Thursday, August 1, 2013

Surat Cinta - #CeritaDariKamar. - Hari Pertama





Ketika seseorang menghadiahimu sesuatu, itu karena ia menaruh harapan agar kamu bahagia dengan apa yang ia barikan. Dikatakannya atau tidak.


Kalimat itu membuat saya menyimpan semua hal yang diberikan pada saya. Hal-hal yang pernah begitu berarti dalam perjalanan hidup saya. Banyak benda-benda yang masih tersimpan di lemari kamar saya. Benda-benda yang dulunya diberikan oleh seseorang, duaorang, tigaorang. Dan senja ini, saat menuliskan tulisan yang sedang kamu baca ini. Saya ingin menceritakan satu benda yang masih saya simpan hingga saat ini. benda yang dulu begitu berarti untuk saya, juga untuk orang yang memberikannya pada saya.
Benda pertama yang saya pilih untuk ikut berpartisipasi dalam event #CeritaDariKamar yang dibuat oleh @Benzbara_ ini, adalah surat cinta. Ya. Surat cinta.
Ini surat cinta yang ditulis oleh seseorang yang pernah begitu dalam saya cintai. Jujur saja, dia adalah cinta pertama saya. Kami bertemu kelas dua SMP, satu tahun dekat, akhirnya ketika kelas tiga saya memberanikan diri untuk menyatakan perasaan kepadanya.
Perjalanan cinta saya tak begitu mulus. Ada beberapa syarat yang harus saya lakukan bila saya benar ingin menjadi pacarnya. Karena pada saat itu, saya adalah lelaki yang jatuh hatinya saya tak peduli apapun yang ia syaratkan. Dan cinta bersyarat itupun saya sanggupi.
Oh iya, saya sampai lupa. Nama gadis itu, Puput.
Cinta bersyarat memang tak segampang yang saya pikirkan. Awalnya saya sempat dipengaruhi beberapa teman, kalau dia cinta seperti itu padamu, berarti dia tak benar-benar mencintaimu nanti. Dia tak mencintaimu apa adanya. Dia mencintaimu karena kamu ingin menjadi seperti yang ia mau, bukan mencintaimu sebagai dirimu sendiri.
Saya mulai berfikir. Saya rasa teman-teman saya ada benarnya. Tapi bukankah saya memang sedang jatuh cinta padanya, dan saya harus buktikan saya bisa menjadi apa yang ia inginkan. Akhirnya saya abaikan ucapan teman-teman saya.
Saya melakukan syarat yang pada saat itu begitu sulit untuk saya lakukan. Dulu, sewaktu Smp, saya adalah anak yang tidak terlalu teladan. Rambut saya acak-acakan, baju saya tak pernh rapi, sesekali saya ikutan merokok bersama teman-teman di kantin belakang sekolah. Dan kadang, saya malah ikutan cabut saat jam pelajaran.
Puput ingin saya berubah 180 derjat. Dia tak suka lelaki perokok. Dia tak suka melihat anak lelaki yang bajunya tidak rapi. Dia juga tak suka saya cabut saat jam pelajaran. Dan saya harus datang tepat waktu ke sekolah.
Oh tidak! Itu syarat yang menurut saya mengada-ngada. Bagaimana saya bisa merubah segala kebiasaan itu? Dan yang lebih parahnya, Puput memberikan limit waktu untuk saya membuktikan, apakah saya pantas untuk menjadi kekasihnya.
Hari-hari berikutnya saya mulai melakukannya. Datang kesekolah sebelum jam tujuh pagi. Jika saya telah bangun, saya lebih memilih sarapan di sekolah dari pada di rumah. Tujuannya tak lain agar Puput melihat kesungguhan saya. Pakaian dan rambut saya pun labih rapi dari biasanya. Beberapa teman yang sering mengajak saya cabut, malah heran, kenapa saya bisa berubah seperti itu.
***
Orang yang jatuh cinta, akan selalu membuat orang yang ia jatuhcintai menjadi nyaman berada di sampingnya. Walau kadang harus merubah dirinya menjadi orang lain.          
Saya melakukan itu.
Kelas tiga SMP tahun 2005, saya belum memiliki Hape. Dan pada saat itu, salah satu hal yang sering dilakukan orang berpacaran, adalah dengan bertukar surat cinta.
Saya menuliskan surat cinta saya pada Puput. Satu. Dua. Tiga. Surat cinta yang bertuliskan tulisan tangan, yang saya rangkai dengan kata-kata yang menurut saya indah pada waktu itu. Saya memberikannya langsung pada Puput. Seminggu berlalu surat pertama, ia tak membalasnya, begitu juga hingga surat cinta, kedua, ketiga, Puput tetap tak membalasnya.
****
Saya mencoba mengerti dari sikap yang di tunjukan Puput. Dia mulai terlihat menunjukan sikap kalau dia juga punya hati untuk saya. Saya berusaha tak berharap ia membalas surat cinta dari saya.Bagi saya, dia sudah nyaman di samping saya, itu sudah menjadi kebahagiaan.
Kadang, cinta memang tak harus diucapkan dengan kata.
Hubungan kami berjalan dengan baik. Sesekali saya masih mengirim surat cinta pada Puput, meski saya tau, dia tak akan membalasnya lagi. Dan akan menjawab semua pertanyaan yang saya tuliskan di surat cinta saya, langsung pada saya. Saat kami bertemu di sekolah.
Seiring waktu berlalu, saya merasa      Puput mulai berubah. Dia terlihat seolah menjauhi saya. Dan itu rasanya sakit, saat orang yang kamu cintai, tiba-tiba saja menjauhimu tanpa alasan. Saya mencoba bertanya pada Puput, tapi dia malah seperti tak ingin berbicara dengan saya.
Saya bingung. Tapi ada hal yang lebih penting di hadapan saya. Sebentar lagi, Ujian Nasional. Saya juga tak ingin gagal hanya karena saya patah hati.
Singkat cerita, Ujian Nasional berlangsung. Dan Sekolah kami dinyatakan lulus dengan kelulusan seratus persen.
Teman-teman saya bahagia. Saya juga bahagia. Tapi ada hal yang masih menyangkut di hati saya. Kenapa Puput tiba-tiba menjauhi saya. Apa saya gagal dalam mengikuti ujian cintanya? Kalau iya, kenapa dia tak bilang langsung. Kenapa harus menjauh seperti ini?
Tiba-tiba hal yang tak pernah saya pikirkan sebelumnya terjadi. Tepat di acara perpisahan sekolah. Puput datang menghampiri saya.
“Boy, aku ingin mengatakan sesuatu, tengan sikapku selama ini. tapi bukan disini.” Dia mengajak saya ke taman belakang sekolah.
Lama kami hanya diam saling sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga akhirnya ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah surat cinta berwarna biru.
“Aku tau. Kita tak akan bertemu lagi sehabis ini. Aku akan melanjutkan sekolah di luar kota. Aku harap, kita masih bisa saling mengingat, walau aku tak yakin  bisa menjalani hubungan jarak jauh, tapi tak apa, kita jalani saja dulu.
“ini surat cintaku untukmu. Aku harap kamu manjaganya. Seperti kamu menjaga hatiku. Jangan sampai hilang.”
Saya tersenyum. Ada bahagia yang tak bisa ku jelaskan dengan kata-kata waktu itu. Surat cintanya saya bawa pulang. Kata Puput, saya tak boleh membacanya saat bersama dia. Saya harus membacanya di rumah. Jika saya  merindukannya nanti, saya harus membaca surat cinta itu berkali-kali, hingga rindunya reda.
Saat jauh dari Puput. Saat rindu. Saya  selalu membaca ulang surat cinta dari Puput. Surat cinta yang tidak biasa. Selain karena di tulis dengan mesin TIK. Juga karena saya percaya, Ia menuliskannya dari hati.
Hingga saat ini, meski saya tak lagi mengharapnya, meski saya tak lagi merindukannya seperti dulu. Saya memutuskan untuk tetap menyimpan surat cinta ini. Pernah suatu ketika saya ingin mengembalikannya pada Puput. Tapi tak jadi. Saya pikir, ada baiknya kenangan memang harus disimpan. Karena tak ada cinta yang bisa dikembalikan.
***



1 comment:

Puspa said...

well, it's same story as mine. akupun masih menyimpan surat2 'cinta' dari teman2 jaman SMP dulu. meski tidak semuanya menyimpan cerita indah :)