Thursday, September 6, 2012
Ingat?!
Hujan pagi ini menggenangkan kenangan di halaman itu.
Dinginnya terasa hingga ketubuhku.
Aku memeluk erat genggaman udara yang terasa hampa.
Ini adalah pagi yang membuatku bahagia.
Ya, pernah membuatku bahagia. Saat suaramu mengatakan ucapan selamat pagi dan menyeduhkan segelas rindu untuk membangunkanku.
Tepatnya satu hari sebelum pagi ini,
Lima tahun yang lalu.
Ingat?!
Wednesday, August 15, 2012
Tuesday, August 14, 2012
Monday, August 13, 2012
Pagi, Saatnya berhenti
ficture :this
Seketika
sepi menusuk jantungku. Di ujung pagi yang tak bisa ku pahami lagi. Sekumpulan gundah
mengerumi hati yang terasa nyeri. Bilakah aku akan mendengar suara lembut yang
menenangkan aku saat rindu. Dulu seperti itu.
Beberapa
detik ku coba menepi, menepiskan bayang yang perlahan mencumbui. Ku helakkan
wajahku. Tapi apa daya, dia lebih cepat melumati kebekuanku. Aku terkapar. Sepi.
Ada lagu
lama yang kembali tergiang di gaung sepinya waktu yang memelukku di sudut
kesendirian. Ada yang telah berubah jauh dari apa yang ada di ruang asaku. Sementara
aku masih tidak mau menyadari. Sementara aku masih bermenung di bilik hati yang
yang terfigurakan bingkai kata kita.
Berjalan
aku terhenti. Berlaripun aku tertahan. Tumpukan rasa yang masih mengikat tanpa
ikatan. Kumpulan rindu yang mengerumi tanpa pemilik. Masih tak mau letih
memutari ruang hatiku.
Ini
sudah pagi keberapa. Entah kapan aku berhenti menunggu asa yang terlanjur ter-asakan. Mungkin nanti, mungkin esok, lusa,
atau kah harusnya kemaren. Aku hanya baru berani dalam kata “mungkin” dan “harusnya”.
Tanpa pernah benar-benar berani melakukannya.
Kataku;
pelan saja, aku bisa. Ini entah pelan sepelan apa lagi aku melakukannya. Nyaris
tak bergerak. Tetap, ini melelahkan. Aku tak semudah apa yang ada di pikiran ku
sebelumnya. Aku tak sekuat apa yang di khayalanku kemaren. Tak seperti itu,
ternyata.
Bahkan
lebih lemah dari apa yang aku bayangkan. Inikah benar yang menghilang aku dari
aku?
Aku
seperti tak mengenal siapa aku lagi, semakin panjang menuliskan bait-bait ini
semakin sesak rasa hati. Bait yang seharusnya memberikan senyum, tapi kini
tidak untukku. Kali ini masih senyum untuk memilukan pagi yang terlanjur sudah
tak sempurna untuk disebut sempurna.
Mungkin
benar. Ini saatnya berhenti. Setidaknya berhenti untuk melanjutkan tulisan ini.
Aku takut nanti kertasnya semakin basah…
Wednesday, August 8, 2012
Percakapan yang tertunda 2
ficture : this
Kita tak pernah tau apa yang akan terjadi besok bukan?!
Pada dasarnya aku mencintaimu. Dan kamu ragu untuk mencintaiku. Kita ada di masadepan, nanti, kalian adalah masalalu. Pertamanya, aku jatuh cinta. Kamu hanya malu-malu. Suatu hari aku akan bercerita tentang dirimu pada anak-anak ku. Saat mereka bertanya, Siapa dia yah? aku akan menjawab, seharusnya, dia ibumu.
Iya, seharusnya. tapi dia memilih untuk melahirkan anak yang lain. Bukan kamu!
Lalu... anakku, betanya lagi. Apakah ayah masih mencintainya? Aku hanya bisa terdiam. untuk pertanyaan ini. Aku bisu. Karena aku tak ingin menyakiti ibu dari anak-anakku.
Kalau ayah cinta, kenapa ayah tak memperjuangkannya? lirik anakku tajam. Sekali lagi, aku hanya bisa terdiam.Ku hela nafas panjang....sangat panjang.
"Apa kamu pernah menginginkan aku sebagai ayahmu?" tanyaku pada dia.
Ada rasa sesak di dadaku yang tak bisa ku jelaskan. Dia kembali menatapku. Lalu, apakah ayah tidak bisa berhenti mencintainya?
Kali ini aku harus menjawab.
"Aku tidak pernah mencintainya, karena sekarang aku mencintaimu dan ibumu. jangan tanya dia lagi. kasihan ibumu yang mencintaiku."
Ada tangis pecah dalam pelukan keluarga kami malam itu.Saat itu aku sadar, cinta dari masalalu tidak akan bisa merebut kebahagian keluargaku.
8 agustus 2012
Sekarang. Kamu begitu jauh, di ujung mataku pun tak terjamah, hanya sepi yang kau tinggalkan disini. di ruang sepi yang kusebut "kita".
Kita dan senja
ficture: this
1. Ah... ini bukan senja "kita" lagi. Apakah sudah saatnya
melupakanmu?!
2. Kita adalah dua hati yang pernah duduk di senja yang
sama. Tapi kita memimpikan pagi yang berbeda.
3. Kita adalah dua hati yang gagal memahami. Lalu berlari
saling mencari alasan untuk tetap bertahan atau tidak.
4. Sekarang kita adalah dua orang yang berpura-pura saling
melupakan. Dan melepaskannya pada orang yang kita sebut cinta.
5. Suatu saat kita akan bertemu sebagai dua orang yang punya
rahasia. Lalu saling tersenyum.
6. Ah...jangan bicara senja. Aku suka terdiam saat kata “kita”
memaksa untuk menemaninya.
Subscribe to:
Posts (Atom)




