Pada akhirnya, kamu hanya perlu mensyukuri apa pun yang kamu miliki hari ini. Walau pun yang kau tunggu tak pernah datang. Walau pun yang kau perjuangkan tak pernah sadar dengan apa yang kau lakukan. Nikmati saja. Kelak, dia yang kau cintai akan tahu, betapa kerasnya kau memperjuangkannya. Betapa dalamnya rasa yang kau simpan kepadanya. Dia hanya pura-pura tidak tahu, atau mungkin tidak mau tahu sama sekali. Tidak usah hiraukan. Jika sampai hari ini kau masih memperjuangkannya, dan masih menunggunya, tidak masalah. Tidak ada salahnya dalam memperjuangkan cinta yang kau rasa.
Tapi satu hal yang mungkin bisa kau renungkan. Menunggu ada batasnya. Dan kau akan tahu kapan harus berhenti dan mulai berjalan lagi. Meningalkan tempat di mana kamu pernah berjuang sepenuh hati, tapi tak dihargai.
*Boy Candra
Friday, June 6, 2014
Monday, June 2, 2014
Bumi, pohon, dan api-api.
Aku masih
melakukan hal yang sama.
merindukanmu
tanpa perkara
mencukupimu
sebagai hamba
memelukmu
dalam doa-doa
mengecupmu
berselimutkan asa
untuk menjadi
cinta yang utuh,
bersama
menerjang apa saja yang membuat kau rapuh
dalam hujan
yang jatuh kau ku titipkan
agar sampai
ke bumi untuk menghidupi
kepada angin
kau kirim pergi
agar sampai
dimana tempat menjaga hati
pada pagi,
siang, malam, dan dinihari.
ku jaga rindu
yang berapi-api
agar kau
tetap hangat
agar aku tak
terbakar
meski kita
saling tak berkabar, percayalah
padamu pohon
ini berakar.
Puisi: Boy
Candra | 02/06/2014
Monday, May 26, 2014
Tetaplah merokok, dan biarkan kami hidup lebih lama.
Saya tidak bermaksud melarang orang-orang untuk merokok. Karena saya tahu, saya termasuk orang yang tidak suka
dilarang. Saya paham, bagi mereka yang candu rokok, itu adalah satu kesenangan.
Dan tak ada orang yang suka kesenangannya diusik. Tapi melakukan kesenangan
di atas ketidaknyamanan orang lain bukankah sesuatu yang kurang baik?
Saya menuliskan ini, karena saya resah. Saya ingin mengajak bertukar pikiran. Sekali lagi saya katakan; saya tidak ingin
melarang orang merokok, karena ayah saya juga salah satu di antaranya, saya
menghormati perokok, saya menghormati ayah saya. Tapi ada beberapa hal
yang perlu saya sampaikan, semoga bisa kita renungkan.
Saya tidak percaya; berhenti merokok membuatmu kaya.
Tapi saya percaya tidak merokok di tempat umum kamu membuat orang lain tetap
bahagia.
Jika kamu perokok, kamu tak usah berhenti merokok.
Cukup berhenti merokok di dekat orang yang tidak merokok.
Tak ada yang salah dengan merokok bagimu, tak ada
salahnya juga kan untuk jeda merokok dan tetap menjaga hak orang lain agar tak
terganggu?
Merokok adalah hak individu, tapi memberi udara
yang nyaman pada orang yang tidak merokok juga hak mereka.
Merokok di tempat umum, yang ada orang tidak
merokok di sana sama saja dengan merampas hak orang lain.
Salah satu cara menghargai teman yang tidak perokok,
adalah dengan tidak merokok di dekatnya.
Yang membuat kita melakukan kesalahan berkali-kali
adalah ketidakmauan kita untuk peduli. Kita menuntut untuk dihargai, namun
sering kali kita lupa menghargai hak-hak kecil orang lain.
Tetaplah merokok! Dan biarkan kami tetap hidup
lebih lama.
Boy candra
26/05/2014
Thursday, May 22, 2014
Menyembuhkan.
dear adik-adik yang curhat di email.
Menyembuhkan luka itu memang tak semudah makan sate Padang, dik. Apalagi kalau lapar, sebentar juga beres. Abis.
Menyembuhkan luka butuh proses yang agak panjang, sekarang tergantung kamu. Mau berlama-lama dalam kesedihan, atau bersyukur karena kamu tahu siapa dia sebenarnya.
Nggak kebayang kan kalau kamu tahunya setelah kalian menikah, atau setelah kalian punya anak? pasti akan lebih sakit.
Sekarang, kamu jalani saja hidup yang baru, buka hati lagi, selalu ada cinta baru yang mampu menyembuhkan. Meski kemungkinan terluka selalu ada. Tak usah takut! itulah hidup.
--boy candra
Menyembuhkan luka itu memang tak semudah makan sate Padang, dik. Apalagi kalau lapar, sebentar juga beres. Abis.
Menyembuhkan luka butuh proses yang agak panjang, sekarang tergantung kamu. Mau berlama-lama dalam kesedihan, atau bersyukur karena kamu tahu siapa dia sebenarnya.
Nggak kebayang kan kalau kamu tahunya setelah kalian menikah, atau setelah kalian punya anak? pasti akan lebih sakit.
Sekarang, kamu jalani saja hidup yang baru, buka hati lagi, selalu ada cinta baru yang mampu menyembuhkan. Meski kemungkinan terluka selalu ada. Tak usah takut! itulah hidup.
--boy candra
Wednesday, May 21, 2014
Ayah dan apa yang saya pikirkan.
Saya sangat menghormati ayah saya. Saya tidak
pernah merasa lebih pintar dari beliau. Meski tak jarang kami berbeda
pandangan. Namun bagi saya, tidak sepantasnya saya membantah apa yang beliau
pikirkan. Tidak pantas anak menyalahkan ayah. Meski kadang, apa yang saya
pikirkan sudah tidak sesuai dengan apa yang ayah saya pikirkan. Di satu hal
saya sadar; ayah adalah akar untuk anaknya. Tidak akan pernah pohon kuat, kalau
akarnya tidak kuat. Saya tidak akan pernah menjadi lebih kuat untuk berdiri
kalau ayah saya tidak punya pikiran seperti itu. Karena itu, saya harus belajar
memahami kenapa dia berpikir seperti itu.
Sering kali saya memiliki keresahan hati; ini tidak
seperti yang ayah pikirkan. Tapi, saya tidak akan membantah apa yang ayah saya
katakan. Bagaimana pun, sebisanya saya tidak ingin membuat ayah saya sedih. Dia
telah membesarkan saya, membuat saya mampu berpikir tentang banyak hal. Jika
nanti saya membantah apa yang ia katakan dengan apa yang saya dapatkan di luar;
secara tegas, tentu ayah akan sedih. Dan kesedihan ayah adalah salah satu kegagalan
anak paling parah.
Jika ayah berbeda pandangan, saya akan mencari
jalan pikirannya. Lalu mencerna kembali, jika ada kesempatan, saya akan
bertukar pikiran dengannya. Tanpa membantah pikiran beliau. Tanpa membuat
beliau merasa saya lebih pintar. Karena saya memang tak akan lebih pintar dari
ayah saya. Tapi saya bisa belajar berpikir tentang apa yang ayah saya belum
sempat pikirkan. Mungkin karena dia selalu memikirkan hidup saya; bagaimana
anaknya bisa sampai seperti saat ini, lebih baik dari hari ini. Dia mengabaikan
hal-hal yang akhirnya akan didebat oleh anaknya.
Semoga saya tidak melakukan hal itu. Saya tetap
ingin menjadi anak yang membuat ayah saya mengerti, saya adalah anak yang tidak
ingin membantah apa yang ia pikirkan. Biarlah kepala saya beradu argumen
sendiri. Biarlah isi kepala saya saling berontak. Asal ayah saya tetap percaya;
dia adalah ayah yang saya hargai sepenuh jiwa saya. Dia adalah ayah yang
membuat saya tetap tenang menjadi anaknya. Dia adalah ayah yang tidak akan
pernah saya tandingi, dan memang tak ingin saya kalahkan pandangan hidupnya.
Saya hanya ingin; ayah saya tetap menjadi dirinya.
Ayah yang selalu berpikir agar anaknya terus belajar menjadi hebat. Sebab
dengan begitu, ia akan selalu mendoakan, memikirkan, bagaimana anaknya agar jadi lebih hebat lagi. Karena
itu, saya tidak pernah ingin terlihat hebat di mata ayah saya. Agar dia tidak
berhanti mencintai saya.
12:57 wib
21 mei 2014
---Boy candra
Thursday, May 8, 2014
Surat kepada Adik.
Apa yang kau kejar, dik? Mencintai tanpa
dicintai itu terasa sakit. Dan terlebih lagi, kau mencintai dia tapi dia hanya
berpura-pura mencintaimu. Kau merasakan perihal itu, namun kau tak tega
melepaskannya. Sungguh malang nasibmu dik, kau tahu kau tak bahagia. Tapi kau
tetap saja memaksakan semuanya. Jika kini kau terluka, siapa yang salah?
Dik, kau harus ingat kata ibu kita;
kebahagiaan tak perlu kau tumpangkan kepada siapa pun. Tidak juga pada ibu!
Lalu kenapa kau malah menaruh harap kepada orang yang jelas-jelas kau tahu dia
hanya memberikan hal semu.
Ayolah dik. Coba berpikir jernih. Kau telah
dibutakan oleh hal yang sama sekali bukan bahagiamu. Orang yang hanya akan kau
sesali suatu hari nanti. Bahwa kamu telah menyia-nyiakan waktumu untuk membuat
ia mengerti. Padahal kau tahu pasti, dia tak akan pernah berubah. Ia hanya
berpura-pura. Dan kau juga paham betul, kebahagiaan bukanlah sebuah
kepura-puraan.
Aku hanya kakak yang tak tega melihatmu
terluka. Tapi, aku juga tak bisa memaksamu untuk melepaskannya. Karena seperti
yang ku katakan kepadamu tadi, kebahagiaan tak pernah bisa ditumpangkan.
Termasuk kepadaku, kakakmu sendiri. Bahagiakanlah dirimu, dik, dengan
melepaskan yang kau tahu dia hanya berpura-pura membuatmu bahagia.
8/05/2014
Kakakmu,
yang mungkin tak bisa membahagiakanmu.
Boy
Candra.
Sunday, May 4, 2014
Kematian.
Aku
turut berduka atas kematian kenangan kita. Tenangkanlah hatimu, percayalah:
semua akan baik-baik saja. Tak usah kau pikirkan lagi. Kenangan yang telah mati
akan kembali ke asalnya. Ia tak akan lagi mengikat kita. Tak akan lagi
membangunkan kita di tengah malam di antara derasnya rintih hujan. Tidak akan
juga datang pada tempat-tempat di mana kita pernah memanjatkan harapan. Ia kini
telah mati. Perihal kematian, tak ada yang bisa kembali. Karena Tuhan tak
pernah bercanda untuk sebuah nama. Kenangan kita sudah tua, selayaknya ia
melipat dada. Biarlah ia pergi. Pelan-pelan kita akan kembali, berjalan
menyusuri ruang-ruang sepi, melintas di antara raung-raung nyeri.
Aku
tahu, kematian selalu mendatangkan sedih, juga pedih. Namun kau harus paham,
semuanya akan kembali pulih seiring lelah diculik malam. Hari ini ku tanamkan
kisah kita di batu nisan merah muda. Biarlah ia melapuk bersama tangis yang
ditinggalkan. Lupakan segalanya. Jika tak bisa semudah kita bicara, belajarkan
untuk percaya, bahkan luka akan sembuh
pada waktunya. Lepaskanlah kematian ini, karena kenangan hanya butuh ruang
sunyi. Agar ia tak lagi datang menusuk relung hati.
04/05/ 2014
--boy
candra.
Subscribe to:
Posts (Atom)