Sunday, November 30, 2014

Siap Tidak Siap Tetap Akan Berakhir.



Segala hal yang dimulai pasti akan berakhir. Itu adalah hal yang wajar. Memang sudah selayaknya apa yang dimulai menemui akhirnya. Hanya saja memang tidak semua orang bisa menerima kenyataan seperti itu. Sebab, banyak yang siap memulai, namun tidak pernah mempersiapkan diri untuk mengakhiri. Apalagi yang mulai dengan perjuangan sepenuh hati. Misalkan, mendapatkan hati seseorang yang diingini. Lalu tiba-tiba saja sesuatu membuatnya harus berakhir. Ya, tentu akan mengangetkan, dan memedihkan. Tidak ada yang benar-benar siap mengakhiri sesuatu yang dia senangi. 

Namun setidaknya, dari setiap hal yang berakhir. Kita selalu bisa belajar. Bahwa apa pun yang ada di dunia ini. Pada hakikatnya tidak pernah benar-benar menjadi milik kita. Bahkan jika kita mau sedikit memikirkan. Orang tua yang melahirkan kita bukanlah milik kita. Pun sebaliknya, jika yang sudah menjadi orang tua. Anak yang lahir dari rahim seorang ibu. Sesungguhnya tidak pernah menjadi hak penuh ibunya. Apalagi yang hanya seorang kekasih, hanya seorang teman, hanya sebuah benda. Hal-hal yang kita temui saat kita sudah menjadi sesuatu saja.

Sebab itu, mau tidak mau, kita harus belajar mencintai sewajarnya. Bukan mencintai sekedarnya. Tapi sewajarnya. Kalau sekedarnya, berarti mencintai seadanya saja. Atau asal-asal cinta. Sedangkan sewajarnya menempatkan dia (orang yang kita cintai) pada posisi yang seharusnya. Kita tetap mencintai dia dengan penuh. Namun memahami dia tidak akan bisa kita miliki selamanya. Karena bisa saja sesorang yang kita cinta. Sesuatu yang kita miliki. Habis masanya bersama kita. Dan mau tidak mau kita harus siap melepaskannya. Pada fase inilah sebenarnya ujian dari mencintai sesungguhnya terjadi. Saat kita berharap bisa bersama selamanya, namun apa daya waktu kita telah habis. Kita harus menyadari tidak ada yang sepenuhnya menjadi milik kita.

Sejujurnya, saya pernah berada pada fase mencintai sepenuhnya. Ingin memiliki seutuhnya, selamanya. Saya lupa, ada hal yang lebih kuat dari saya. Ada Mahaperencana yang lebih hebat dari rencana saya. Dan sungguh menyedihkan, hampir dua minggu saya tidak makan. Patah hati. Kuliah berantakan. Waktu itu sedang menulis skripsi. Orang tua saya marah. Hingga akhirnya, saya belajar satu hal. Di dunia ini memang tidak ada yang bisa kita miliki sepenuh hati, meski kita bisa saja mencintainya sepenuhnya. Dan saat mencintai seseorang, ada hal yang harus kita terima nanti. Melepaskan atau dilepaskan paksa.


Boy Candra | 30/11/2014

10 comments:

Noviii said...

Aaaaaak ini keren bgt,,kamu tuh ya kaa makan apa sii,,bnr bnr idola aku deh te-o-pe!

Anonymous said...

November ditutup dgn "Melepaskan atau dilepaskan paksa"...kerenn bangg (y)

Yut damayanti said...

Mencintalah sewajarnya

duren kasih said...

Banyak hal ttg cinta, namun tak semua orang menjalani cinta... dan tak slamanya cinta sesuatu yg indah namun tetaplah cinta... kadar manusia tetaplah manusia dan berbeda.

Lisaaa said...

mencintai dengan sewajarnya dan mampu melepaskannya dengan ikhlas.. ini rasa yang aku alami sekarang bang.
Kereen iiihhh

Ramadhan January said...

menyadari dia sudah meninggalkan
semoga Allah selalu menjaganya :)

Igga Augustira Yulianda said...

Melepaskan sesuatu yang sudah dianggap pas dengan kita, memang sulit. Tuhan mengajarkan, tidak ada yang abadi di dunia. Seperti pertemuan kita yang singkat, dan ditutupi perpisahan yang berkelanjutan tanpa kita tau kapan harus mengakhiri 'kerelaan' ini...

Rini Sept said...
This comment has been removed by the author.
Sitti Khansa Nabila said...

melepaskan atau dilepaskan paksa :') berat rasanya jalani hari hari saat diri sedang terjatuh bang, aku tau persis rasanya sampai tidak makan beberapa hari dan kuliah berantakan :" berusaha menyadarkan diri sendiri dan berpikir positif itu cukup membangunkan diri ini perlahan-lahan :')

Prastiwi Oktaviani said...

belajar banyak dari tulisan2 mas... thanks for inspiring