Thursday, January 12, 2017

Teruntuk Teman Baik



Hari berlalu, kamu semakin jauh saja. Jarak merentang tak terkira. Kesibukan mulai membunuh kata-kata, suara, dan rencana. Apa kabar janji-janji bersama dulu? Kebersamaan ternyata tidak seindah masa-masa remaja. Usia dan pekerjaan merebut hidup kita. Semua menjadi hal-hal yang harus diselesaikan. Lalu kita dipaksa mengabaikan.

Sudahkah kamu menemui dirimu sendiri? Ada banyak orang yang kehilangan diri mereka sendiri. Sebab terlalu sibuk bekerja sepanjang hari. Cukup aku yang jauh darimu. Jangan sampai kamu kehilangan dirimu sebab tidak bisa membagi waktu. Biarlah rindu-rindu yang menyiksa kita. Jangan asing dengan semua yang kamu punya.

Teman baikku, yang kini sibuk mengejar impian dan hidup yang lebih mapan. Jangan lupa, bahagia kadang datang dari hal-hal sederhana. Nanti kalau sudah punya waktu senggang, jangan lupa berkabar meski melalui pesan. Rindu kadang membuat kita ingin saling sapa, lalu abai sebab merasa asing di kepala. Jangan lama-lama begitu, jarak dan waktu yang membelenggu sudah terlalu menjauhkanmu dari diriku.

Pulanglah menemui dirimu yang tersisa dalam diriku. Temui rencana dan suara-suara keras yang kita miliki dulu. Bekerja sepenuh hati itu perlu, namun hidup tidak semata begitu. Jangan lupa, ada bagian-bagian di luar dari dirimu yang selalu menunggu. Bagian-bagian yang sabar memeluk rindu. Bagian dari dirimu yang masih kujaga dalam diriku.

Boy Candra | 12/1/2017

9 comments:

popy said...

Satu hari di penghujung 2016, seorang teman mengenalkan saya pada (tulisan) anda. Tapi baru hari ini saya membacanya,jujur saja saya lebih menikmati empat paragraf di postingan ini daripada empat halaman pertama dalam Satu Hari di 2018. Setelah membaca empat halaman, saya memutuskan untuk melihat profil penulis dan mengunjungi 'sarang'nya di sini. Saya akan membaca buku itu sampai selesai. belum bisa dipastikan apakah saya akan menyukainya atau tidak. Lantas, apakah itu penting bagi penulisnya? Entahlah.

Yang pasti, penting bagi saya untuk berterima kasih. sudah diingatkan untuk menemui diri sendiri. dan saya sangat menyukai kalimat ini,"pulanglah menemui dirimu yang tersisa dalam diriku". Kalimat itu memberi getar sekaligus getir.

Nafarin Muhammad said...

Keren kata2nya bang..

Asnita said...

Apa kabar janji-janji bersama dulu?
Itu yang selalu aku pertanyakan saat ini.

Uli Neila Fauzia said...

Sangat menyentuh sekali :)

Indra said...

Ya... Yg macem sering kita baca2 dan dengar2...

Jaman skrg janji itu sebagai kalimat penenang.. Selebihnya bulshit... Hahahaha

Itu dulu mungkin waktu pacaran begitu sangat manis2 ngomong nya... Ehhh ending nya tepok jidat... Hahahaha

Anjang Feronika said...

Mas... Ijin share yee

Astari Safitry said...

Keren uda .. ijin share yah tenang pasti aku tulis sumbernya karena uda salah satu penulis favorit

Unknown said...

Aku ngefans banget sama uda.. Dan kata kata dalam novelnya pun banyak mengispirasi aku.. Dan gak sadar aku udah menulis hampir puluhan puisi yang terinspirasi dari buku buku uda boy candra. Aku suka menulis. Dan ingin menjadi penulis seperti uda boy candra. Tapi masalahnya usia.. Aku terlalu kecil untuk menulis sebuah novel.

Unknown said...
This comment has been removed by the author.