dear adik-adik yang curhat di email.
Menyembuhkan luka itu memang tak semudah makan sate Padang, dik. Apalagi kalau lapar, sebentar juga beres. Abis.
Menyembuhkan luka butuh proses yang agak panjang, sekarang tergantung kamu. Mau berlama-lama dalam kesedihan, atau bersyukur karena kamu tahu siapa dia sebenarnya.
Nggak kebayang kan kalau kamu tahunya setelah kalian menikah, atau setelah kalian punya anak? pasti akan lebih sakit.
Sekarang, kamu jalani saja hidup yang baru, buka hati lagi, selalu ada cinta baru yang mampu menyembuhkan. Meski kemungkinan terluka selalu ada. Tak usah takut! itulah hidup.
--boy candra
Thursday, May 22, 2014
Wednesday, May 21, 2014
Ayah dan apa yang saya pikirkan.
Saya sangat menghormati ayah saya. Saya tidak
pernah merasa lebih pintar dari beliau. Meski tak jarang kami berbeda
pandangan. Namun bagi saya, tidak sepantasnya saya membantah apa yang beliau
pikirkan. Tidak pantas anak menyalahkan ayah. Meski kadang, apa yang saya
pikirkan sudah tidak sesuai dengan apa yang ayah saya pikirkan. Di satu hal
saya sadar; ayah adalah akar untuk anaknya. Tidak akan pernah pohon kuat, kalau
akarnya tidak kuat. Saya tidak akan pernah menjadi lebih kuat untuk berdiri
kalau ayah saya tidak punya pikiran seperti itu. Karena itu, saya harus belajar
memahami kenapa dia berpikir seperti itu.
Sering kali saya memiliki keresahan hati; ini tidak
seperti yang ayah pikirkan. Tapi, saya tidak akan membantah apa yang ayah saya
katakan. Bagaimana pun, sebisanya saya tidak ingin membuat ayah saya sedih. Dia
telah membesarkan saya, membuat saya mampu berpikir tentang banyak hal. Jika
nanti saya membantah apa yang ia katakan dengan apa yang saya dapatkan di luar;
secara tegas, tentu ayah akan sedih. Dan kesedihan ayah adalah salah satu kegagalan
anak paling parah.
Jika ayah berbeda pandangan, saya akan mencari
jalan pikirannya. Lalu mencerna kembali, jika ada kesempatan, saya akan
bertukar pikiran dengannya. Tanpa membantah pikiran beliau. Tanpa membuat
beliau merasa saya lebih pintar. Karena saya memang tak akan lebih pintar dari
ayah saya. Tapi saya bisa belajar berpikir tentang apa yang ayah saya belum
sempat pikirkan. Mungkin karena dia selalu memikirkan hidup saya; bagaimana
anaknya bisa sampai seperti saat ini, lebih baik dari hari ini. Dia mengabaikan
hal-hal yang akhirnya akan didebat oleh anaknya.
Semoga saya tidak melakukan hal itu. Saya tetap
ingin menjadi anak yang membuat ayah saya mengerti, saya adalah anak yang tidak
ingin membantah apa yang ia pikirkan. Biarlah kepala saya beradu argumen
sendiri. Biarlah isi kepala saya saling berontak. Asal ayah saya tetap percaya;
dia adalah ayah yang saya hargai sepenuh jiwa saya. Dia adalah ayah yang
membuat saya tetap tenang menjadi anaknya. Dia adalah ayah yang tidak akan
pernah saya tandingi, dan memang tak ingin saya kalahkan pandangan hidupnya.
Saya hanya ingin; ayah saya tetap menjadi dirinya.
Ayah yang selalu berpikir agar anaknya terus belajar menjadi hebat. Sebab
dengan begitu, ia akan selalu mendoakan, memikirkan, bagaimana anaknya agar jadi lebih hebat lagi. Karena
itu, saya tidak pernah ingin terlihat hebat di mata ayah saya. Agar dia tidak
berhanti mencintai saya.
12:57 wib
21 mei 2014
---Boy candra
Thursday, May 8, 2014
Surat kepada Adik.
Apa yang kau kejar, dik? Mencintai tanpa
dicintai itu terasa sakit. Dan terlebih lagi, kau mencintai dia tapi dia hanya
berpura-pura mencintaimu. Kau merasakan perihal itu, namun kau tak tega
melepaskannya. Sungguh malang nasibmu dik, kau tahu kau tak bahagia. Tapi kau
tetap saja memaksakan semuanya. Jika kini kau terluka, siapa yang salah?
Dik, kau harus ingat kata ibu kita;
kebahagiaan tak perlu kau tumpangkan kepada siapa pun. Tidak juga pada ibu!
Lalu kenapa kau malah menaruh harap kepada orang yang jelas-jelas kau tahu dia
hanya memberikan hal semu.
Ayolah dik. Coba berpikir jernih. Kau telah
dibutakan oleh hal yang sama sekali bukan bahagiamu. Orang yang hanya akan kau
sesali suatu hari nanti. Bahwa kamu telah menyia-nyiakan waktumu untuk membuat
ia mengerti. Padahal kau tahu pasti, dia tak akan pernah berubah. Ia hanya
berpura-pura. Dan kau juga paham betul, kebahagiaan bukanlah sebuah
kepura-puraan.
Aku hanya kakak yang tak tega melihatmu
terluka. Tapi, aku juga tak bisa memaksamu untuk melepaskannya. Karena seperti
yang ku katakan kepadamu tadi, kebahagiaan tak pernah bisa ditumpangkan.
Termasuk kepadaku, kakakmu sendiri. Bahagiakanlah dirimu, dik, dengan
melepaskan yang kau tahu dia hanya berpura-pura membuatmu bahagia.
8/05/2014
Kakakmu,
yang mungkin tak bisa membahagiakanmu.
Boy
Candra.
Sunday, May 4, 2014
Kematian.
Aku
turut berduka atas kematian kenangan kita. Tenangkanlah hatimu, percayalah:
semua akan baik-baik saja. Tak usah kau pikirkan lagi. Kenangan yang telah mati
akan kembali ke asalnya. Ia tak akan lagi mengikat kita. Tak akan lagi
membangunkan kita di tengah malam di antara derasnya rintih hujan. Tidak akan
juga datang pada tempat-tempat di mana kita pernah memanjatkan harapan. Ia kini
telah mati. Perihal kematian, tak ada yang bisa kembali. Karena Tuhan tak
pernah bercanda untuk sebuah nama. Kenangan kita sudah tua, selayaknya ia
melipat dada. Biarlah ia pergi. Pelan-pelan kita akan kembali, berjalan
menyusuri ruang-ruang sepi, melintas di antara raung-raung nyeri.
Aku
tahu, kematian selalu mendatangkan sedih, juga pedih. Namun kau harus paham,
semuanya akan kembali pulih seiring lelah diculik malam. Hari ini ku tanamkan
kisah kita di batu nisan merah muda. Biarlah ia melapuk bersama tangis yang
ditinggalkan. Lupakan segalanya. Jika tak bisa semudah kita bicara, belajarkan
untuk percaya, bahkan luka akan sembuh
pada waktunya. Lepaskanlah kematian ini, karena kenangan hanya butuh ruang
sunyi. Agar ia tak lagi datang menusuk relung hati.
04/05/ 2014
--boy
candra.
Monday, April 14, 2014
Manusia lain.
Aku
pernah menemuimu di perempat malam, juga di senja di sela larian anak bermain
layang-layang. Semua hal yang kau minta, sebisanya aku perjuangkan. Segala hal
yang ku lakukan tak lain untuk membuatmu menjadi tenang. Karena, jauh di dalam
hati, aku tak ingin cinta yang tumbuh ini tiba-tiba mati. Karena kesepian akan
datang memeluki. Dan aku tak mau semua itu terjadi, kepadamu, kepadaku, kepada
kita.
Apa
yang kurasa, selalu ku jaga. Agar cinta selalu bisa menghangatkan dada. Agar
cinta tak pernah membiarkan air mata mendekat. Dan semua hal yang membuatmu
tertawa selalu kuiringi dalam doa. Selalu ku jalankan dalam langkah-langkah
lelah, meski tertatih, meski letih. Untuk keutuhan kita aku tak pernah
menginginkan duka.
Hingga
pada suatu hari, ada manusia lain yang kau sebut bagian dari hati. Dia yang
diam-diam mencuri hatimu terdalam. Bagaimana bisa? Aku tak pernah lengah
menjaga apa yang kita punya. Aku yang selalu menyerahkan segala asa hanya
kepada kamu. Hanya ingin hidup denganmu. Tapi kenapa, nyatanya dia yang kau
sebut cinta. Dan menusukan sebait kata bernama luka di sudut dada. Begitu
dalam. Membuat lebam.
Harusnya
aku tak sedih. Karena apa gunanya mempertahankan seseorang yang jelas-jelas
tidak pantas dipertahankan. Namun, selain mendatangkan rindu dan bahagia, cinta
juga bisa mendatangkan pedih yang tak terkira. Kau sukses memberikan itu
kepadaku. Kesakitan ini yang akhirnya membuatku harus belajar berhenti
mencintaimu. Harus berhenti merapal doa untuk hidup denganmu. Harus melupakan
kenangan bersama anak-anak bermain layang-layang senja itu.
“Kadang,
apa yang terlalu kau percaya tak jarang mendatangkan luka yang pedih tak
terkira. Seperti dia yang begitu kucinta, dengan sengaja menjadikan manusia lain
menjadi bahagianya. Ternyata cinta tak pernah cukup bagi manusia yang tak
serius pada hati. Terima kasih pernah menemani, –juga pernah melukai.”
14.04.2014
--boy
candra
Friday, April 11, 2014
Aku pernah.
Harusnya
aku tak menaruh apa-apa di matamu. Karena kini begitu sakit rasanya saat
menatap kembali. Ada rindu yang dari dulu belum sempat kusudahi, tapi kau
segera membawanya pergi. Juga hati yang kau rebut paksa untuk menyudahi janji.
Sebelum kita benar-benar menepati.
Harusnya
aku tak jatuhkan rasa kepada bibirmu. Karena kini begitu pilu mendengarkan
potongan kalimat selamat tinggal untukku. Dengan mudahnya kau lumatkan luka di
dada. Tak ada lagi manis manja kata rindu. Yang kau katakan segeralah lupakan
aku. Apa kau tak pernah berpikir, bibir manis itu pernah membuatku merasa
semuanya tak akan pernah berakhir. Tapi nyatanya kini perpisahan kau sebut takdir.
Aku
tak bermaksud menyalahkan kau yang mengingkari janji. Juga tak mau mengatakan
semua luka adalah ulahmu. Hanya saja, setumpuk perih masih saja tersisa. Hingga
saat aku tak bisa lagi menemuimu, pedihnya belum juga mereda.
Namun
pada akhirnya aku pun harus mengerti. Mencintaimu adalah keputusan yang tak
perlu ku sesali. Bagaimana pun aku pernah merasa hangat pelukmu. Pernah
mengecup lembut bibirmu. Juga lelaki yang menenangkan sedu sedanmu. Hanya saja,
mungkin alam memang tak pernah sepakat untuk kita terus bersama. Biarlah luka
ini tetap ku bawa, entah sampai di ujung jalan mana. Entah sampai malam
keberapa. Jika kau bahagia, harusnya aku juga bisa bahagia.
-- boy candra
Thursday, April 3, 2014
Patah Hati
Entah kenapa saya
selalu menjadi orang yang dicari setiap teman perempuan saya patah hati.
Bukan untuk dijadikan kekasih. Tapi hanya sekedar teman berbagi sedih. Seperti
hari ini, saat hujan begini saya duduk di teras kantor organisasi kampus saya.
Tak ada yang ingin saya nikmati selain menatap rintih-rintih hujan yang turun.
“Kamu sedang sibuk?”
“Iya. Sibuk menatap
tetesan hujan yang turun.”
Aku tahu betul, dia
tak akan peduli aku sibuk atau tidak, ketika ia hendak bercerita ia akan
melakukan itu. Bertanya hanyalah basa-basi saja.
“aku..”
“kamu patah hati,
lagi. “
Dia mengangguk. Aku bisa
menebak, karena dia tak akan datang saat aku sibuk sendirian, kalau tidak
sedang patah hati. Dia paham betul, aku tidak suka diganggu kalau sedang
sendiri. Apalagi saat sedang menulis, tapi saat patah hati dia tak akan peduli
apa yang aku lakukan. Ya, begitulah orang yang sedang patah hati, yang ia
pikirkan hanya bagaimana hatinya bisa kembali pulih.
“ternyata, dia tak
seperti yang aku bayangkan. Aku pikir masih ada lelaki yang bisa mencintaiku
dengan tulus.” Ia terlihat menghela napasnya. “ternyata lelaki sama saja,”
Hujan semakin deras. Kali
ini aku tak menanggapi perkataannya. Aku tak mungkin mengiyakan kalau semua
lelaki itu sama saja. Seperti apa yang ia katakan kepadaku. Tapi aku juga tak
mungkin membantah apa yang ia katakan, karena perempuan yang patah hati hanya
butuh satu hal; didengarkan!
“kenapa kamu diam
saja?”
Dia seolah membaca
pikiranku. Kali ini, untuk beberapa detik mataku dan matanya bertatapan. Tapi
hujan tak berhenti seperti dikebanyakan drama korea yang pernah ku tonton.
Mungkin karena kami bukan pasangan kekasih. Hujan mungkin berhenti saat dua
orang saling jatuh cinta bertatapan seperti di drama korea.
“teruslah bercerita,
aku masih mendengarkanmu.”
“aku harus bagaimana?
Apa aku harus berhenti saja mencintai lelaki,”
“maksud kamu?” mataku
melotot.
“nggak gitu juga.
Emang kamu pikir aku akan jadi lesbian? Ya enggaklah! Hih!” seolah bisa membaca
pikiranku.
Syukurlah. Ucapku dalam
hati. Aku hanya khawatir kalau dia sempat menyimpang hanya kerena patah
hati. Biar bagaimana pun, ia adalah
teman perempuanku yang paling sering curhat tentang hatinya yang patah
kepadaku. Aku kenal dengannya sejak dua tahun lalu. Kami sama-sama menjadi
anggota muda di organisasi kampus yang sama. Dan sejak dua tahun terakhir,
sudah enam kali dia bercerita tentang lelaki yang menyakitinya. Entah karena
aku penulis, atau karena aku masih belum punya pacar, banyak perempuan yang
memercayakan membagi kisahnya kepadaku. Termasuk perempuan yang satu ini. Aku
tak ingin menyebutkan namanya kepada kalian. Karena aku tak ingin tidak
dipercaya lagi untuk menjadi teman cerita mereka.
Selama ini mereka mau
bercerita kepadaku. Karena aku bisa menjaga rahasia mereka.
Tapi ada yang berbeda
dari dia hari ini. Tak seperti biasanya, saat patah hati ia selalu memilih
tempat khusus untuk bercerita kepadaku. Tapi tumben sekali ia berani bercerita
di tempat umum seperti ini.
“Aku sudah capek
disakiti.” Dia ikut menatap air hujan yang jatuh dari atap.
“kamu kenapa masih
belum punya pacar sampai saat ini?”
Pertanyaan itu seolah
menusukku, menyadarkan kalau dua tahun sudah aku memang tak pernah menggandeng
seorang perempuan pun yang kukenalkan kepada anak-anak organisasi kampusku. Termasuk
kepada dia.
“aku masih pengen
fokus sama kuliah.”
Aku tahu itu jawaban
terbasi yang pernah ada di dunia.
Dia hanya tertawa,
tak memperpanjang perihal itu. Sepertinya dia paham, kesendirianku adalah hal
yang memang tak penting untuk dibahas panjang lebar.
“Lalu apa rencanamu?”
“aku juga ingin
seperti kamu. Pengen fokus kuliah saja.”
Untuk pertama kalinya
aku merasa sangat ringan menanggapi curhat patah hatinya. Aku masih ingat
beberapa kali ia bercerita, aku harus menyiapkan tisu, harus berusaha sekuat
mungkin agar dia juga bisa ikut tenang. Tapi kali ini dia berbeda
seratusdelapanpuluh derjat.
Entah apa yang ada di
benaknya, tapi setidaknya itu menunjukan hal yang lebih baik dari sebelumnya.
Jika sebelumnya dia selalu memintaku untuk mencarikan seorang lelaki untuk
membuat hatinya sembuh, kali ini ia tak meminta hal itu.
“Tapi kenapa kamu
jadi seperti ini?”
Sekarang aku yang
mulai heran.
“Candra. Ada kalanya
kita harus berhenti membuat orang lain bahagia dengan cara mencintainya. Tapi kita
lupa mencintai diri sendiri. Selama ini, aku mencintai banyak lelaki, tapi aku
tak pernah benar-benar mencintai diriku sendiri. Aku mencintai mereka agar
hatiku bisa kembali pulih. Nyatanya, aku salah. Cinta sebenarnya tak begitu.”
Matanya terlihat
tulus menatapku. Aku tahu dia sedang jujur.
“Aku pengen seperti
kamu. Dua tahun tanpa kekasih, kamu tetap saja bahagia. Mungkin saatnya aku
menyadari, tak selamanya kesendirian itu menyakitkan. Terimakasih ya, sudah
memberiku banyak pelajaran tentang cinta. Terimakasih telah menjadi teman yang
selalu menemaniku saat patah hati.” Dia menepuk bahuku.
Hujan terdengar
semakin sendu. Untuk pertama kalinya, aku merasa gagal menjadi tempat
berceritanya.
Dua tahun sudah
kupendam rasa untuknya. Dua tahun sudah ku putuskan untuk mendengarkan ia
bercerita tentang patah hatinya. Namun hari ini ia memutuskan untuk berhenti
mengejar cinta. Dia sudah lepas dari ketakutannya akan kesendirian, sedangkan
aku tak pernah lepas dari ketakukan untuk menyatakan perasaan kepadanya.
***
***
--boy candra
Subscribe to:
Posts (Atom)