Monday, January 5, 2015

Tak Perlu Membenci.



Perpisahan seringkali membuat seseorang lepas kendali. Ada yang berusaha bertahan sendiri. Tidak mau menerima kenyataan bahwa orang yang dicintainya tidak lagi membutuhkannya. Setidaknya, sampai dia lelah. Atau mungkin sampai dia sadar bahwa berjuang sendiri itu melelahkan. Tidak ada gunanya memperjuangkan seseorang yang jelas tidak mau diperjuangkan. Namun tidak sedikit yang terus saja mencoba untuk memperbaiki segalanya. Atau ada yang lebih parah lagi, demi melupakan seseorang ia memaksa dirinya membenci.

Tidak salah, jika menurutmu membenci seseorang adalah cara terbaik untuk melupakan. Namun, ada hal yang perlu dipahami, bahwa rasa benci seringkali tidak pernah menuntaskan apa pun. Bahkan rasa benci seringkali melahirkan beban baru di kepala kita. Sebab, semakin kita membenci seseorang, semakin dia bersarang di kepala kita.

Harus dipahami, sekeras apa pun usaha membenci seseorang. Selama dia masih ada di hati kita, dia tidak akan mudah dilupakan. Sebab, itu berhentilah membenci. Karena pada dasarnya, melupakan hanyalah perkara berdamai dengan keadaan. Tidak mudah memang, namun membenci bukanlah cara yang baik untuk menghapus kenangan. Semuanya butuh proses. Agar melupakan berjalan dengan semestinya, tidak perlu memaksakan diri untuk terlihat kuat. Tidak perlu membenci, walau kamu tidak harus berbaik pada dia. Cobalah membiasakan diri, dengan mencintai diri sendiri lebih banyak lagi.

Untuk apa membenci seseorang yang pernah begitu kita cintai. Kalau saja dengan membenci kita malah menjadi lebih tidak tenang. Biarlah dia berlalu. Dengan menganggapnya sebagai kenangan. Semuanya akan menjadi lebih baik. Tidak perlu ada dendam, meski memaafkan mungkin begitu susah. Lakukan pelan-pelan. Tanamkan pada diri sendiri bahwa dia hanyalah kenangan. Seseorang yang mungkin lucu untuk ditertawakan. Hingga suatu hari nanti, tanpa terasa berat lagi, tanpa perlu membenci. Kita sudah sampai pada titik: ternyata saya sudah tidak mencintainya lagi.  


Boy Candra | 05/01/2015

9 comments:

yani anggraini said...

Dan saia memang sudah tidak mencintainya. Kita sepertinya harus mampu bersabar melewati proses-proses.

ulhiie alunaa said...

Te.o.pe. Be.ge.te bang

Susilawatii Suardi said...

aku ijin nge-post tulisan uda' ini di blog aku yah..
suka soalnya..
makasih.. ^_^

Yossa Elegi Safitri said...

Terimakasih, ini menyadaranku.

sulistriyanti yanti said...

baca blog ini jadi agak tenang..
thank's ka boy candra

Fauziah Yahya said...

LIKE bang boy 👍👍👍👍

Riska Mustopa said...

Bang... gakuattt :(

Anita Indriasari said...

gue banget banggg.... :'( nulis blog nya jadi semngat karena terinspirasi dari ini....

Fitri Nurhasanah said...

Dan untuk memaafkan, aku membiarkan diri untuk mendewasa pada keadaan. Bahwa benar, pekara melupakan bukan tentang masih atau tidak mencintai namun jauh dari itu. Ini tentang hati yg belajar merelakan. Uda, aku terkulai. Sakit yang begitu dalam.