orang tanggal jadian itu penting. Aku hanya menunggu momen yang aku pikir pas. Lalu apa yang membuat nyaman selama ini akan kunyatakan sebagai perasaan sesungguhnya. Walau sebenarnya, tanpa menyatakan kau sudah bisa menerka apa yang ada di hatiku.
Namun belakangan ini kau mulai berubah. Dan menurutku itu bukan perubahan yang membuat aku nyaman. Aku juga tidak mengerti, apakah kenyamanan yang kau berikan selama ini hanyalah kepalsuan? Atau kau sedang berusaha menjadi orang lain? Entahlah. Namun sikapmu sekarang memang tidak membuatku merasa seimbang lagi. Kau sekarang berlebihan. Memberi perhatian berlebihan. Padahal, kita baru saja tahap pendekatan. Kalau begini lebih baik aku mundur saja. Menjauh pelan-pelan. Bukan karena aku jahat. Bukan maksud mempermainkanmu. Apalagi memberi harapan palsu. Namun lebih kepada sikapmu yang terasa asing bagiku. Kau tahu? Aku tidak bisa mencintai orang asing.
Apa selama ini sikap yang kau tunjukan adalah sikap orang lain?


Boy Candra | 14/10/2014

Saturday, October 4, 2014

Belajar menikmati.


Kemarin. Saat matahari ingin beristirahat. Aku menemui dia. Perempuan yang dulu pernah menjadi kami. Sekarang hanya aku dan dia. Tanpa ada kata kami seperti dulu lagi. Dia memintaku datang menemuinya. Di pantai Purus. Pukul enam kurang tiga belas menit. Katanya, dia butuh teman bicara.
Tadinya aku sempat ingin menolak. Tapi dari caranya berbicara di telepon. Aku tidak sanggup mengatakan tidak. Aku mengerti bagaimana rasanya mendapatkan penolakan saat aku butuh seseorang. Sangat tidak menyenangkan.
Aku sampai tepat waktu sesuai janji. Pukul lima lewat tiga puluh menit. Dia mentraktirku gulai Lengkitang. Makanan khas pantai Purus Padang. Aku dan dia duduk beberapa meter dari jembatan yang baru selesai setahun lalu. Di  bangku plastik yang menghadap laut. Di depan kami –di pinggir laut-  ada perahu kayu milik nelayan berbaris cukup rapi.
Lima belas menit pertama dia masih berusaha asyik. Membahas pekerjaan. Basa-basi. Ia juga mengajukan pertanyaan: dengan siapa aku sekarang menjalin hubungan?
Beberapa menit kemudian pembicaraanya mulai mengarah pada hal yang lebih serius. Katanya, dia baru saja putus. Dengan kekasihnya setelah aku. Dulu kami putus baik-baik. Meski saat itu aku merasa hatiku tidak lagi baik. Aku masih mencintainya. Sedangkan dia sudah tidak lagi mencintaiku. Karena itulah kami harus putus. Begitulah katanya.
Sore itu dia menangis, meski suaranya tidak terdengar. Namun ada air yang mengalir di pipinya. Dia sangat mencintai lelaki itu. Mungkin sama seperti aku mencintai dia dulu. Atau mungkin lebih. Namun orang yang dia cintai mengatakan tidak lagi memiliki perasaan yang sama. Lalu mengakhiri hubungan mereka.
“Bagaimana caramu melupakan aku dulu? Aku ingin melakukan itu untuk menenangkan hatiku. Untuk membuat hidupku bahagia lagi.”
Aku tidak tahu cara yang tepat untuk menjawab pertanyaan itu. Bagaimana caramu melupakan aku dulu?
Ah, ternyata aku dan dia sudah selama itu mengakhiri hubungan kekasih.
Aku hanya diam. Mencoba mencari kalimat yang tepat. Kalimat paling kuat yang aku punya saat ini.
“Di dunia ini kita akan ditemukan dengan orang-orang yang membuat kita bahagia. Juga sebaliknya. Namun satu yang pasti, mereka dikirim kepada kita selalu dengan satu alasan; agar kita belajar.” Aku mencoba memberi senyuman. Lagi-lagi senyum yang kubuat agar aku terlihat kuat, “Agar kita belajar berkasih sayang. Agar kita belajar melupakan. Agar kita belajar membiasakan. Meski kadang, kita tak selalu berhasil pada pelajaran pertama. Namun, kita bisa mencoba untuk mengulangi pelajaran itu lagi kan?” Aku kembali menatap perahu nelayan. Sore sudah berganti senja. Lengkitang yang tadi terasa sedap pun, menjadi hambar. Namun aku belajar untuk tetap menikmatinya.


Boy Candra | 04/10/2014

Sunday, September 28, 2014

Ini cinta, bukan tali yang rapuh.



Nanti kau juga akan tahu, bahwa hidup bukan sebuah permainan. Begitu pun hubungan yang kita jalani. Tidak sebuah permainan. Tak ada yang seharusnya kau tarik-ulur, karena aku bukan layangan yang diikat tali kepadamu. Tak ada yang harus kau cari, karena cinta bukan anak kecil yang hilang.

Saat dia memilih pergi. Hampalah hatimu. Tak akan ada lagi aku. Tak akan ada lagi kita. Juga semua rasa akan sirna. Sebab itu hargailah setiap hal yang masih kita punya. Jika belum sepenuhnya mampu melepaskan, jangan pura-pura melepaskan. Apa pun bisa diselesaikan. Kau harus ingat, yang kau buang (meski menurutmu hanya pura-pura) seringkali tidak bisa pulang. Mungkin juga tak pernah lagi ingin pulang.

Aku mencintai pemikiranmu. Yang menjadikan kita menjadi lebih dewasa. Yang menjadikan kita percaya; masih ada cinta yang sesungguhnya. Yang realistis. Yang tidak hanya sekedar menye-menye manis. Jika kau menjadikan hubungan ini sebagai ajang uji-menguji, kau salah. Tak ada ujian dalam hal mencintai. Kita bukan guru dan murid di SD. Kita sepasang kekasih yang terus mencari penyelesaian. Bukan mencari teka-teki, tentang siapa yang benar sendirian.

Barangkali kau sering mendengar. Ada banyak pasangan yang putus tiap sebentar (mungkin teman-temanmu) lalu mereka jadian lagi. Menjalani hubungan seperti biasa lagi. Seolah hubungan mereka lentur. Tidak ada komitmen. Ada masalah sedikit, putus. Emosi sedikit, putus. Lalu pura-pura merasa bersalah. Meminta untuk kembali menyambung cinta. Apa kau tidak pernah berpikir? Jika seutas tali sudah terlalu banyak buhul penghubung (yang putus disambung-sambung lagi) ia tidak akan pernah sekuat semula. Ia akan bisa putus kapan saja, dan kau tidak akan pernah bisa menyambungnya lagi. Dan satu hal lagi yang harus kau tahu. Aku sama sekali tidak pernah ingin menjalani hubungan rapuh (hubungan yang terlalu banyak buhulnya). Karena kita tidak akan sekuat dulu. Dan ketika semua itu terus berlanjut kita hanya menikmati sebuah permainan putus-sambung. Bukan cinta yang utuh untuk menemukan bagaimana menjadi dewasa sebenarnya. Ini tentang bagaimana menjaga hati, bukan seutas tali yang rapuh.

Boy Candra | 28/09/2014


Wednesday, September 24, 2014

Bulan-bulan pertama.


Aku menemukanmu yang sedang patah hati. Sebenarnya pada saat itu aku juga sedang patah hati. Lalu kita sepakat –dengan perasaan senasib- memilih untuk bersama. Pacaran, istilah yang orang-orang sebut. Meski aku lebih suka menyebutnya dengan kekasih. Sepasang kekasih.
Kita bahagia? Tentu! Setidaknya pada bulan-bulan pertama.
Saat itu aku percaya. Bahwa cinta memang datang pada dua orang yang memiliki kesamaan. Banyak hal yang kita rasa sama. Kita sama-sama mencari sosok penyembuh. Kita sama-sama mencari orang yang lelah merasakan patah hati. Dan terlebih yang membuat kita semakin yakin, kita merasa memiliki nasib yang sama. Dua orang yang patah hati. Terdengar menyedihkan memang. Tapi saat itu kita bahagia. Kita merasa saling membutuhkan.
Namun waktu terus berlalu. Luka di dadamu perlahan sembuh. Aku pun merasa kembali utuh. Aku masih bahagia bisa menjadi kekasihmu. Bertukar kasih berbagi rindu. Namun beberapa hari terakhir aku merasa ada yang lain. Kau ternyata tak seperti dulu lagi. Kita sekarang tak senasib lagi, katamu.
“Ternyata, aku tidak mencintaimu. Aku hanya butuh seseorang saat aku rapuh.” Kau mengatakan dengan raut wajah seolah merasa bersalah.
Sejak saat itu aku sadar. Kesamaan memang tidak selalu bisa menyatukan. Kau ternyata tidak butuh teman senasib. Kau hanya butuh penyembuh agar kau kembali utuh. Kau hanya butuh pelarian agar kau kembali bisa berlari mengejar impian.
Boy Candra | 24/09/2014


Saturday, September 20, 2014

Tak terpikirkan sebelumnya.




Aku tidak pernah berpikir akan menjadi kekasihnya. Tidak pernah juga berharap akan menjadi seseorang yang menemaninya makan sebagai sepasang kekasih. Aku dan dia hanya berteman, sebelumnya. Sebelum akhirnya kami saling menyadari. Ada hal yang mengikat kami. Perasaan yang tumbuh melalui proses panjang. Perasaan yang berawal dari perkenalan biasa. Kemudian kami memilih berteman. Hingga akhirnya kami sepakat menyebutnya dengan sahabat. Setelah sekian lama. Tanpa kami sadari. Hari ini aku dan dia sudah menjadi begini saja.

Tiba-tiba saja aku cemburu saat ada orang lain menginginkannya. Tiba-tiba saja aku merasa risih saat ada teman lain yang lebih mesra dengannya. Entah sajak kapan. Yang aku tahu, perasaan itu mulai mendatangiku setiap kali ia membagi senyum kepada orang lain. Jika aku tahu, orang itu juga menaruh perasaan kepadanya. Perasaan itu semakin tumbuh. Dan aku semakin tidak bisa mengendalikannya. Aku tidak bisa memungkirinya.

Hingga pada suatu ketika. Dia juga merasakan hal yang sama. Dia mengatakan, dia tidak suka kalau aku terlalu dekat dengan orang lain. Meski tak mengatakan cemburu. Tapi ia memperlihatkan kalau dia cemburu. Aku? tentu merasa senang. Aku mulai berpikir ini adalah jatuh cinta. Aku mulai berharap kami merasakan perasaan yang sama.

Dan cinta memang jatuh di hatiku dan dia. Melalui proses panjang. Aku dan dia tidak bisa menutupi lagi. Bahwa kami memang tidak bisa saling memungkiri. Kami saling jatuh hati. Aku ingin dia lebih dari sekedar sahabat. Dia pun ingin aku menjadi lebih kuat dari sekedar sahabat. Kami sepakat, sekarang hubungan kami bertambah. Sebagai kenalan. Teman. Sahabat. Dan hubungan baru. Sebagai kekasih.


Boy Candra | 20/09/2014

Sunday, September 14, 2014

Pada waktunya.


Ada banyak hal yang harus kita pahami di dunia ini. Salah satunya perihal perubahan. Ya, semua pasti akan berubah pada waktunya. Begitu banyak yang awalnya teramat cinta kemudian berubah biasa saja. Atau mungkin malah bertolak belakang, menjadi saling benci. Ada yang awalnya saling memahami kemudian berubah saling egois. Merasa lebih penting dan merasa selalu ingin menang sendiri. Padahal dulu mereka sepakat untuk belajar saling mengerti. Dan hari ini mereka berubah.
Namun harus kita pahami, perubahan tidak terjadi begitu saja. Ada proses yang membawanya ke arah itu. Semisal, nasi tidak akan pernah menjadi nasi jika saja beras tidak pernah ditanak. Proses tanak inilah yang akan menentukan kualitas nasi. Jika tidak tepat takaran, nasi bisa saja menjadi bubur. Atau malah menjadi arang. Gosong.
Begitulah kita. Proses yang membuat kita mengalami perubahan. Jika kita melaluinya dengan baik. Maka kita akan berubah ke arah yang lebih baik. Cinta akan semakin utuh bila dibangun dengan hati yang penuh. Namun bila kau dan aku hanya setengah hati, perlahan-lahan kita akan kehilangan kendali. Lalu sampai pada tahap hanya ingin menang sendiri. Kita akan lupa bahwa kita punya tujuan yang indah di awal rencana. Kita akan menjadi bubur, bukan hanya bubur yang hancur, bisa jadi bubur yang basi. Hubungan yang kita lalui tidak lagi pakai hati namun lebih banyak emosi.


Boy Candra | 14/09/2014