Monday, August 18, 2014

Bukan denganmu saja aku bisa bahagia.



Di senja yang membawamu pergi; aku pernah menitipkan doa pada angin, agar kau tak pernah tahu jalan pulang. Genggamlah dia yang kau anggap pemenang. Biar kubasuh luka agar tak kau buat berulang. Bagiku pilihanmu adalah hal terberat. Meski aku tidak bisa melarang apa pun. Dia yang kau puja memang sudah sebaiknya kau jaga. Biarlah aku yang memilih melupa, menghapusmu bersama luka-luka.

Pada saat itu kau adalah orang yang kucintai sepenuh hati. Namun pada sesuatu yang bernama pergi kau menyerahkan takdirku. Kau lupakan, kau lukakan aku. Hingga aku harus menyadari kau tak sepenuhnya pantas dicintai. Barangkali kau memang bukan takdir yang kucari.

Ada saatnya kau harus tahu. Bukan denganmu saja hidup bisa bahagia. Kelak akan ada angin-angin mesra yang memelukku dengan tubuh lain. Yang membuatku lupa, kau pernah kucintai sedalam ini. Percayalah, lukamu tak sepedih itu. Percayalah masih ada pelukan yang melupakan kesakitan yang kau derakan. Karena Tuhan tak pernah sia-sia dalam menciptakan rasa pada dada manusia.

Kita pernah sama-sama ingin berpetualang dalam rindu. Namun kehilangan merebutmu dariku. Dalam sisa-sisa sendu. Aku menaruh harap. Bukan untuk memintamu kembali. Tak lain agar kau tidak mengingatkan luka. Karena sungguh, aku pun ingin mencintai manusia lain. Melebihi cinta yang pernah kuberi kepadamu. Agar apa yang pernah kau buat luka segera dapat kubuat lupa.


Boy Candra | 18/08/2014

9 comments:

Anonymous said...

Uda, kata2mu benar2 sedap.

Rizka Pratiwi said...

Abg , top bgt lah pokoknya ..

mata wayang said...

kata-katanya dalem banget (y)..

Boy Candra said...

Terimakasih sudah membaca! :)

Riyan Saputra said...

"Percayalah, lukamu tak sepedih itu" keren bang

Hamniar niar said...

Aku pernah mengalaminya. .

Yuniar Ali said...

Bagus bang :-)

princess fajria said...

keren bang
jadi nangis bacanya, kayak baca cerita sendiri

Ipah Nasipah said...

Bahasanya selalu sederhana tapi ngena dihati.
Favorit pokoknya!