Monday, November 25, 2013

Anak burung merpati jantan.

Aku adalah anak burung merpati jantan yang tiba-tiba mengurung diri dalam kamar. Takut tersengat matahari yang menghanguskan sebagian kulit di bawah sayapku. Takut menatap sinarnya yang memedihkan mataku. Aku memilih menyembunyi diri dari binar matamu. Sinar yang mampu meluluhkan aku bahkan lebih hangus dari bakaran sinar matahari jam duabelas siang itu.

Aku adalah anak burung merpati jantan yang tiba-tiba takut patah hati. Sejak menatap matamu petang itu sebagian keberanianku hilang. Aku bahkan tak lagi berani bermain di ranting pohon sebelah kiri rumah ku. Tidak juga di pelepah pinang sebelah kanan rumahku. Bahkan aku juga tak berani datang lagi ke sungai kecil tempat aku biasa membersihkan diri. Kini aku hanyalah anak burung merpati jantan yang terlalu takut akan hal-hal yang berkaitan denganmu.

Aku takut jika sayapku tak lagi mampu ku getarkan saat bertatapan denganmu. Bagaimana aku akan menyelamatkan diri nanti, jika ternyata matamu yang hitam bulat itu mencoba merasuki jiwaku. Bagaimana mungkin aku bisa selamat dari sinar matamu yang tak pernah hilang dari ingatanku.

Kau memiliki segala yang aku rahasiakan pada ibuku. Bahkan keberanianku yang diajarkan ayah sejak lahir tiba-tiba menciut sejak bertemu denganmu. Entah kapan mulai pastinya rasa itu ada. Yang aku tahu setiap kali kedua kita bertemu matamu selalu saja menciutkan nyaliku.

Kata ayah, anak burung merpati jantan tak boleh takut kepada apa pun. Mungkin ayahku lupa; sewaktu jatuh cinta pada ibu, dia hanyalah anak burung merpati jantan yang selalu mengintip dari balik jendela. – begitu cerita kakek kepadaku.  



22:12, 25 nov 2013. | Kamar. 

2 comments:

ika yulianti said...

suka banget dg tulisan ini.

Chintya Ones Charly said...

good job deh mas boy !!