Friday, December 5, 2014

Dalam diam dan kakunya sikapku.



Aku dan dia hanyalah dua orang yang saling diam.  Meski kami satu organisasi di kampus. Namun, sungguh, saat bersamanya, aku sama sekali tidak berani menatap matanya. Jangankan menatap matanya, mengajaknya bicara saja, rasanya aku harus mengumpulkan keberanian. Entah kenapa aku tiba-tiba merasa kaku. Aku menjadi orang yang tidak tahu harus bicara apa kepadanya. Anehnya, saat  beberapa hari tidak bertemu. Ada sesuatu di dadaku. Aku merindukannya. Aku ingin bertemu dengannya.

Diam-diam aku sering menunggu dia di sekretariat organisasi kami. Tidak akan ada yang curiga memang. Karena aku memang setiap hari kesana. Dia biasanya juga sering datang ke tempat yang sama. Namun tidak sesering aku datang, memang. Dia memiliki kegiatan lain di luar kampus. Saat-saat seperti ini, aku menunggu dia yang belum jelas kedatanganya. Dan kadang malah tidak datang sama sekali. Karena menjalani kegiatan yang lain. Namun entah kenapa aku tetap saja menunggu. Diam-diam aku selalu berharap dia datang setiap hari.

Hari berlalu, berminggu, berbulan-bulan sudah aku melakukan hal yang sama. Menunggu dia datang. Saat dia datang. Aku merasa senang. Hampir tidak pernah ada percakapan serius di antara kami. Dia sibuk bicara dengan teman-temannya yang lain. Sedangkan aku sibuk menikmati semua yang berkembang di pikiranku. Sibuk menenangkan pertanyaan-pertanyaan yang semakin hari semakin kuat. Sampai kapan aku akan menjadi seperti ini? Orang yang hanya mampu mengagumi diam-diam. Tanpa pernah sanggup mengumpulkan keberanian untuk sekedar mengatakan sesuatu.

Hingga suatu sore, dengan segenap usaha memusatkan pikiran. Menenangkan hati. Aku mengumpulkan keberanian untuk menyapanya. Dan kau tahu apa yang terjadi? Ya Tuhan, dia hanya tersenyum. Lalu berkata beberapa patah kata. Sungguh itu sudah membuatku merasa bahagia. Meski setelah itu, aku segera pergi meninggalkannya. Aku takut terlihat semakin kaku. Aku takut tidak bisa mengendalikan diriku sendiri. Akhirnya aku pergi. Kejadian itu berlangsung terus menerus. Lama sekali.

Beruntung, waktu bisa sedikit menenangkan hati. Kini aku dan dia tidak hanya sekedar diam saat bertemu. Aku selalu berusaha menampilkan senyuman termanisku. Sesekali aku juga sudah berani mengajak dia chat di facebook, atau sesekali aku mengirimi pesan lewat BBM. Seminggu lalu aku memberanikan diri meminta pin BB miliknya. Jika perasaan ini adalah ukuran ketabahan, aku adalah orang yang paling tabah mencintainya dalam diam dan dinginnya sikapku selama ini.


Boy Candra | 05/12/2014

3 comments:

Lina P said...

Ini hampir seperti yang aku alami, karena gugup sikapku jadi dingin demi menutupi perasaan sendiri. Padahal ini tahun terakhirku di kampus, tapi ga pernah ada kemajuan..

Nardhi said...

Hampir sama dengan yg aku alami.. Smoga sja saya dpat mengumpulkan kebranian untuk mengajak dia ngobrol..

Nardhi said...

Hampir sama dengan yg aku alami.. Smoga sja saya dpat mengumpulkan kebranian untuk mengajak dia ngobrol..