Friday, November 28, 2014

Deadline dan Rindu Tak Tersampaikan.



Sebenarnya hari ini aku sedang bingung. Tidak tahu harus mengapdet tulisan apa di blog yang aku cintai ini. Entah karena sudah tiga hari aku kurang tidur (sebab sedang mengerjakan sesuatu yang sudah mendekati deadline). Jadi kepalaku agak kurang bisa berpikir seperti biasa. Ataukah ini karena beberapa hari ini aku memikirkan kamu lebih banyak dari biasanya. Sejujurnya, sejak bertemu kamu dua hari lalu. Aku semakin rindu akan momen sesaat itu. Ya, hanya momen sesaat. Kita bahkan bertemu hanya untuk beberapa menit saja. Waktu itu kau ada urusan mendadak. Dan aku tidak punya kekuatan untuk menahanmu lebih lama.

Jika saja kau tahu. Sejak mengirimi pesan singkat di pesbuk dari 23 jam lalu. Aku sudah lebih dari 10 kali mengecek inbox pesbukku. Apakah kau membalas pesanku. Namun nyatanya sampai tulisan ini aku posting. Sama sekali tidak ada kabar kau sudah membacanya. Sungguh ini lumayan mengaduk-aduk perasaan. Rindu ini terasa semakin dalam saja. Semakin tidak terkendali. Dan aku mau tidak mau harus menikmati sendiri. Untuk urusan menikmati rindu sendiri sebenarnya aku sudah biasa. Ya, aku lelaki yang tidak begitu mudah mengutarakan perasaan kepada orang yang aku sukai dengan lebih secara langsung.
Semalam (disela-sela mengerjakan sesuatu yang mendekati deadline) aku bahkan berpikir ngayal perihal kamu. Aku menuliskan tulisan ini di pesbukku.

“Suatu malam nanti, aku ingin mengajakmu menikmati malam yang larut. Mungkin di tepi laut sambil melihat langit, tiduran. Atau mungkin di puncak gunung –untuk hal ini aku harus memakai baju berlapis, aku takut udara dingin- menikmati suara-suara malam. Juga, aku ingin membacakan sajak-sajak yang aku tulis teruntuk kamu, perihal perasaan-perasaan yang kusembunyikan. Yang mungkin sudah kau tebak dari sikapku. Perasaan yang akhir-akhir ini senang menggodaku. Perasaan yang akhir-akhir ini mengajakku berdiskusi. Mungkin ini saatnya untuk tidak lagi menikmati hidup sendiri.”

Sayangnya kau mungkin juga tidak membaca pesan di pesbukku itu.  Atau kalau kau membacanya, mungkin kau tidak merasa. Dan memang kau tidak salah. Rindu ini bukan kesalahanmu. Mungkin aku yang terlalu pengecut untuk mengutarakannya. Namun sungguh, merindukanmu membuatku uring-uringan. Bahkan sampai saat ingin menyelesaikan tulisan ini. Kepalaku masih saja memikirkan kamu. Dan sedang  berusaha mengumpulkan keberanian. Agar segera bisa mengatakan semua ini kepadamu. Agar perasaan yang tumbuh tidak lelah. Hanya karena aku orang yang mencintai dengan payah. 

Terlepas dari pada itu. Hari ini aku belajar satu hal baru. Ternyata deadline dan rindu tak tersampaikan, membuat kepala uring-uringan.


Boy Candra | 28/11/2014

5 comments:

Anonymous said...

:)

Noviii said...

Iyaa rindu yg tak tersampaikan menbuat kepala uring"an -__-"

fajrianti yosselia said...

i love u penulis.... aku suka susunan abjadnya :D

Igga Augustira Yulianda said...

Terkadang rindu juga mengajarkan kita, disaat hati ingin bertemu dengan orang yang kita cintai dan tak tersampaikan, maka rindu berkata, 'bersabarlah'. Rindu memang membuat semuanya berantakan; perkara susah tidur, tak nafsu makan, bahkan bisa emosian karena memendam perasaan menggebu-gebu yang tak pernah ia ketahui.

Yesi Nurliyati said...

Mengintip senja di balik kaca jendela, salah satu caraku menikmati rindu....