Friday, November 27, 2015

Hal-hal yang Membuatku Gagal Pergi dari Kota Ini





Kamu dan hal-hal yang pernah kita lalui adalah alasan bagiku untuk menetap di kota ini. Meski beberapa rencana seakan terancam sebagai kenangan belaka. Namun, hatiku tak pernah bisa kupungkiri. Aku tak pernah benar-benar bisa beranjak dari segala sesuatu perihal kamu. Segala hal yang pernah dengan kesungguhan kuimpikan. Sesuatu yang sampai saat ini masih kupertahankan. Masih kuperjuangkan.

Bagaimana mungkin aku bisa pergi, jika saja kamu masih menjadi seseorang yang tinggal di hati. Orang yang dengan segala kecemasan kubiarkan menetap di sana. Harapku pun masih sama. Bisa menatap matamu berlama-lama. Bisa menjagamu sepenuh jiwa. Dan tak ingin ke mana-mana saat kau lelah berkelana. Aku akan menemanimu bahkan dalam hal terburuk yang kau punya.

Jangan sedih jika semesta sedang mencoba membuat hatiku semakin patah. Aku mungkin tidak terlalu kuat untuk berdiri sendiri. Namun, percayalah, perasaan yang ada di hati akan menjagamu sampai nanti. Kamu akan tetap menjadi seseorang yang istimewa di sana. Yang akan kudekap dengan sedih dan bahagia. Sebab jatuh telah membuatku menjadi cinta. Sebab utuh pada hakikatnya bukan hanya mampu berpelukan semata. Jauh lebih dalam dari itu, saat kita tetap mampu menyatukan doa, meski tak tahu bagaimana akhirnya kisah kita.

Aku masih bertahan di kota ini. Menantimu untuk meneruskan rencana-rencana. Untuk melanjutkan segala hal yang dengan cinta pernah membuat kita bahagia. Jika pun suatu hari nanti aku akhirnya pergi, bukan berarti aku telah meninggalkanmu di sini. Kamu dan segala hal yang pernah menyatu bersama rinduku, akan tetap kubawa. Sejauh apa pun mengembara. Sebab. aku percaya, kau juga akan terus memperjuangkan kita. Bagaimana pun caranya.


Boy Candra | 27/11/2015



Tuesday, November 17, 2015

Masa Penjualan Khusus Edisi bertdd buku Satu Hari Di 2018




Halo teman-teman pembaca, kali ini saya mau mengabari info perihal pemesan buku kumcer romance terbaru saya, ‘Satu Hari Di 2018’ terbitan Media Kita.

“Sebab Akhirnya Aku Yang Harus Membuatmu Patah Hati.”



Perasaan itu tetap saja ada. Meski berkali-kali aku melupakannya. Berkali-kali lipat pula ia tumbuh. Apakah kau tidak pernah merasakan hal yang sama? Sementara dulu, seringkali kita tanpa disengaja sama-sama ingin menelepon, sama-sama ingin mengucapkan rindu yang sama. Apakah semudah itu bagi lelaki untuk melupakan? Apa kau tidak pernah tahu bahwa perempuan seringkali begitu sulit lepas dari kenangan. Lalu, sudah matikah hatimu pada janji-janji yang kau katakan padaku?
Buku “Satu Hari Di 2018” edisi khusus –bertanda tangan penulis- ini hanya tersedia 400 buku se Indonesia. Pastikan kamu menjadi pemilik salah satu di antaranya. Karena itu, usahakan menjadi pemesan pertama –sampai pada pemesan ke 400. Setelah itu, kamu akan mendapat buku edisi non ttd. Pemesanan buku ini dimulai tanggal 20 november 2015, pukul 00:00 Wib –hingga 30 november 2015. Dan hanya bisa dipesan di toko buku berikut:
1: @bukubukularis website: www.bukubukularis.com
2: @buku_plus website : www.buku-plus.com
3. @republikfiksi website: www.republikfiksi.com
4. @bukabuku website: www.bukabuku.com
5. @bukukita website: www.bukukita.com
Ingat, pastikan kamu menjadi pemesan pertama –hingga pemesan ke 400, untuk mendapatkan edisi khusus bertanda tangan penulis.

Selamat rebutan, semoga kebagian!

Catatan: buku ‘Satu Hari 2018’ diperkirakan edar di toko buku sekitar bulan desember 2015.

Salam,

Boy Candra



Seseorang Yang Masih Mencemaskanmu






Sejak sore kemarin debar dadaku terasa tak menentu. Aku merasa cemas namun tak mengerti apa yang sedang kucemaskan. Andai bisa memilih suasana hati, aku ingin merasakan hal yang tenang saja. Bukan merasakan perihal seperti ini. Di dalam pikiranku tak pernah lepas dari pertanyaan bagaimana keadaanmu di  sana? Apakah semuanya baik-baik saja? Apakah semuanya masih menjadi seperti seharusnya? Aku benar-benar tidak bisa tenang, meski aku telah mencoba untuk tidak peduli. Namun perasaan di hati tak bisa kubohongi. Aku seolah tak mampu mengendalikan diriku.

Namun aku sadar kau sedang berusaha menjauhiku. Kau sedang belajar melupakan hal-hal yang selalu kita ingat. Kau sedang belajar membunuh perasaan yang tetap bertahan hidup di hatimu. Kau sedang mengkhianati dirimu sendiri. Mencoba menyangkal hal-hal yang masih membenam di dadamu. Aku tahu siapa kamu, aku merasakan sedih yang menggelayuti matamu. Kau mengorbankan dirimu untuk sesuatu yang kau anggap balas jasa. Padahal kau sebenarnya tahu balas jasa tidak selalu harus begitu. Maafkan aku yang juga tak pernah bisa melupakanmu. Seseorang yang masih saja mencemaskan keadaanmu.

Aku bahkan tak pernah bisa merelakanmu. Akulah seseorang yang tak ikhlas kau bersama orang lain. Sebab aku tahu perasaanmu dan perasaanku bukan hal yang harus dikorbankan. Namun, kau terlalu cepat menyerah. Katamu, kau tak sekuat aku menghadapi hidup. Semantara kau belum menjalani sepenuhnya bersamaku. Bagaimana mungkin kau menyangkal hal-hal yang dulu kau percaya. Aku mengenal siapa kamu. Kau bukan seseorang yang lemah seperti itu. Hanya saja beberapa hal di dunia ini memang terlihat menakutkan, dan kau mungkin ketakutan akan hal itu.

Aku akan berusaha untuk terlihat baik-baik saja, kekasih. Rasa sedih ini biarlah kutenangkan dengan segala hal pedih. Aku hanya sedang mencemaskanmu. Aku sungguh tidak bisa membayangkan kau menjadi orang yang tidak kucintai lagi. Sudah terlalu dalam perasaan yang kita tanam. Sudah tumbuh dan rimbun hingga aku tak tahu cara yang baik untuk mencabutnya. Aku tak yakin bisa menenangkan diri jika kau benar-benar lepas pergi. Andai bisa memilih, aku lebih suka berdebat denganmu. Perihal siapa yang benar dan salah di antara kita. Aku sungguh tidak suka tidak mendapati  apa pun kabarmu. Semuanya terasa lebih menyakitkan, saat kau mencoba benar-benar menghilang. Sementara kita tahu, kau dan aku masih saling menyimpan diri dalam ruang hati. Percuma kita saling bunuh, jika setiap tusuk pisau dan angin di dada selalu mampu membuat rindu baru tumbuh.

Boy Candra | 17/11/2015


Monday, November 16, 2015

Sebuah Usaha Menulis Buku Puisi Untukmu





Beberapa bulan lalu aku bertemu dengan salah satu editor dari penerbit  yang menerbitkan buku-bukuku. Kami duduk berdua menghabiskan petang hari dengan kopi dan berbagi cerita. Entah sebab apa, kami seperti dua orang yang sudah kenal lama. Begitu akrab. Dan aku bahkan tidak segan mengatakan apa saja yang sedangku rencanakan. Beberapa di antaranya, perihal buku baruku yang akan terbit, dan draf buku puisi yang sudah kusiapkan dari tahun lalu (bagian ini kau tahu persis bagaimana usaha kerasku). Aku dengan sepenuh hati menceritakan kepadanya, betapa aku ingin sekali menghadiahimu  nanti. Editor itu tersenyum,  aku memperlihatkan beberapa puisi yang sudah kutulis. Dia memintaku segera menyelesaikan draf buku puisi itu. 

Aku bersemangat, seperti yang pernah kuceritakan kepadamu. Menerbitkan buku puisi adalah salah satu impian besarku. Aku membutuhkan waktu hampir setahun untuk menulisnya, dan tidak kurang dua bulan untuk menyuntingnya kembali menjadi satu draf buku puisi utuh. Draf buku puisi yang akhir bulan lalu kukirim ke editorku. Dan kabar baiknya, editor dan penerbitku tertarik untuk menerbitkan buku puisi itu. Kau tahu? Satu impian besar bagiku itu mulai terasa semakin dekat. Dan betapa aku bahagia akan semua itu. Namun aku sedih, kita sekarang terasa semakin jauh. Meski di hatiku kau tetap saja seseorang yang kucintai dengan utuh.

Seperti yang pernah kuceritakan kepadamu. Suatu hari nanti, puisi-puisi akan menjelma rindu. Akan menjelma rasa kangen akan pelukmu. Akan menjelma keinginan bertemu dan menghabiskan malam bersamamu. Lalu, seperti biasa, kau akan memintaku membacakan beberapa puisi untukmu, sebelum kau tertidur  di pelukku. Hari itu kita akan mengenang banyak hal yang terjadi di kota ini. Perihal yang telah kita usahakan sepenuh jiwa, sebanyak-banyaknya doa. Sepanjang petang kita akan berkeliling kota. Mengingat hal-hal yang membenam dalam jiwa. Melupakan segala sesuatu yang sempat diberi nama luka.

Aku mencintaimu, kekasihku. Perasaan yang tak pernah terhapus. Dalam puisi-puisi kutenggelamkan diri. Berharap abadi meski beberapa berupa perasaan sedih dan nyeri. Kelak, jika buku puisi ini lahir. Percayalah, itu hanya sebagian kecil yang membuktikan cintaku padamu tak pernah berakhir. Barangkali akan memaksa pulang padaku, atau membuatmu semakin menjauh dari tubuhku. Namun satu yang pasti, bagaimana pun kau mencoba menjauh pergi, perasaan yang tumbuh di hatimu bukanlah sesuatu yang bisa kau bunuh mati. Sebab, cintaku padamu akan tumbuh berkali-kali. Menjelma menjadi udara pagi, menjadi terik tengah hari, atau petang hari. Seperti mata yang tenang menunggu sesuatu yang seharusnya pulang. Akan sesak dadamu jika yang datang hanyalah aku sebagai kenang. 

Boy Candra | 16/11/2015

Friday, November 13, 2015

Sekilas Tentang Buku Satu Hari Di 2018

Ini adalah buku keenam saya yang akan terbit bulan ini -november 2015. Buku ini saya tulis akhir tahun lalu, sejalan dengan patah hati waktu itu. Saya tidak mau menjanjikan apa pun untuk kamu dalam buku ini, satu yang pasti buku ini saya tulis dengan perasaan sedih.


Sekilas isi kutipan buku 'Satu Hari Di 2018'.  

“Kalau cinta tidak harus memiliki, kenapa kau harus mencintai?”

Perasaan itu tetap saja ada. Meski berkali-kali aku melupakannya. Berkali-kali lipat pula ia tumbuh. Apakah kau tidak pernah merasakan hal yang sama? Sementara dulu, seringkali kita tanpa disengaja sama-sama ingin menelepon, sama-sama ingin mengucapkan rindu yang sama. Apakah semudah itu bagi lelaki untuk melupakan? Apa kau tidak pernah tahu bahwa perempuan seringkali begitu sulit lepas dari kenangan. Lalu, sudah matikah hatimu pada janji-janji yang kau katakan padaku?

Beberapa orang tak akan percaya, bahwa kenyataan kadang terlalu sakit baginya. –hal yang menjadi alasan menulis cerita-cerita di buku ini.

*** 

Buku ini dijadwalkan pre-order mulai 20 november 2015, dan hanya ada 400 buku edisi bertanda tangan penulis dijual di toko buku online yang sudah ditentukan (info lengkap menyusul). Untuk edar di toko buku direncanakan awal desember 2015.

Selamat menanti!


Salam,

BOY CANDRA