Monday, July 29, 2013

Perihal pasangan

"Minta saja pada Tuhan, kalau kamu belum diberi pasangan. Mungkin Tuhan sedang sibuk mengurusi yang lain, yang lebih kesepian dari kamu." - Boy Candra

Aku dan lampu kamarku.

Lampu kamarku sepertinya memperhatikanku sedari tadi.
ia seolah ingin bertanya kenapa aku masih saja belum tidur
kenapa aku masih saja sibuk mengetik kata-kata yang sedang kau baca ini
tapi ia tetap tak mengeluarkan suara, ia hanya menatapku, dengan terus menerangi ruangan kamarku.


Sesekali aku melirikkan mata ke arahnya.
menatapnya, lalu berbisik, kau tau, aku sedang jatuh hati.
kau tau, aku sedang menunggu seseorang menerima cintaku.
aku sedang menuliskan puisi ini untuknya

lampu kamarku tersenyum dengan mengerdipkan cahayanya sejenak
lalu kembali terang seperti biasa.
aku terus saja menulis.
menuliskan apa saja yang terasa di dadaku.
menuliskan apa saja yang ada dipikiranku.

tak terasa malam telah beranjak larut
sebentar lagi dinihari pasti datang
aku menatap lampu kamarku.
mungkin sudah saatnya tidur

aku menekan kontak on-off, dan lampu itu pun mati.
sepertinya malam ini, menulis puisi ini, cukup sampai disini saja.
besok dan seterusnya aku akan menuliskannya lagi untukmu.
di temani lampu kamarku yang selalu setia.

 -------------------------------

 begitulah aku mencintaimu
aku melakukannya dengan hal-hal yang ada di sekitarku
agar aku tak merasa sepi sendiri saat rinduku tak kau balas
agar aku tak mati.




Sunday, July 28, 2013

Hujan malam ini.

Langit sepertinya mengerti.
ada rindu yang diam-diam merasa sepi
ada rindu yang kian malam kian meratapi sunyi
ada rindu yang tak dapat kabar dari kekasih hati yang dicintainya.
tapi tak balas mencinta.

atap rumahku menangis.
merintih seperti seseorang yang mulai letih.
seseorang yang tak lagi kuasa akan pedih.
ternyata sendiri itu tak selalu indah,
mecintai sendiri adalah perihal bertarung resah.

Malam ini kau tak juga memberi kabar
ini malam kesekian kau biarkan rindu terlantar
hujan telah membuat tubuhnya menggigil
tapi kau masih saja enggan memanggil

kau biarkan saja ia tersita waktu
kau biarkan ia terbalut sedu

hujan masih saja turun di atap
juga rindu yang masih saja tak henti meratap.

UK. 22:26 wib - 28-07-13

bekas hujan pilu



Dia membuatku luka, segala yang pernah ku perjuangkan untuknya hanya bisa menyisakan sia. Aku jatuh dalam sepi yang tak pernah ku inginkan, dalam ruang yang tak pernah ku harapkan. Ini kah hasil dari perjuangkan hati yang ku jaga selama ini? Memamah rasa sakit, aku berdiri berangkit dalam bait tatih yang masih menganga.



Dan akhirnya waktu mempertemukan.

Kamu yang dibuatnya luka, percayamu yang terabai sia. Keping yang kau utuhkan untuknya hancur segelitik  tika. Kamu yang menjaga. dia yang menuai hampa. Sakit. lirih batinmu meronta. Bermalam sembab mata menemanimu. Kamu tertatih menyendiri di sudut hatimu. Menggenggam hati yang berkeping hancur.
Lalu ini kah takdirnya?!

Datang dari masalalu yang berbeda tapi sama, - tertatih. Kita bangun kembali pondasi hati kita. bukankah hancur keping masih bisa dibentuk?!. Aku, kamu, tau rasanya tertatih. Semoga ini adalah awal yang kuat untuk membangun istana hati kita, bermaterial keping hati dan air bekas hujan pilu. 

Kita adalah kepingan hati yang saling merekatkan diri dalam luka. - hingga utuh

Bunuh diri


Tak ada yang perlu dijelaskan.

Saat malam-malammu tak lagi untuk mimpiku.

Saat sayup suaramu tak lagi tidurkanku,

ada yang berbeda untuk kata kita,

lelah yang terlanjur menua,

tergopoh berjalan menenangkan hati, sendiri.

Entah sejak kapan kau mulai berfiksi untuk kisah ini.

Cerita yang seharusnya indah, kini telah menyuri.

“Apakah kamu membenciku?” tanyamu.

Ada hening yang panjang diantara kita. setelah itu…

“Apakah rasamu telah mati?” sama nada pertanyaanmu.

Hening lagi, kali ini lebih panjang, sejenak kehela nafas.

Terasa ada yang tertahan sebelum akhirnya lepas.

bukan rasaku yang telah mati, tapi asaku yang terlanjur bunuh diri.


20 Agustus 2012, 10:05 pm.

Pindah - Berubah - Dan tumbuh.

Pindah - Berubah - Dan tumbuh.

Saya sepertinya juga ingin seperti itu. Lama sudah saya tak lagi melakukan aktivitas menulis di blog ini. Dan hari ini saya ingin kembali menulis disini, di ruang yang tak berkayu ini, tapi saya percaya, ruang ini memiliki 'nafas'.

Beberapa kali blog ini sempat berubah nama, saya akui, itu sebab kelabilan saya. Dan semakin manusia tumbuh, akan selalu ada perubahan dalam dirinya. Begitupun yang saya inginkan dalam diri saya. Saya ingin berubah ke arah yang lebih baik, dan baik lagi. Selalu.

mengingat ke belakangan, sudah hampir dua tahun saya melakukan aktivitas menulis yang rutin. Meski tak serutin penulis terkenal, dan penulis produktif lainya. Tapi, setidaknya saya mencoba konsisten menulis dalam dua tahun terakhir ini. Dan saya bahagia melakukannya, meski tak ada cerpen atau pun puisi saya yang di muat media. Saya menulis dan memilih menyimpannya di laptop.

Itu tidaklah masalah. Toh semua butuh proses. Saya sudah menulis dua naskah novel, satu di antaranya sudah di tolak penerbit. Wajar, saya akui, itu adalah proses. Sekarang dalam dua tahun perjalanan menulis saya, saya sedang berjuang untuk naskah novel ke dua saya. Sudah dikirim ke pernerbit. Semoga kali ini bisa lahir dan tumbuh. Hidup.

Sekarang saya juga sedang menulis naskah kumpulan cerpen tentang lelaki dan hatinya. Nanti mungkin akan saya terbitkan.


Alasan saya kembali mengaktifkan blog yang sempat 'tidur' ini, saya ingin kembali berpuisi. Bercinta dengan kata-kata yang sudah lama tak saya lakukan. Kembali jatuh cinta. Mungkin blog ini akan terisi dengan puisi saja nantinya. Ya, kemungkinan, banyak seperti itu. Meski akan ada hal-hal lain yang saya rasa perlu saya post selain puisi.

Oh ya, beberapa tulisan yang lama sengaja tidak dihapus. Karena saya ingin melihat apakah saya bergerak atau hanya diam dalam hal menulis.



Boy candra.










Thursday, September 6, 2012

Ingat?!


Hujan pagi ini menggenangkan kenangan di halaman itu.
Dinginnya terasa hingga ketubuhku.
Aku memeluk erat genggaman udara yang terasa hampa.
Ini adalah pagi yang membuatku bahagia. 
Ya, pernah membuatku bahagia. Saat suaramu mengatakan ucapan selamat pagi dan menyeduhkan segelas rindu untuk membangunkanku.
Tepatnya satu hari sebelum pagi ini, 
Lima tahun yang lalu. 
Ingat?!