Wednesday, April 8, 2015

Membunuh Rasa Curiga.




Barangkali yang paling mungkin membunuh dua orang yang menjalani hubungan jarak jauh adalah rasa curiga. Perasaan yang timbul di kepala, yang mengarah pada pengrusakan kepercayaan. Jika tidak bisa mengendalikan diri, ia bisa tumbuh menjadi api cemburu yang tak beralasan. Lalu pelan-pelan membakar dua orang yang sedang berjuang bertahan. Perasaan curiga adalah bibit pembunuh paling bahaya dan buta. Ia butuh dikendalikan dan ditenangkan. Lalu dibunuh pelan-pelan. Perasaan curiga yang tidak mampu kau bunuh seringkali akan membunuh dirimu sendiri. Aku menyadari hal itu, sebab itu aku ingin selalu berhati-hati perihal mencintai kamu. Kita yang sedang dipisahkan jarak.

Sebagai manusia bisa, perasaan curiga itu kadang tumbuh. Saat kau sedang pergi ke suatu tempat. Lalu telat atau lupa mengabari. Di kondisi seperti ini, jika tak mampu menyabarkan diri dan berpikir jernih, seringkali membuat suasana menjadi keruh. Hubungan yang awalnya sedang baik-baik saja. Bisa saja tiba-tiba menjadi celaka. Satu di antara kita akan menaruh perasaan curiga, yang sebenarnya satu lagi tidak melakukan hal yang seperti didugakan. Kalau sudah begini, perang bisa mulai pecah. Apalagi jika tidak ada yang bisa menenangkan. Jika saja tidak ada yang bisa mengingatkan bahwa kita adalah dua orang yang sedang sama-sama memperjuangkan.

Salah satu yang melahirkan rasa curiga adalah ketidakmampuanku mengendalikan diri akan rasa takut kehilanganmu. Hal yang sebenarnya sangat tidak perlu dijaga saat dua orang menjalani hubungan jarak jauh. Sebab, kunci paling penting dalam menjalani hubungan ini adalah saling memercayai dan saling menjaga. Lalu berkomunikasi yang baik untuk menyeimbanginya. Sementara curiga yang berlebihan seringkali buta, dan melupakan cara berkomunikasi yang baik. Curiga seringkali melahirkan ketakutan yang berlebihan (namun disembunyikan), lalu menjelma menjadi api-api pertengkaran. Pelan-pelan akan menimbulkan rasa tidak nyaman. Pelan-pelan akan merenggangkan ikatan. Lalu mungkin saja tanpa pikir panjang melahirkan kata-kata yang menyakitkan.

Itulah sebabnya, saat perasaan itu tumbuh. Aku berusaha untuk selalu membunuhnya. Aku berusaha menenangkan diriku berkali-kali. Aku tidak ingin melukaimu dengan ketakutanku yang berlebihan. Aku ingin kita saling bicara dengan baik. Menyampaikan apa yang kita takutkan dengan tenang. Menjaga apa yang sudah kita saling percayakan. Kita tidak sedang mencoba-coba. Kita sedang memperjuangkan hal-hal yang menjadi impian bersama. Jika tak mampu membunuh curiga, habislah kita. Satu hal yang harus selalu kau yakini, pun aku percayai, sejauh apapun jarak, sejenuh apapun, jangan biarkan hati retak.  Kita akan selalu saling jatuh cinta. Dan akan terus memupuk perasaan, bahwa tak ada hal yang perlu dicemaskan, selama kita bisa saling mengemas cinta dengan kepercayaan.


Boy Candra | 08/04/2015

3 comments:

aikpuji astutik said...

Bagaimana cara membunuhnya? aku ingin belajar, ketika dia sedang jauh disana aku selalu curiga, cemas & ketakutan, pada hal aku tau dia sedang sibuk bekerja, tetapi berhari-hari tak ada kabar seolah aku tak ada, dan tak ada artinya buatnya, aku binggung, aku takut, & aku memilih diam menganggap sewajarnya tapi perasaan curiga itu masih tetap ada, pikiran-pikiran buruk itu selalu berjalan mengelilingi kepalaku. aku harus bagaimana? aku lelah berpikir yang bukan-bukan, aku sangat-sangat ketakutan.

Fahleri Yuansyah said...

🙏

Unknown said...

😭